[Cerpen] Lima Fragmen tentang Bapak

ilustrasi: Suharmanto/Kompas

Fragmen satu 

Kata Ibu, saya dulu punya Bapak. Bapak saya itu, masih kata Ibu, adalah laki-laki tulen. 

“Apakah Bapak memiliki jakun seperti Lik Amir?” saya menatap wajah Ibu dengan pandang ingin tahu. Ibu pun mengangguk. “Ya, Bapakmu memiliki jakun. Tapi Bapakmu tidak pernah mencoba lipstik milik ibu seperti yang sering dilakukan oleh Lik Amir-mu itu.” 

Kata -kata Ibu membuat saya tertawa.

“Apakah Bapak bisa memanjat genteng selincah Telon?” saya bertanya lagi. 

“Dia lebih tangkas dari Telon, kucing milik tetangga sebelah yang suka mencuri ikan asin jatahmu itu. Bapakmu bisa berjalan cepat di atas genteng—melompat kian kemari.  Apalagi di musim penghujan. Ia bisa berubah seperti  bajing.

Saya terbelalak takjub. Lalu saya membayangkan sosok Bapak berada di atas tingkap rumah, melompat kian kemari menambal genteng-genteng yang bocor dan pecah.

“Masih ada lagi yang ingin kamu tanyakan?” Ibu menatap kedalaman bola mata saya. Saya menggeleng. Pikiran saya masih sibuk tertuju pada Bapak, yang kata Ibu lincah seperti  bajing.

Malam itu tidur saya pulas sekali. Saya merasa Bapak berada di samping saya, menemani saya, memeluk saya dengan lengan perkasanya hingga tangan lembut ibu membangunkan saya.

***

Fragmen dua

Dua puluh lima tahun lalu saya pamit kepada istri saya. Saya ingin meninggalkan desa untuk mengubah nasib saya. Saya bosan dengan aroma sawah. Saya lelah harus turun naik ke atas tingkap rumah membetulkan genteng yang bocor di setiap musim penghujan tiba. Saya kesal pada Telon, kucing berbulu tiga warna milik tetangga sebelah rumah yang suka mengejek saya dengan mendahului naik ke atas genteng, memamerkan gerakan yang jauh lebih lincah dari saya.  

Saya bosan dengan semua itu. Saya ingin suasana baru.

“Untuk mengubah nasib apakah mesti hijrah ke kota, Bang? Tanah-tanah pekarangan di desa kita bukankah masih bisa diolah sedemikian rupa?” istri saya mencoba membujuk saya. Mempengaruhi niat saya. Tapi tekat saya sudah bulat, saya tetap harus pergi. Tidak ada yang mampu mencegah saya. Tidak juga airmata yang berusaha disembunyikan oleh istri saya. 

Saya lantas pergi dari rumah tanpa menoleh lagi ke belakang. 

Tapi peruntungan nasib tidak berpihak  pada diri saya. Barangkali—ya, barangkali, bisa jadi kepergian saya tanpa restu istri adalah salah satu penyebab mengapa langkah saya terlunta-lunta. Saya mulai tersesat di tengah belantara kota. 

Kiranya kota telah menipu saya mentah-mentah. Waktu saya habis di jalanan. Saya jarang makan, jarang tidur, jarang pula mandi. Makanan di kota sangat mahal. Tak ada penginapan gratis. Bahkan air bersih pun dikomersilkan. 

Saya jadi teringat rumah sederhana saya yang diapit  tegalan,yang ditumbuhi aneka sayur, dikelilingi sungai-sungai yang airnya mengalir jernih. Saya bisa mandi sepuasnya di sana, kapan saja, semau-mau saya.

Saya tercenung. menatap trotoar yang berdebu. Haruskah saya kembali pulang ke desa? Tidak! Kalaupun saya harus pulang, saya mesti menjadi orang sukses dan berhasil terlebih dulu. Saya tidak ingin pulang membawa kegagalan. Kalau saya pulang dalam keadaan dekil dan miskin begini, bisa-bisa Telon menertawakan dan mengejek saya habis-habisan.

Lalu otak saya menjadi buntu. Keruh. 

Sampai sesuatu melintas di benak saya. Sesuatu yang selama ini tidak pernah terpikirkan oleh saya. Sesuatu yang membuat saya bersemangat kembali.

Kejahatan. Ya, pikiran itu mulai mengusik nurani saya. Saya bisa membunuh, mencopet, merampok atau apa saja yang akan mempercepat usaha saya menjadi kaya, berlimpah banyak uang.

Dan, huft, tahu-tahu saya sudah bermetamorfosis menjadi seoranglaki-laki  bajingan.

***

Fragmen tiga

Dua puluh lima tahun lalu saya berurai airmata ketika suami saya mengatakan ingin pergi meninggalkan rumah. Saya masih belum lupa, ia mengelus perut buncit saya tanpa berani menatap bola mata saya.

“Aku ingin saat bayi kita lahir kau ada di sampingku,” bisik saya lirih. Saya mencoba membujuk dia, berupaya menggagalkan rencana kepergiannya. Tapi saya tahu ia tidak akan mendengar kata-kata saya. 

Meski sedih dan kecewa akhirnya saya harus rela melepas punggung perkasanya yang selama ini menjadi sandaran hidup saya. Ia berjalan tergesa, meninggalkan saya dan bayi dalam perut saya. Ia tidak menoleh lagi ke belakang. Ia hanya meninggalkan aroma wangi hujan. Dan saya menghirup aroma itu dalam-dalam. Hingga napas saya sesak dan bayi dalam kandungan saya keras menghentak.

***

Fragmen empat

Saya sudah dewasa. Saya bahagia. Cita-cita saya sudah tersampaikan. Saya lulus menjadi seorang taruna dengan sangat memuaskan.

Semua berkat perjuangan dan doa Ibu saya, perempuan sederhana yang sangat menyayangi saya.

Ketika umur saya sudah mapan, saya pun menikah. Lalu saya meminta kepada istri saya, seorang perempuan muda yang cantik dan baik hati untuk ikut menjaga Ibu saya.

“Saya tidak ingin melihat Ibu bersedih atau murung. Sebab saya sangat paham.  Sejak Bapak pergi, hati Ibu telah dikuasai sepi.”

***

Fragmen lima

Saya terharu ketika laki-laki yang baru saja dilantik menjadi taruna itu meminang saya. Ia laki-laki baik yang amat mencintai Ibunya. Saya bersyukur ditakdirkan menjadi istrinya.

Di musim hujan saya kerap melihat ia berdiri di atap rumah menambal genteng yang pecah ditemani seekor kucing. Saya juga melihat Ibu mertua saya yang sudah tua duduk mengawasinya dengan senyum dan sudut mata yang basah.

“Aku menitipkan Ibuku padamu. Aku tahu kamu bisa menjaganya lebih baik dari aku,”  suatu pagi ia—suami saya, mencium lembut kening saya. Ia pamit pergi. Mengemban tugas penting katanya. Dan saya melepas kepergiannya dengan iring doa-doa.

Senja itu saya menjaga dan menemani Ibu suami saya. Saya memapahnya, membawanya berjalan-jalan di taman kecil tak jauh di seberang jalan. Saya biarkan angin sepoi  membelai rambutnya yang beruban. Saya izinkan bianglala mengecup pipinya yang keriput. Ya, saya biarkan alam mencumbuinya, mengusir kesepian yang selama ini memenjarakannya.

Seekor kucing melompat ke atas pangkuan, menjilati mesra punggung tangannya.

Lamat-lamat saya mendengar kucing itu bersiar kabar, “Anakmu—si taruna itu, ia baru saja menembak mati Bapaknya.”

***

Malang, 24 Fabruari 2018

Cerpen ini petamakali tayang di kompasiana.com

Lilik Fatimah Azzahra
Latest posts by Lilik Fatimah Azzahra (see all)
0 0 vote
Article Rating

Lilik Fatimah Azzahra

Peraih Award The Best in Fiction & People Choice di ajang Kompasianival 2017. Puisi dan cerpennya menjadi langganan headline di Kompasiana.

Lilik Fatimah Azzahra
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x