Apa Itu Consent (Persetujuan) dalam Seks? Panduan yang Wajib Diketahui Semua Orang

Ilustrasi: Googleaistudio

Malam itu, Sarah merasa ada yang salah. Ia dan Bima sudah menikah selama enam bulan. Mereka sedang menonton TV di rumah, suasana terasa hangat dan nyaman. Namun, ketika tangan Bima mulai menjelajah lebih jauh dari sekadar rangkulan, Sarah membeku. Bukan ini yang ia inginkan malam ini. Ia diam, berharap Bima mengerti. Tapi Bima terus melaju, menganggap diamnya Sarah adalah lampu hijau.

Kisah Sarah dan Bima bukanlah fiktif. Banyak orang, seperti Bima, salah mengartikan diam, hubungan pernikahan yang sudah terjalin, atau pakaian seseorang sebagai sebuah persetujuan. Ironisnya, data berbicara lebih keras. Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan tahun 2023 menunjukkan bahwa ranah personal—termasuk dalam pacaran—masih menjadi lokasi dominan terjadinya kekerasan seksual. Ini membuktikan bahwa miskonsepsi tentang consent atau persetujuan masih menjadi akar masalah yang serius.

Jadi, mari kita luruskan sekali dan untuk selamanya: Apa itu consent?

Mendefinisikan Ulang Consent: Lebih dari Sekadar “Tidak Bilang Tidak”

Selama ini, banyak yang keliru memahami consent sebagai kondisi di mana tidak ada penolakan. Jika seseorang tidak berteriak “tidak!”, berarti ia setuju. Anggapan ini sangat berbahaya dan salah total.

Consent adalah persetujuan yang antusias, sadar, dan diberikan secara sukarela untuk terlibat dalam aktivitas seksual. Ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah dialog yang berkelanjutan. Bayangkan seperti ini: jika Anda menawarkan teh kepada seseorang dan ia ragu-ragu, terdiam, atau bahkan pingsan, apakah Anda akan tetap menuangkan teh panas ke mulutnya? Tentu tidak. Logika yang sama berlaku mutlak dalam aktivitas seksual.

Diam bukanlah consent. Pakaian seksi bukanlah consent. Hubungan pacaran atau pernikahan bukanlah consent abadi untuk segala hal. Persetujuan yang diberikan kemarin tidak secara otomatis berlaku untuk hari ini.

Prinsip Emas Persetujuan: Kenali Akronim “FRIES”

Untuk memudahkan pemahaman, banyak edukator seksualitas global menggunakan akronim “FRIES”. Ini adalah kerangka kerja yang solid untuk memastikan persetujuan yang Anda berikan atau terima benar-benar valid.

  1. Freely Given (Diberikan dengan Sukarela): Persetujuan harus datang tanpa paksaan, ancaman, atau manipulasi. Jika seseorang menyetujui sesuatu karena takut, merasa bersalah, atau di bawah tekanan, itu bukanlah consent. Pertanyaan seperti, “Kalau kamu sayang aku, kamu pasti mau…” adalah bentuk manipulasi, bukan permintaan persetujuan.
  2. Reversible (Dapat Ditarik Kembali): Siapa pun berhak mengubah pikirannya kapan saja, bahkan di tengah-tengah aktivitas seksual. Jika seseorang awalnya mengatakan “ya” tetapi kemudian merasa tidak nyaman dan mengatakan “berhenti”, maka aktivitas harus segera dihentikan tanpa perdebatan. “Ya” yang diucapkan lima menit lalu bisa menjadi “tidak” sekarang, dan itu sepenuhnya sah.
  3. Informed (Sepenuhnya Sadar): Seseorang harus tahu persis apa yang mereka setujui. Jika ada fakta penting yang disembunyikan (misalnya, tidak memberitahu pasangan tentang penyakit menular seksual) atau jika salah satu pihak tidak sadar penuh—karena mabuk berat, di bawah pengaruh obat-obatan, atau sedang tidur/pingsan—maka ia tidak bisa memberikan consent yang valid.
  4. Enthusiastic (Penuh Semangat): Carilah “YA!” yang antusias, bukan “umm, kayaknya boleh deh…” yang ragu-ragu. Persetujuan sejati terlihat dari bahasa tubuh yang positif, partisipasi aktif, dan ekspresi verbal yang jelas. Jika pasangan terlihat ragu, tidak yakin, atau pasif, anggap itu sebagai “tidak” dan berhentilah untuk berkomunikasi.
  5. Specific (Spesifik): Menyetujui satu hal tidak berarti menyetujui hal lainnya. Setuju untuk berciuman tidak otomatis berarti setuju untuk berhubungan intim. Setuju melakukan hubungan intim tanpa kondom juga berbeda dengan melakukannya menggunakan kondom. Komunikasi harus jelas tentang setiap tindakan spesifik yang akan dilakukan.

Mengapa Ini Begitu Penting?

Mempraktikkan consent bukan hanya tentang menghindari tuduhan kekerasan seksual. Ini adalah fondasi dari hubungan yang sehat dan saling menghormati.

“Consent bukanlah sekadar formalitas hukum; ia adalah napas dari rasa hormat dan inti dari interaksi manusia yang sehat.”

Ketika Anda memprioritaskan consent, Anda menunjukkan bahwa Anda menghargai otonomi tubuh, batasan, dan perasaan pasangan Anda. Ini membangun kepercayaan dan keintiman yang jauh lebih dalam daripada hubungan yang didasari oleh asumsi dan paksaan halus. Sebaliknya, mengabaikan consent adalah bentuk pelanggaran dan kekerasan.

Bagaimana Mempraktikkannya?

Membicarakan consent mungkin terasa canggung pada awalnya, tetapi ini akan menjadi lebih mudah seiring berjalannya waktu. Ini adalah tentang komunikasi yang terbuka dan jujur.

Contoh cara meminta persetujuan:

  • “Apakah kamu nyaman dengan ini?”
  • “Boleh aku…?”
  • “Apa kamu mau mencoba…?”
  • “Bagaimana perasaanmu kalau kita…?”

Contoh cara memberikan persetujuan:

  • “Ya, aku mau.”
  • “Aku suka kalau kamu…”
  • “Teruskan, aku suka.”

Dan yang terpenting, selalu siap menerima “tidak” sebagai jawaban. “Tidak” bukanlah sebuah penolakan personal, melainkan sebuah batasan yang harus dihormati.

Pada akhirnya, consent adalah tentang menciptakan ruang yang aman di mana semua pihak merasa dihargai, didengar, dan memegang kendali penuh atas tubuh mereka sendiri. Ini adalah standar minimum yang harus kita terapkan, bukan hanya dalam seks, tetapi dalam semua interaksi kita. Sudah saatnya kita semua memahaminya, mempraktikkannya, dan menuntutnya.(*)



Visited 1 times, 1 visit(s) today
0 0 votes
Article Rating

admin

Admin qobiltu bisa dihubungi di e-mail qobiltu.co@gmail.com

admin
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x