3 Tips Menghadapi Anak Generasi Digital

Ilustrasi: freepik.com

Keluarga adalah fondasi dasar dalam pembentukan kepribadian anak, dan orang tua adalah modelnya. Namun sangat tidak mudah menjadi orang tua saat ini. Anak-anak semakin kritis dan lingkungan juga semakin memprihatinkan.

Ditambah di sisi yang lain, orang tua sering kali menuntut anak berprestasi baik tapi kurang memenuhi kebutuhan anak, khususnya kebutuhan psikis. Hal ini sangat rentan mengakibatkan anak merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut. Bahkan akan amat berbahaya jika kemudian anak berpaling pada seseorang yang kurang bertanggung jawab, belum lagi dengan adanya perkembangan teknologi yang amat pesat yang jika tidak disikapi secara positif akan berdampak buruk bagi perkembangan anak.

Sebagai orang tua, kita tidak bisa melawan arus. Namun kita juga tidak bisa berpangku tangan tanpa mengambil suatu tindakan apapun, sehingga pengasuhan yang tepat diperlukan untuk menghadapi anak-anak generasi digital ini, di antaranya melalui pola pengasuhan positif.

Pengasuhan positif adalah pengasuhan berdasarkan kasih sayang dan saling menghargai, membangun hubungan yang hangat, serta menstimulasi tumbuh kembang anak. Pengasuhan positif ini adalah sebagai upaya memberikan lingkungan yang bersahabat dan ramah bagi anak, sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.

Ada tiga hal penting dalam pengasuhan positif tersebut, yakni mengenal dan memperhatikan tahap perkembangan anak, komunikasi efektif, dan disiplin positif. 

1. Mengenal dan memperhatikan tahap perkembangan anak

Orang tua sangat perlu mengenal dan memperhatikan tahap perkembangan anak ini, khususnya dalam segala aktivitas anak. Apalagi anak-anak saat ini adalah para generasi digital yang sejak lahir sudah mengenal peralatan digital. Sehingga setiap saat mereka selalu beraktivitas dengan piranti digitalnya.

Ketika anak-anak masih balita, orang tua bisa lebih banyak waktu untuk mendampingi mereka karena memang anak belum bisa dilepaskan dari orang tua, namun saat usia mereka terus bertambah, bukan berarti orang tua dapat melepaskan mereka. Membiarkan mereka ‘anteng’ dengan tontonan mereka tanpa ada pengawasan dari orang tua.

Bagaimanapun orang tua tidak disarankan membiarkan anak berselancar sendiri secara mandiri di dunia maya. Bahkan saat anak sudah remaja pun orang tua harus tetap mendampinginya. Karena anak-anak yang berusia labil inilah yang sangat rentan dipengaruhi orang-orang yang tak bertanggung jawab.

2. Membangun komunikasi yang efektif

Komunikasi yang efektif dilakukan dengan menggunakan bahasa dan sikap yang positif untuk mendukung anak. Jika ingin membangun hubungan baik dengan generasi digital ini sebenarnya sangat sederhana. Duduk bersama mereka, libatkan mereka untuk berpartisipasi. Buat tujuan bersama-sama dan minta saran dan kritik dari mereka. Biarkan mereka mengambil keputusan, dan kenali proses belajar mereka. Bahkan jika digunakan secara tepat, digital akan berguna untuk memudahkan komunikasi orang tua dan anak. Karena sering kali anak merasa enggan membuka komunikasi dengan orang tua, terlebih tentang aktivitas yang dilakukannnya di dunia maya.

Generasi Digital akan sangat malas bila disuruh membaca ensiklopedi atau buku bacaan apapun, akan tetapi mereka toh tetap menjadi anak yang tahu banyak hal. Hal ini karena mereka selalu berpacaran dengan google dan search engine yang lain.

Kemampuan belajar mereka jauh lebih cepat karena ada di ujung jari mereka. Tak heran pertumbuhan Facebook, Twitter, Instragram, dan Youtube begitu cepat sehingga dirasa “mengerikan”. Karena di situs-situs itulah anak-anak ‘generasi digital’ ini menemukan jati diri mereka sendiri. Mereka memiliki kebebasan dan kontrol sendiri.

Oleh karena itu, dalam hal ini orang tua harus berusaha mencoba memahami, setidak-tidaknya mengetahui, tentang dunia digital yang tengah berkembang saat ini. Hal ini agar orang tua dan anak mampu terlibat dalam komunikasi yang efektif.

Ketika anak merasa ‘nyambung’ saat ngobrol dengan orang tua mereka, anak akan banyak bercerita, yang tentunya hal ini bertujuan agar orang tua tahu bagaimana aktivitas anak di jejaring sosialnya. Namun orang tua juga harus berhati-hati jangan sampai dia terbuai dengan candu digital ini yang justru membuat orang tua jauh dari anaknya (baca artikel ‘Antara Aku, Gadget, dan Orang Tuaku).     

3. Membentuk sikap disiplin positif

Artinya melakukan pembentukan kebiasaan dan tingkah laku yang positif dengan cinta dan kasih sayang. Orang tua sering merasa ‘bosan’ ketika berulang kali mencoba mendisiplinkan anak, karena berulang kali pula anak melanggarnya. Padahal, proses mendisiplinkan anak membutuhkan waktu, ketelatenan, konsistensi, dan yang utama adanya ‘model’ dari orang tua sendiri. Misal, anak tidak dibolehkan menggunakan alat digital setelah magrib atau menjelang malam, dan membiasakan mereka dengan mengaji dan belajar.

Namun, di saat yang bersamaan, justru orang tuanya-lah yang tidak bisa lepas dari gadget sekalipun saat mendampingi anak belajar. Anak tentu akan protes. Alhasil anak akan menolak untuk mengaji dan belajar. Dalam hal ini orang tua cenderung menyalahkan anak, dan tidak mau mengakui kesalahannya yang melanggar aturan. Jadi, ketika orang tua juga tidak mau bersikap disiplin, mustahil anak akan mau melakukannya juga.[]

Silvia Rahmah
0 0 vote
Article Rating

Silvia Rahmah

Magister Pendidikan Quran Hadis. Berpengalaman di dalam dunia jurnalistik dan editor di sejumlah penerbit nasional. Ia juga menyukai pengasuhan anak-anak atau parenting.

Silvia Rahmah
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x