Cerita Alya

Pagi itu Alya masuk sekolah dengan wajah yang tidak bersemangat. Seperti biasa, kami sebagai guru menyambut pagi setiap siswa yang datang dengan 3 pilihan gambar. Gambar hati untuk sebuah pelukan, gambar tangan berjabat berarti bersalaman dan gambar tangan saling bertepuk yang artinya “tos”.

Alya memilih gambar hati yang berarti menerima pelukan dari kami. Dalam pelukan saya berbisik “Alya kenapa?”. Alya Cuma senyum lalu bilang “bunda gak bisa anter aku, bunda sekarang bekerja”. 

Sampai disitu saya memperhatikan Alya sambil terus berfikir bagaimana cara menghiburnya. Akhirnya saya mendapatkan moment ketika sessi cerita menjelang pulang dengan bercerita profesi. Dari profesi itu ada Polisi wanita, dokter, suster, petani, pedagang sayur yang semuanya adalah perempuan, ibu ibu yang jika melakukan profesinya pasti meninggalkan keluarganya.

Disitu Alya tersenyum dan ketika pulang ia berbisik “bunda aku kerja di restoran, nanti ia juga pulang setelah membuat banyak orang kenyang”. Aku pun tos tangan Alya lalu melepasnya pulang ke rumah.

Dalam keluarga kebutuhan nafkah menjadi hal yang krusial. Tak jarang banyak pasangan orang tua bekerja dengan konsekwensi anak-anak mereka yang ditinggalkan di rumah.

Di Negara maju, hal ini sudah disupport oleh Negara dengan fasilitas daycare bagi anak-anak yang itu biayanya disubsidi dari pajak pemerintah. Juga difasilitasi dengan cuti melahirkan dengan tunjangan. Sayangnya di Negara kita sebagai Negara berkembang, jangankan subsidi daycare, cuti melahirkan pun tidak semua dapat dinikmati pekerja perempuan, bahkan di beberapa perusahaan, karyawan perempuan yang ketahuan hamil akan diminta resign terlebih dahulu sebelum perusahaan harus membayar mahal biaya cuti melahirkan mereka.

Keluarga dengan ibu bekerja akhirnya menjadi dilematis, di satu sisi, ibu harus terbebani dengan segala pikirannya meningggalkan rumah sedang jika tidak bekerja bisa jadi nafkah dari ayah belum tentu cukup membiayai makan, pakaian hingga pendidikan.

Cerita Alya di atas sesungguhnya hanya salah satu potret saja bahwa anak di zaman now ini harus bisa terlatih mandiri dan tetap bahagia jika mengetahui ayah bundanya bekerja di luar rumah.

Pasangan bekerja pun harus sudah punya pemikiran bagaimana mengasuh bersama, bagaimana anak dalam keadaan aman meski mereka harus bekerja dan tidak senantiasa di samping mereka. Parahnya, beban psikologis sering kali dialami oleh ibu yang secara kultur dianggap paling bertanggungjawab terhadap pengasuhan anak. Padahal sungguh anak-anak masa depan adalah tanggungjawab bersama, tidak hanya orang tua tetapi juga Negara.

Sampai di sini jika kita flashback ke zaman Rasulullah, tidak ada syariat yang melarang perempuan berkarir. Rasulullah SAW adalah seorang ayah dan suami dengan yang beristrikan Khadijah, seorang pengusaha yang aktif dalam dunia bisnis. Bahkan harta hasil jerih payah bisnis Khadijah ra itu amat banyak menunjang dakwah di masa awal Islam. Bisa dibayangkan bagaimana sibuknya Khadijah sebagai istri dan juga sebagai ibu dan tidak ada larangan sama sekali untuk itu baginya dari rasulullah.

Sepeninggal Khadijah, Rasulullah beristrikan Aisyah radhiyallahu anha, seorang wanita cerdas, muda dan cantik yang kiprahnya di tengah masyarakat tidak diragukan lagi. Posisinya sebagai seorang istri tidak menghalanginya dari aktif di tengah masyarakat. Sepeninggal Khadijah dan ketika beristrikan Aisyah, pun tidak hanya berdiam di rumah. Aisyah juga berkarir sebagai guru dari para shahabat yang mampu memberikan penjelasan dan keterangan tentang ajaran Islam.

Bahkan Aisyah ra. pun tidak mau ketinggalan untuk ikut dalam peperangan.

Maka sekian juta perempuan atau ibu yang akhirnya harus keluar rumah untuk menjalani berbagai profesinya sepatutnya didukung dan difasilitasi juga dibantu dengan berbagai perlindungan. Bantuan salah satunya juga pemahaman bagi anak-anak yang harus menerima kenyataan bahwa ia harus mandiri dan menerima jika ibu tidak harus senantiasa mengantarnya ke sekolah seperti cerita Alya di atas.[]

Daan Dini
Latest posts by Daan Dini (see all)
0 0 votes
Article Rating
Visited 1 times, 2 visit(s) today

Daan Dini

Mantan redaktur pelaksana Swara Rahima, founder Aminhayati Educares dan dosen di STAI Haji Agus Salim.

dini khairunida
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x