Cara Mengontrol Emosi dalam Mendidik Anak

Ilustrasi: freepik

Hari Sabtu, 12 Pebruari 2022 lalu, saya mengikuti seminar parenting yang bertema “Cara Mengontrol Emosi dalam Mendidik Anak”. Acara ini diselenggarakan oleh SDIT Buahati Islamic School Jakarta. Narasumber pada seminar ini adalah Ayah Irwan Rinaldi, seorang praktisi parenting.

Seminar yang dilaksanakan secara online ini diikuti oleh orang tua murid, guru dan peserta umum.

Terus terang, sebagai orang tua, saya sangat tertarik mengikuti seminar ini.  Karena sebagai orang tua yang mendampingi anak belajar online di masa pandemi corona ini, nyaris setiap hari dihadapkan pada persoalan mengelola emosi yang menguras dalam menghadapi anak-anak belajar. Seperti anak yang tidak mau mengerjakan tugas sekolah, anak yang inginnya main hp terus dan lain sebagainya. Orang tua dituntut untuk mampu mengendalikan emosi agar anak-anak bisa belajar dengan baik.

Dalam presentasi awalnya, Ayah Irwan menampilkan cuplikan yang cukup menarik untuk direnungkan. Seperti ini kutipannya.

“Jika orangtua tidak bisa memahami emosinya sendiri, maka ia akan lemah untuk bisa membaca/mengontrol emosi yang dirasakan oleh anaknya”.

Dari kutipan di atas, sangat jelas, sebelum kita mengontrol emosi anak, kita dituntut untuk mampu mengontrol emosi diri kita sendiri sebagai orang tua. Anak kita adalah bagai cemin. Sebagai cermin, ia akan menampilkan apa pun yang bercermin kepadanya.

Karena itu, yang perlu dilakukan oleh orang tua atau orang yang mengasuh anak adalah mengenali emosi diri kita sendiri. Baru kemudian mengenali emosi anak.

Apa yang harus dilakukan?

Menurut Ayah Irwan, ada lima hal yang perlu orang tua jernihkan dan hebatkan, yaitu: relasi spiritual, relasi pernikahan, relasi pengasuhan, tiga langkah kontrol emosi dan pola pengasuhan.      

Satu bagian berkaitan, bahkan menentukan dengan bagian lainnya. Misalnya, keadaan relasi spiritual sangat menentukan relasi pernikahan. Begitu pun relasi pernikahan sangat menentukan relasi pengasuhan, dan seterusnya.    

Ketika ada masalah dalam pengasuhan anak, yang pertama harus dicek adalah seperti apa relasi pernikahannya. Jika ada masalah dalam relasi pernikahannya, maka yang harus dicek adalah bagaimana relasi spiritual orang tuanya.

Pada relasi spiritual misalnya, pertanyaan yang perlu dijawab, terutama oleh Ayah adalah seberapa terhubung, tersambung, tergantung ayah bunda kepada Allah. Jika bisa dengan cepat diketahui jawabannya maka solusi yang dikemukakan disesuai dengan hasil jawaban pertanyaan tersebut. Misalnya, relasi pernikahan yang kacau balau maka yang pertama dicek adalah bagaimana relasi Ayah-Bunda kepada Allah. Bagaimana ayah-bunda menjalankan shalat fardunya, zakatnya, sedekahnya dan lain sebagainya.

Begitu pun ketika ada masalah dalam relasi pengasuhan yang pertama dicek adalah bagaimana relasi pernikahan yang dialaminya. Apakah baik-baik saja? Atau ada masalah.  

Dalam relasi pernikahan, pertanyaan yang perlu dijawab adalah adakah roadmap pernikahan yang disepakati bersama sebagai panduan dalam menjalani bahtera rumah tangga?. Jika sudah ada, maka roadmap itulah yang menjadi panduan dan pegangan bersama untuk mencapai tujuan pernikahan yang diimpikan. Jika belum ada, maka tidak ada kata terlambat untuk membuatnya dan menjadi pegangan bersama.

Hal penting lainnya dalam relasi pernikahan adalah adanya komitmen bersama untuk saling membahagiakan dan mencapai tujuan pernikahan secara bersama-sama.

Selanjutnya adalah relasi pengasuhan. Dalam relasi pengasuhan yang perlu dilihat adalah adalah prinsip pengasuhan yang sudah dibuat? Kemudian pola pengasuhannya seperti apa? Selanjutnya adakah roadmapnya?

Jika sudah mempunyai tiga hal tersebut, tinggal kita cek apakah ketiganya sudah sesuai dengan relasi spiritual dan relasi pernikahannya? Jika sudah sesuai, cek juga penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Selanjutnya ada tiga langkah untuk mengontrol emosi. Pertama berikan contoh, berikan motivasi kepada anak dengan memberikan pujian secara spesifik atas apa yang telah ia kerjakan. Selanjutnya adalah ajarkan kontrol emosi.   

Terakhir adalah pola pengasuhan. Pola pengasuhannya seperti apa? Menurut Ayah Irwan, ada dua hal yang penting yaitu waktu dan ilmu. Menurutnya, waktu dalam pengasuhan anak adalah bukan waktu luang tapi meluangkan waktu untuk mendidik anak. Dengan meluangkan waktu, berarti ada prioritas dalam mendidik anak bukan hanya sekedar waktu luang atau waktu sisa.

Kedua adalah ilmu. Sebagai orang tua sudah semestinya membekali diri dengan ilmu tentang pengasuhan anak terutama tentang perkembangan emosi anak dan mengenal emosi dasar anak. Dengan mengetahui ilmu tentang perkembangan emosi anak, orang tua dapat mengontrol emosi dirinya dan emosi anaknya.     

Demikian cara mengatasi emosi dalam mendidik anak. Semua mengacu kepada roadmap yang telah dibuat dan terutama bagaimana membangun relasi spiritual secara harmonis. ***

Maman Abdurahman
Follow me
0 0 votes
Article Rating

Maman Abdurahman

Magister Psikologi Islam. Meneliti dan menulis masalah perkawinan dan keluarga. Sekali-kali menulis cerpen dan puisi.

Maman Abdurahman
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x