Aisyah

IlustrasI: freepik.com

Lagu berjudul  Aisyah istri Rasulullah yang kini sedang ngepop membawa saya untuk terus mencoba mencari sebuah ilustrasi tentang sebuah kisah keluarga Rasulullah dengan istri tercintanya itu, pun kisah bagaimana Aisyah dibesarkan dalam keluarganya.

Keluarga, tidak pelak lagi menjadi salah satu faktor penting bagi melejitkan seseorang. Kebahagiaan, kemerdekaan dan kebebasan menjadi hal yang berharga dan asset bagi sebuah sejarah manusia. Melalui kisah Aisyah barangkali kita dapat mengambil hikmahnya.

Binti Abu Bakar

Aisyah adalah muslimah beruntung yang hingga akhir hayatnya ia menyandang ummul mukminin karena relasinya yang tercatat sebagai istri Rasulullah. Seperti apakah Aisyah kecil dibesarkan dalam keluarganya sehingga Rasul begitu cinta dan bangga memilikinya.

Dalam sejarah tercatat bahwa Aisyah binti Abu Bakar bin Utsman sering disebut sebagai Ummu Abdillah dan digelari Ash-Shiddiqah yang memiliki arti “wanita yang membenarkan”. Ia lahir empat tahun setelah Nabi Muhammad diangkat sebagai seorang nabi. Panggilannya adalah Al-Humaira’ yang artinya kemerah-merahan adalah panggilan kesayangan Nabi yang mengimajinasikannya sebagai muslimah cantik dan lembut.  Kedekatannya sebagai anak tidak hanya kepada ayahnya sang Khalifah Abu Bakar yang terkenal tegas dan pemberani. Tetapi juga kepada ibunya Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir dan juga kepada kakak perempuannya, Asma binti Abu Bakar.

Kebahagiaannya sebagai anak dalam keluarga Abu Bakar melejitkannya menjadi anak yang ekspresif. Ia dikenal sangat puitis. Ia tunggu ayahnya pulang dengan untaian untaian puisi “Ayah adalah penyelamat kami. Bertemu dengan ayah dalam keadaan sehat adalah harapan kami,” begitulah puisi Aisyah untuk sang Ayah setiap menunggu ayahnya pulang.

Keluarga yang harmonis yang dialami Aisyah dengan kasih sayang ayah ibu dan kakak melejitkan nya pula menjadi anak yang berani. Segala rasa ingin tahunya dapat dilampiaskan terutama kepada kakak nya,  hingga kakaknya, Asma, menganggapnya sebagai ‘pertanyaan’ yang tak kunjung selesai. Dari situasi keluarga yang demikianlah Aisyah menjadi sosok yang akhirnya dikenal sebagai perawi hadits bahkan ialah juga ulama perempuan dengan murid murid yang menjadi ulama besar di zamannya. 

Tercatat bahwa Aisyah ra meriwayatkan hingga 2.210 hadits, sekitar 174 hadits termaktub dalam kitab Sahih Bukhari dan Muslim. Salah satu murid beliau adalah Az Zuhri, salah satu tabiin yang sangat mengunggulkan Aisyah dengan pernyataannya “Seandainya ilmu Aisyah, ilmu semua istri Nabi SAW dan ilmu semua wanita dikumpulkan, maka ilmu Aisyah lebih afdhal.” Hal ini tak lepas dari didikan ayahanda, Abu Bakar, yang tak pernah memberikan batas baginya untuk bertanya dan menyampaikan pendapat bahkan ketika hak berkata dan berpendapat hanya ada pada orang-orang yang memiliki kekuasaan dan kekuatan pada saat itu. Aisyah selalu percaya bahwa selamanya ia adalah putri kata-kata. Ia jadikan sebagian besar kekuatannya dalam berkata sebagai tanda syukurnya kepada Allah dan sekuat tenaga memohon pertolongan kepada-Nya. Aisyah cerdas dan mencerdaskan. Ia baik dan menyebarkan banyak kebaikan.

Sebagai Istri Rasulullah

Ketika Khawlah datang kepada Rasulullah untuk menawarkan Saodah dan Aisyah sebagai pengganti Khadijah. Aisyah waktu itu masih berusia belia. Setelah bersama Saodah selama 3 tahun dan Saodah mengkhidmatkan diri sebagai istri dan ibu bagi anak anak Rasulullah barulah Aisyah masuk ke dalam rumah tangga Rasul. Ada hal yang istimewa sebenarnya yaitu ketika hendak mulai menerima Aisyah menjadi Istrinya, sebenarnya Rasul hendak menceraikan Saodah terlebih dahulu. Namun, Saodah akhirnya memberikan segala haknya untuk Aisyah demi untuk tetap menjadi salah satu ummu mukminin, menjadi salah satu istri Rasul yang di jamin surga. Sampai disini sesungguhnya sudah terasa bahwa Rasul sebagai suami sesungguhnya sosok yang sangat ingin menjaga hati istri dengan segala hal privilegenya. 

Pribadi Aisyah yang banyak bertanya, merdeka mengutarakan setiap pendapat pun sesungguhnya menjadi salah satu pengikat cinta Rasul kepadanya. Kehidupan keluarga Rasulullah bersama Aisyah menjadi begitu bergairah dan bersemangat karena ada sosok istri yang selalu tampil membahagiakan, terbuka dan juga tak pernah merasa bersaing dengan anak-anak Rasulullah sebagai anak tirinya, justru keterikatan ia kepada Fatimah selalu diriwayatkan dalam hadits haditsnya. Aisyah menjadi istri yang unggul meski kecemburuannya dikatakan 5 kali lipat dari rasa cemburu istri-istri yang lain.

Begitu cintanya Rasul kepada Aisyah sehingga diceritakan dalam satu hadits, suatu ketika Amr bin al-Ash bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” “Dari kalangan laki-laki?” tanya Amr. Beliau menjawab, “Bapaknya.” (HR. Bukhari (3662) dan Muslim (2384)

Dalam riwayat lain, berkata Atha’, “Aisyah adalah wanita yang paling faqih dan pendapat pendapatnya adalah pendapat yang paling membawa kemaslahatan untuk umum.” (Lihat al-Mustadrok Imam Hakim (4/11)).

Hidupnya bersama Rasulullah sungguh telah menjadi pemantik semangat Aisyah dalam mencari dan menyiarkan ilmu. Aisyah pula sebagai satu-satunya wanita yang dibela kesuciannya dari langit ke tujuh.  Ketika itu Aisyah merasakan sedih karena sebab fitnah yang datang kepadanya. Fitnah yang datang demi menjatuhkan Rasulullah dan menyakiti Rasulullah dengan mempertanyakan kesucian istrinya. Aisyah menghabiskan malam-malam bersama ayah dan ibunya dengan menangis dan jatuh sakit. Meratap dan berdo’a. Aisyah segera sadar tidak ada tempat untuk bersandar selain kepada Allah.Terbesit dalam pikirannya Ibunda Maryam yang berlindung pada kesucian. Bagaimana ia mengingat sosok Maryam sebagai contoh utama bagi semua kehormatan, kesucian, dan ketaatan kepada Allah pun tak luput dari fitnah. Ketika penduduk bumi di seluruh bagian dunia ini pun ragu pada dirinya. Aisyah pun menyadari bahwa ujian paling berat di dunia ini bagi seorang wanita adalah fitnah mengenai kesucian dan kehormatannya. Hingga Barirah, kerabat Aisyah, yang ketika ditanya Rasulullah tentang kabar yang menimpa Aisyah ia menjawab, “Aku bersumpah kepada Allah yang mengutusmu dan agama kebenaran ini, ya Rasulullah! Aku tak menemukan hal buruk pada diri Aisyah. Jika ada keburukan pada dirinya, di antaranya ialah kadang dia tertidur ketika bekerja karena kelelahan. Ketika dia tertidur, kambing masuk, memakan tepung, kemudian pergi melarikan diri. Sungguh, aku tak memiliki apa-apa selain berkata mengenai kebaikan dirinya. Hal-hal yang aku tahu mengenai dirinya tak lain ialah mengenai emas-emas kebaikan seorang pemilik emas.” Hingga akhirnya Rasul menerima wahyu yang tertulis dalam QS. Annur yang mengklarifikasi semua fitnah terhadap istri tercintanya itu, dimana bisa jadi saat itu iapun sebagai suami sempat dalam keraguan namun Allah membela Aisyah. 

Aisyah nyatanya telah menjadi jawaban sebaik-baiknya teladan bagi perempuan, Ibunda yang cerdas dan penuh kesabaran, seseorang yang memilih tinggal bersama Rasulullah meninggalkan harta dunia sebagai upaya meyakinkan diri untuk bertahan. Perempuan yang juga tak pernah dijanjikan kemudahan, menjadi perempuan istimewa sebab ceritanya disucikan dalam Al-Qur’an. Hingga cemburunya Aisyah adalah cemburu pada kebaikan. Keingintahuan Aisyah adalah investasinya untuk peradaban di masa yang akan datang. Ialah wanita yang jujur, setia, tulus, pencemburu, dan terhormat. Ialah pula satu-satunya wanita yang telah membuktikan, sejak empat belas abad yang lalu, bahwa wanita bisa menjadi lebih unggul daripada laki-laki dan bisa menjadi politikus, bahkan prajurit perang.

Ibroh dari kisah keluarga Aisyah

  1. Berilah kebahagiaan, kemerdekaan berpendapat dan apresiasi  kepada anak anak kita sehingga ia bisa melejit seperti melejitnya Aisyah dalam asuhan Abu Bakar dan Ummu Rumman
  2. Dalam sebuah keluarga, kakak atau adik adalah sungguh sebagai teman, didiklah anak anak kita untuk bisa saling berteman seperti bertemannya Aisyah dan Asma
  3. Menjadi Istri tanpa dikaruniai anak adalah hal yang paling berat bagi sebagian perempuan namun hal ini tidak membuat Aisyah sebagai istri menarik diri, pun membuat Rasulullah meminggirkannya.
  4. Melejitkan kecerdasan tanpa batas di hadapan suami adalah hal yang paling indah dan justru menjadi salah satu pengikat cinta. Inilah yang dilakukan Aisyah, ia tak pernah merasa takut bertanya, karena ia jadikan suaminya sebagai sandaran bertanya.Wallau a’lam. []
Daan Dini
Latest posts by Daan Dini (see all)
0 0 vote
Article Rating

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0

Daan Dini

Mantan redaktur pelaksana Swara Rahima, founder Aminhayati Educares dan dosen di STAI Haji Agus Salim.

dini khairunida
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments