7 Kondisi Perempuan yang Wajib Bayar Fidyah

Ilustrasi: freepik

Di dalam Kitab al-Fiqh al-Manhaji Mazhab Syafi’i, yang ditulis oleh Syekh Musthofa al-Khin, Syekh Ali asy-Syarbaji, dan Syekh Musthofa al-Bugha menyebutkan bahwa ada tujuh kondisi perempuan berkewajiban membayar fidyah.

Tujuh kondisi perempuan berkewajiban membayar fidyah ini menjadi catatan bagi perempuan yang meninggalkan puasa selama bulan suci ramadhan.

Tujuh kondisi perempuan berkewajiban membayar fidyah ini juga biasanya disebabkan atas kesalahan atau kelalaian tertentu selama bulan suci ramadhan.

Berikut tujuh kondisi perempuan yang berkawajiban membayar fidyah :

Pertama, perempuan yang meninggalkan puasa, lalu tidak sempat membayar ganti puasa di hari lain (qadha) sampai datang bulan puasa berikutnya, karena lalai, malas, atau menganggap remeh, maka pada tahun berikutnya, dia berkewajiban qadha puasa dan ditambah bayar fidyah setiap hari sebesar 600 gram beras.

Kedua, perempuan yang wafat dengan kewajiban qadha puasa, padahal ada waktu untuk melakukannya tetapi belum sempat melakukannya, maka puasa qadha-nya boleh dilakukan keluarganya, atau orang lain atas seizin keluarga atau atas wasiat dari perempuan tersebut. Jika tidak ada satupun yang berpuasa untuk mengganti qadha-nya, maka wajib dibayarkan fidyah, setiap hari 600 gram beras.

Ketiga, perempuan yang lanjut usia pada saat datang bulan Ramadan, mereka tidak diwajibkan untuk berpuasa. Sebagai gantinya, cukup dibayarkan fidyah, setiap hari 600 gram beras.

Keempat, perempuan yang sakit menahun, atau sakitnya secara medis tidak lagi bisa diharapkan untuk sembuh, ketika datan bulan Ramadan, juga tidak diwajibkan berpuasa. Bagi mereka, cukup setiap hari membayar fidyah 600 gram beras.

Kelima, perempuan hamil yang meninggalkan puasa Ramadan karena khawatir bayinya tidak memperoleh asupan gizi yang cukup, ia wajib membayar qadha puasa dan ditambah bayar fidyah setiap hari 600 gram beras. Kalau meninggalkan puasa karena khawatir pada dirinya akan sakit, cukup qadha puasa saja tanpa perlu bayar fidyah.

Keenam, perempuan yang sedang menyusui sama dengan yang hamil di atas. Jika meninggalkan puasa Ramadan karena khawatir bayinya tidak memperoleh asupan gizi yang cukup, ia wajib membayar qadha puasa dan ditambah bayar fidyah setiap hari 600 gram beras. Kalau meninggalkan puasa karena khawatir pada dirinya akan sakit, cukup qadha puasa saja tanpa perlu bayar fidyah.

Ketujuh, perempuan yang meninggalkan puasa karena ingin menolong orang lain, seperti orang tenggelam yang harus ia tolong, tetapi ia perlu makan dulu agar kuat berenang, hukumnya sama dengan yang hamil dan menyusui. Ia wajib mengganti puasa dan ditambah bayar fidyah setiap hari 600 gram beras. Wallahu a’lam. []

Tulisan ini pertama ditayangkan di Mubadalah.id

0 0 votes
Article Rating

admin

Admin qobiltu bisa dihubungi di e-mail qobiltu.co@gmail.com

admin
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x