Suminah

Desa Karangsari, sebuah titik kecil di peta Jawa Tengah, pada akhir dekade 80-an, masih menjadi potret kehidupan yang begitu sederhana. Rumah-rumah berdinding anyaman bambu berjejeran di pinggir jalan tanah, beratapkan genting lusuh yang ditumbuhi lumut. Sawah-sawah yang terhampar luas, dulunya hijau membentang dan menjadi urat nadi kehidupan, kini banyak yang mengering, retak-retak bagai kulit buaya tua. Musim kemarau yang panjang dan harga gabah yang jatuh membuat sebagian besar penduduk desa tercekik. Salah satunya adalah keluarga Suminah dan Karto.
Suminah, seorang perempuan dengan kulit sawo matang yang terbakar matahari dan senyum yang selalu meneduhkan, duduk termenung di balai-balai bambu rumahnya. Di sampingnya, Karto, suaminya yang bertubuh kurus dengan raut wajah selalu cemas, menghela napas panjang. Dua anak mereka, Wati dan Jarwo, yang masih ingusan, bermain di halaman tanpa tahu beban yang menghimpit orang tua mereka.
“Uang arisan kemarin sudah habis, Mas,” suara Suminah lirih, nyaris tak terdengar. “Untuk beli beras dan bayar utang di warung Mbok Nah.”
Karto hanya diam. Dulu, dua petak sawah warisan orang tua Suminah cukup untuk makan. Sekarang? Hanya tersisa gundukan tanah kering yang tak lagi subur. Mencari kerja serabutan di kota pun tak tentu arah. Utang menumpuk, menggunung.
Malam itu, keputusan berat itu diambil. Suminah, dengan berlinang air mata, menyuarakan niatnya.
“Aku akan ikut Mbok Minah ke Arab, Mas.”
Karto terkesiap. Menjadi TKW? Itu berarti Suminah akan pergi jauh, melintasi lautan, bekerja di negeri orang yang tak mereka kenal.
“Jangan, Yu,” Karto membantah pelan, hatinya mencelos. “Anak-anak masih kecil. Siapa yang akan mengurus mereka? Aku… aku tidak bisa tanpamu.”
“Lalu kita mau makan apa, Mas? Wati dan Jarwo butuh sekolah. Kita tidak punya pilihan lain,” jawab Suminah, suaranya bergetar. “Aku akan mengirimkan uang. Hanya tiga tahun, Mas. Nanti aku kembali, kita bisa membangun rumah yang lebih baik, membeli sawah lagi.”
Karto melihat keteguhan di mata Suminah. Sebuah keteguhan yang dulu ia kira hanya ada pada laki-laki. Akhirnya, dengan berat hati, ia mengangguk. Pelukan mereka malam itu terasa hampa, dipenuhi ketakutan akan jarak dan ketidakpastian.
Keberangkatan Suminah adalah hari yang paling berat dalam hidup Karto. Ia melihat punggung Suminah melambaikan tangan dari atas bus yang reyot, air matanya tumpah. Wati dan Jarwo menangis keras, tak mengerti mengapa ibu mereka pergi.
“Bapak akan menjaga kalian, Nduk, Le,” bisik Karto, memeluk kedua anaknya. Namun, ia tahu, tak ada yang bisa menggantikan sosok ibu.
Minggu-minggu pertama berlalu lambat. Karto mencoba menjadi bapak sekaligus ibu. Ia memasak nasi, mencuci baju anak-anak, mengajari mereka mengaji. Ada sepi yang menggerogoti jiwanya. Perkampungan terasa semakin hening tanpa celoteh Suminah. Tetangga-tetangga mulai kasak-kusuk.
“Dasar Karto, tidak becus jadi suami, sampai istrinya harus kerja di negeri orang.”
Sebulan kemudian, surat pertama dari Suminah tiba. Ditulis dengan tulisan tangan yang agak kaku, di atas kertas tipis bergaris.
Untuk Mas Karto dan anak-anakku tersayang,
Alhamdulillah, aku sudah sampai dengan selamat, Mas. Kerjanya memang berat, tapi aku kuat. Majikan baik. Aku selalu ingat kalian. Jagalah Wati dan Jarwo baik-baik ya, Mas. Jangan lupa salat. Nanti aku kirim uang kalau sudah dapat gaji pertama. Aku rindu sekali pada kalian. Cium anak-anak dari Ibu. Jangan sedih ya, Mas.
Setiap surat dari Suminah selalu menjadi oase di gurun kesepian Karto. Ia membaca berulang-ulang, membayangkan wajah Suminah, suaranya, senyumnya. Uang yang dikirim Suminah memang mengubah keadaan. Utang terbayar, anak-anak bisa makan lebih baik dan sekolah lagi.
Namun, sepi tak pernah benar-benar pergi. Karto adalah pria biasa, mudah rapuh. Suatu sore, saat ia sedang duduk melamun di teras, Jumilah datang. Jumilah adalah janda muda, tetangga mereka, yang ditinggal mati suaminya setahun lalu. Dia dikenal dengan senyumnya yang manis dan tutur katanya yang halus.
“Melamun saja, Mas Karto?” sapa Jumilah, meletakkan sepiring gorengan singkong di meja. “Makanlah, mumpung masih hangat.”
Karto terkejut. “Ah, Mbok Jumilah. Repot-repot saja.”
“Tidak apa-apa. Kasihan Mas Karto, sendirian mengurus anak-anak. Pasti lelah sekali.”
Sejak itu, Jumilah sering datang. Kadang membawakan makanan, kadang sekadar mengajak mengobrol. Ia mendengarkan keluh kesah Karto tentang sawah yang tak menghasilkan, tentang anak-anak yang rewel. Ia juga menceritakan kesepiannya sendiri. Perlahan, benih simpati tumbuh. Perhatian Jumilah adalah penawar bagi hati Karto yang haus kasih sayang. Ia merasa ada yang kembali mengisi kekosongan Suminah.
Awalnya, Karto menolak setiap godaan. “Aku tidak mungkin menghianati Suminah,” batinnya. Namun, Jumilah tak menyerah. Ia selalu ada, di saat Karto merasa terpuruk, di saat ia merindukan sentuhan seorang perempuan.
Satu malam, setelah Wati dan Jarwo tertidur, Karto duduk di luar, memandangi bulan. Jumilah datang, membawa kopi hangat.
“Kenapa melamun lagi, Mas?”
“Aku rindu Suminah, Mbok Jum. Tapi… aku juga kesepian.”
Jumilah tersenyum sendu. “Aku mengerti, Mas. Aku juga merasakan hal yang sama.”
Tangan Jumilah terulur, menyentuh lengan Karto. Sentuhan itu mengalirkan kehangatan yang sudah lama tak Karto rasakan. Malam itu, janji setia Karto kepada Suminah runtuh.
Hubungan terlarang itu berlanjut. Karto merasa bersalah, namun ia tak bisa melepaskan diri dari Jumilah. Perhatian Jumilah membuatnya merasa dihargai, dibutuhkan. Ia mulai berbohong kepada Suminah dalam surat-suratnya, mengatakan bahwa ia baik-baik saja, bahwa ia merawat anak-anak dengan sepenuh hati. Kiriman uang dari Suminah kini terasa tak begitu penting baginya, karena ia sudah punya ‘pelipur lara’ di sisinya.
Suminah di Arab, melalui surat-suratnya, merasakan ada yang aneh. Surat-surat Karto semakin jarang, isinya singkat, tak lagi sehangat dulu. Ia sering bertanya tentang Jumilah. “Jumilah bagaimana kabarnya, Mas? Apa dia masih sering membantu mengurus anak-anak?” Karto selalu menjawab, “Jumilah baik-baik saja, Yu. Dia tetangga yang baik.”
Tiga tahun berlalu. Suminah telah mengumpulkan cukup tabungan. Ia memutuskan untuk pulang. Hatinya berdebar, membayangkan reuni dengan anak-anaknya, dengan suaminya. Ia membayangkan membangun rumah, membuka warung kecil. Harapan itu menguatkannya melewati kerasnya pekerjaan.
Suminah tiba di Karangsari pada suatu sore, tanpa pemberitahuan. Ia ingin memberi kejutan. Bus menurunkannya di perempatan desa. Dengan dua tas besar di tangan, ia melangkah menyusuri jalan setapak yang familiar. Namun, ada yang berbeda. Rumahnya terlihat lebih terawat, ada tanaman bunga di halaman. Hatinya menghangat. Karto pasti rajin merawatnya.
Ia melihat Wati dan Jarwo bermain di halaman. Mereka sudah besar, kurus namun terlihat sehat.
“Wati! Jarwo!” panggil Suminah, suaranya bergetar.
Kedua anak itu menoleh. Mata mereka membulat, lalu berlari memeluk Suminah. “Ibu! Ibu pulang!”
Tangis haru Suminah pecah. Ia mencium mereka berkali-kali.
Saat itulah, Karto keluar dari rumah. Matanya terbelalak melihat Suminah. Wajahnya pucat pasi. Ia tak mampu berkata apa-apa.
“Mas!” Suminah berdiri, senyumnya merekah, namun segera sirna saat melihat ekspresi Karto. Ada yang salah.
Dari balik punggung Karto, Jumilah muncul. Ia membawa nampan berisi teh dan camilan, hendak menghidangkannya kepada Karto. Melihat Suminah, nampan itu terlepas dari tangannya, pecah berhamburan.
Suminah memandang Jumilah, lalu Karto, dan kembali ke Jumilah. Pandangannya kosong. Harapan yang selama ini ia bawa dari negeri seberang, impian yang ia rajut setiap malam, hancur berkeping-keping dalam sekejap. Air mata kembali menganak sungai di pipinya, namun kali ini bukan air mata haru, melainkan air mata kepedihan yang menusuk.
“Jadi ini alasannya, Mas?” suara Suminah tercekat. “Ini alasannya surat-suratmu jadi dingin? Ini alasannya aku berjuang sendirian di negeri orang?”
Karto menunduk, tak berani menatap mata Suminah. Lidahnya kelu. Jumilah berdiri mematung, wajahnya juga pucat.
“Yu… aku…” Karto mencoba bicara.
“Apa yang kau lakukan, Mas? Setelah semua pengorbananku? Semua rindu anak-anak?” Suminah tidak berteriak, suaranya pelan, namun mengandung kekuatan yang menghancurkan. “Aku pulang untukmu, untuk kita. Aku rela jadi babu di negeri orang untuk masa depan kita.”
Malam itu, desa Karangsari menjadi saksi bisu kehancuran sebuah keluarga. Tangisan Suminah pecah, tak tertahankan. Anak-anaknya ketakutan. Karto hanya bisa menangis penyesalan, namun sudah terlambat.
Esoknya, Suminah mengemasi barang-barangnya lagi. Tabungan yang ia bawa, sebagian ia serahkan kepada Wati dan Jarwo, sebagian ia serahkan kepada orang tuanya untuk biaya sekolah anak-anak.
“Aku akan kembali ke kota, Mas,” kata Suminah, matanya bengkak. “Aku akan mencari kerja di sana. Anak-anak biarkan tinggal di sini denganmu. Kau bapak mereka.”
Karto memohon, berlutut, menangis. “Jangan pergi lagi, Yu. Aku menyesal. Aku akan berubah.”
Suminah hanya menggeleng. “Kepercayaan itu seperti gelas kaca, Mas. Kalau sudah pecah, tidak bisa utuh lagi. Walaupun direkatkan, akan selalu ada bekasnya.”
Ia mencium kening Wati dan Jarwo untuk terakhir kalinya, mencium mereka lebih lama dari biasanya. Langkahnya berat saat meninggalkan rumah yang dulu ia impikan akan menjadi tempat kebahagiaan. Desa Karangsari menjadi saksi kepergian kedua kalinya. Kali ini, Suminah pergi membawa kepingan hati yang hancur, namun juga membawa tekad baru. Ia harus kuat, demi anak-anaknya. Ia harus melanjutkan hidup, tanpa Karto, yang kini dihantui penyesalan abadi di kampung yang sepi, bersama bayangan cinta terlarang yang telah merenggut segalanya. Aroma tanah basah dan dedaunan yang membusuk tak lagi terasa sejuk di hati Karto. Ia tahu, ia telah kehilangan mutiara berharganya.***
