Bahagia Menjadi Ibu Sambung

Ilustrasi: freepik.com

Hidup sebuah keluarga kadang tidak sepenuhnya terjadi seperti yang di harapkan. Menjadi keluarga utuh sekandung, seayah Ibu mungkin bisa bubar di tengah jalan bisa karena faktor kematian atau perceraian. Namun, life goes on, hidup harus terus berjalan. Ada banyak pilihan untuk melanjutkannya, mau tetap menjadi single parent atau merajut kembali sebuah keluarga utuh dengan membina keluarga baru.

Seperti yang dialami katakanlah namanya Gunawan, teman saya, ketika anak-anaknya baru menginjak usia SD dan TK, dia harus kehilangan istrinya, Mona,  yang meninggal karena kanker otak. Dilema muncul, jika tetap single parent, betapa repotnya Gunawan,  namun ketika harus memilih menikah lagi, tak jarang pilihan ini pun belum tentu tanpa konflik.  Kadang ada semacam justifikasi bahwa menikah lagi setelah pasangan wafat seolah melupakan cinta sejati. 

Belum lagi adaptasi dengan keluarga mantan istri, perebutan hak asuh, dan lain sebagainnya. Bagi Ibu sambung, adaptasi pun tak kalah berat, image Ibu tiri yang hanya sayang ayah, hingga mental tebal untuk bisa memunculkan image pribadi tanpa dibayangi sosok Ibu yang digantikan.

Lalu bagaimana caranya kita sebagai Ibu sambung agar tetap bisa menjalankan hidup dengan bahagia?

1. Perhatian dari anak sambung

Hal yang biasanya butuh adaptasi lebih awal adalah anak-anak tiri atau anak sambung. Bagaimama caranya kita sebaik mungkin menjalin hubungan dengan mereka. Perlu juga diberi pemahaman bahwa sebagai Ibu tiri kita punya image sendiri, bukan replika Ibu kandung mereka, meski kita tetap mencoba menjadi sebaik baik Ibu untuk mereka.

Bangun hubungan sehingga muncul saling empati kepada Ibu sambung dari anak sambung. Seringkali kesedihan akan kehilangan membuat anak sambung lebih sensitif kepada Ibunya, pun sebaliknya sehingga rentan terjadi kekerasan.

2. Dukungan dari pasangan

Dukungan dari pasangan sangat penting. Dukungan ini pun tidak sekedar dukungan bahwa sebagai istri dan Ibu sambung bukan hanya menggantikan posisi Ibu atau istri sebelumnya tetapi penghargaan yang sama bahwa Ibu sambung juga seperti Ibu kandung. Bukan sekedar menggantikan kekosongan peran tetapi bahwa hak yang sama seperti Ibu kandung.  Butuh rasa cinta dan penerimaan yang sama tanpa ada pembanding bandingan.

3. Komunikasi yang baik kepada keluarga mantan istri

Sebagai Ibu sambung, mental yang diterima lebih besar karena biasanya keluarga mantan Ibu kandung anak-anak sering membanding bandingkan, hingga protektif yang bisa membuat Ibu sambung rentan depresi.

4. Tunjukkan kasih sayang kepada semua

Kasih sayang  kepada pasangan, pun kepada anak anak akan menjadi cermin dan akan memberikan efek positif bagi Ibu sambung untuk juga mendapatkan kasih sayang yang sama.

5. Incase menemukan deadlock, maka pilih teman berbagi

Yang penting juga dimiliki adalah teman untuk bisa berkonsultasi terhadap  konflik yang mungkin muncul dan mungkin bisa menimbulkan kekerasan. Meski ini pun bisa terjadi tidak hanya kepada Ibu sambung tetapi psikologis sebagai Ibu sambung jauh lebih berat.

Dalam Islam sendiri, penghargaan kepada Ibu tidak pilah-pilih apakah itu Ibu sambung atau Ibu kandung. Islam memberikan penghargaan kepada semua Ibu.

Finally, keep spirit buat semua Ibu.

Daan Dini
Latest posts by Daan Dini (see all)
0 0 vote
Article Rating

Daan Dini

Mantan redaktur pelaksana Swara Rahima, founder Aminhayati Educares dan dosen di STAI Haji Agus Salim.

dini khairunida
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x