Bagi Nabi, Istri “Mitra” bukan “Pelayan”

Laki-laki sedang membersihkan popok bayi. (ilustrasi: freepik.com)

Diriwayatkan dalam beberapa hadis, antara lain dituliskan Imam al Bukhori dalam kitab Shahihnya, bahwa Rasulullah mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga sebagaimana masyarakat pada umumnya. Beliau tidak pernah menyuruh melakukan apapun kepada siapapun, termasuk kepada istri, untuk kepentingan Nabi, selama beliau mampu melakukannya.

Bagi Rasulullah, istri adalah mitra, bukan sebagai pelayan. Di dalam beberapa hadis itu dituturkan, Rasulullah mengabdikan diri untuk keluarganya. Huwa fi mihnati ahlihi, dia melayani atau mengabdikan dirinya bagi keluarganya. Tutur permaisurinya, Aisyah ra., Rasulullah menjahit dan menambal sandalnya (yahshifu na’lahu), menjahit bajunya (yakhitu tsaubahu), membersihkan bajunya dari kuman-kuman (yufli tsaubahu), memerah susu dari kambingnya (yahlibu syatahu), menambal bajunya yang robek (yuroqqi’ staubahu), dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.

سئلت عائشة – رضي الله عنها- : “ما كان النبي – صلى الله عليه وسلم – يصنع في بيته؟ قالت: كان يكون في مهنة أهله – أي: في خدمتهم – ، فإذا حضرت الصلاة خرج إلى الصلاة” . وفي رواية عند أحمد: كان بشرًا من البشر، يَفْلي ثوبه، ويحلب شاته، ويخدم نفسه. وفي رواية أخرى: كان يخيط ثوبه، ويخصف نعله، ويعمل ما يعمل الرجال في بيوتهم.

Aisyah ra. pernah ditanya : “Apa yang dilakukan Rasul di rumah?”

“Ia berkhidmah pada kelurganya,” jawab Aisyah ra.

Dalam riwayat Ahmad, Rasulullah adalah seperti masyarakat pada umumnya, membersihkan baju, memerah susu, dan melayani dirinya sendiri.

Disatu sisi, Aisyah ra. memang melakukan pekerjaan rumah tangga yang sesuai dengan kelayakan saat itu. Fatimah ra. putri Rasul juga mengabdikan dirinya dalam keluarganya. Asma’ ra. juga mengabdikan diri untuk suaminya, Zubair. Namun demikian, bukan berarti bahwa hal itu sebagai kewajiban, melainkan sebagai contoh ke-ma’ruf-an (kebaikan).

Teladan agung ini, ingin menyatakan bahwa pekerjaan rumah tangga tidaklah “berjenis kelamin”. Tidak ada pekerjaan perempuan atau pekerjaan laki-laki. Tidak  ada juga, ini pekerjaan utama suami yang lain membantu, atau sebaliknya, sebagaimana sering kita dengar dalam kuliah subuh di televisi. Semua pekerjaan rumah tangga haruslah dikerjakan secara adil dan ma’ruf sesuai dengan tuntunan al Qur’an untuk saling memperlakukan pasangan secara pantas (ma’ruf).

Rasulullah dan keluarganya telah mencontohkan kesetaraan, kesalingan (saling mencintai, saling menghormati, saling melindungi, saling berbagi) dan keadilan secara khusus dalam kehidupan rumah tangga. Jadi, tolong, kita jangan merobohkannya. Wallahu a’lam bisshawab.[]

KH. Imam Nakha'i
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x