4 Bentuk Komunikasi antara Pasangan Suami-Istri

Dalam pernikahan, komunikasi menjadi faktor yang penting. Tidak jarang karena buruknya komunikasi antara pasangan suami-istri mengakibatkan masalah yang serius.

Menurut buku “Fondasi Keluarga Sakinah, Bacaan Mandiri Calon Pengantin” yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI, ada empat bentuk komunikasi antara pasangan suami istri.     

1. Komunikasi Menang/Kalah

Dalam model komunikasi jenis ini ada yang menang dan ada yang kalah. Ketika ada keberanian tinggi berhadapan dengan  tenggang rasa rendah  maka yang terjadi adalah ada yang menang dan ada yang kalah.

Kita bisa saja menang karena kita berani memperjuangkan  keinginan kita, dan pasangan kita kalah karena ia tidak  mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Pihak yang menang  tidak mempertimbangkan kebutuhan pasangannya.

Contohnya: suami melarang istri bekerja, tanpa  mempertimbangkan kebutuhan istri untuk mengamalkan ilmunya.

2. Komunikasi Kalah/Menang

Model komunikasi jenis ini serupa dengan jenis yang pertama. Jika keberanian rendah berhadapan dengan  tenggang rasa tinggi  maka yang terjadi adalah kalah/menang. Kita kalah karena kita tidak berani menyampaikan  kebutuhan kita, karena kita tahu pasangan kita menginginkan hal yang berbeda. Kita memiliki tenggangrasa yang terlalu tinggi dan mengabaikan kebutuhan kita sendiri.

Sebagian besar korban KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) berada dalam kondisi ini. Mereka tidak ingin menjadi korban, namun tidak berani memperjuangkan haknya. Mereka juga sangat bertenggangrasa dan bahkan membela perilaku  pasangannya dengan alasan-alasan seperti “maklum suami/istri saya sedang banyak masalah di kantor.”

3. Komunikasi Kalah/Kalah

Pada model komunikais jenis ini,  keberanian rendah berhadapan dengan tenggang rasa yang juga rendah. Maka yang terjadi adalah kalah/kalah.

Di sini, pasangan suami-istri tidak memiliki keberanian untuk menyampaikan kebutuhannya sekaligus juga tidak mampu bertenggangrasa kepada kebutuhan pasangannya.

Kondisi yang akan tercipta adalah kondisi di mana kedua belah pihak tidak terpenuhi kebutuhannya tanpa bisa memahami kebutuhan pasangannya. Pasangan dikuasai rasa tidak puas  kepada pasangannya.

Contohnya, suami/istri yang sama-sama tidak mau membuka diri mengenai penghasilan pribadinya tetapi pada saat yang sama keduanya berprasangka bahwa pasangannya egois dan mau menang sendiri.

4. Komunikasi Menang/Menang

Pada model komunikasi jenis ini ada keberanian tinggi berhadapan dengan  tenggang rasa juga tinggi. Maka komunikasi ini akan menghasilkan menang/menang. Menurut buku “Fondasi Keluarga Sakinah” ini, inilah inti dari prinsip musyawarah dan perdamaian  (ishlah).

Bentuk komunikasi ini disebut sebagai  yang paling ideal, di mana kedua belah pihak menunjukkan sikap terbuka untuk menyampaikan pendapat dan kebutuhannya, sekaligus menimbang kebutuhan pasangannya. Kedua belah pihak siap mencari titik temu dari  kebutuhan-kebutuhan yang berbeda.

Pasangan suami-istri meninggalkan sikap siapa benar siapa salah. Mereka memilih mencari jalan agar tidak ada yang dikorbankan dari keputusan yang akan diambil.

Contohnya, suami dan istri sama-sama ingin bekerja untuk  mengamalkan ilmu, maka keduanya mencari titik tengahnya. Pasangan suami-istri memilih dari berbagai alternatif, semisal bekerja paruh waktu, atau bekerja dari rumah, dan seterusnya.

Demikian empat model komunikasi dalam pernikahan yang sering terjadi. Jenis komunikasi menang/menang atau sering disebut dengan istilah komunikasi Win/Win adalah sudah selayaknya menjadi pilihan kita semua. Karena setiap orang tentunya ingin menang dan tidak mau kalah. Atau pada prinsipnya manusia tidak ingin menari di atas penderitaan orang lain. ***

0 0 votes
Article Rating
Visited 1 times, 1 visit(s) today

admin

Admin qobiltu bisa dihubungi di e-mail qobiltu.co@gmail.com

admin
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x