Dahsyatnya Basmallah Ketika Single Mom Bungkam Para Peragu

Mbak Lilik bersama putra keduanya. (Sumber: koleksi pribadi)

“Duh, Gusti. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang tak pilih kasih dan tak pandang sayang. Hamba menitipkan diri dan putra-putri hamba kepadaMu. Beri kami yang terbaik menurut Panjenengan.”

Kutemukan kutipan itu di tumpukan status facebook. Aku pun tertarik membacanya secara tuntas. Kata demi kata aku lahap dengan perlahan. Ia bercerita tentang biduk keluarganya yang karam. Ia memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya. Ia tidak menceritakan cecara detail apa persoalan yang sesungguhnya ia hadapi.  Yang jelas ia harus menghidupi empat anaknya yang masih membutuhkan kasih sayang dan perhatiannya.

Sebagai seorang perempuan full timer Ibu Rumah Tangga, tentu ia tidak mempuyai penghasilan sendiri. Ia hanya menerima uang belanja dari suaminya. Tapi suami yang menopangnya itu telah pergi entah kemana. Ia harus bisa membesarkan dan menghidupi empat anaknya yang masih membutuhkan bantuan secara ekonomi.  

Keadaan perempuan yang tidak mempunyai pekerjaan tetap itu tentu membuat banyak orang meragukannya ia bisa hidup dan membesarkan empat anak-anaknya.  Ia pun menulis:

“18 tahun lalu ketika saya memutuskan untuk mengakhiri biduk rumah tangga, banyak orang meragukan perjalanan saya selanjutnya. Merasa tidak yakin saya bisa menghidupi 4 orang anak yang masih kecil-kecil seorang diri. Mengingat saya hanya ibu rumah tangga biasa yang tidak punya pekerjaan tetap yang selama ini mengandalkan uang belanja dari suami.”

Namun perempuan berhijab  itu tidak lantas patah arang dengan anggapan banyak orang yang meragukan kemampuan untuk membesarkan anak-anaknya.  Ia tidak sibuk menangkis gunjingan orang-orang di sekitarnya tentang apa yang akan terjadi dalam kehidupannya ke depan. Justru ia sibuk merayu sang Khaliq di keheningan malam.  

Ia menulis di statusnya:  “Sementara orang-orang di sekitar sibuk bergelut dengan keraguan mereka, saya justru sibuk merayu-rayu Allah. Di setiap do’a yang dipanjatkan saya selalu menyampaikan kalimat sederhana ini, ‘Duh, Gusti. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang tak pilih kasih dan tak pandang sayang. Hamba menitipkan diri dan putra-putri hamba kepadaMu. Beri kami yang terbaik menurut Panjenengan.”

Menurutnya yang terbaik menurut Allah bukan yang terbaik menurut manusia. Bisa jadi yang terbaik menurut manusia tidak terbaik menurut Allah. Tapi yang terbaik menurut Allah pasti yang terbaik untuk manusia meskipun terkadang pikiran manusia tidak bisa memahaminya.

Menurut perempuan yang tinggal di Malang itu,  do’a tersebut diadaptasi dari bacaan Basmallah. Bismillahirrohmannirrohim.

Sebagai seorang muslimah ia yakin betul dengan kekuatan basmallah ketika diucapkan dengan keyakinan yang kuat dan keikhlasan. 

“Saya meyakini ada kekuatan maha dahsyat yang terkandung di dalamnya. Saya mengawali hari-hari berat saya dengan bacaan itu. Saya tidak meragukan barang sedikit pun bahwa dengan menyebut asma-Nya, Allah senantiasa ada bersama saya dan siap mendengar setiap do’a-do’a saya.”

Ketika aku tanya bagaimana caranya agar basmallah  itu betul-betul mujarab. Ia pun menjawab “di setiap tarikan nafas. Jangan dibaca ketika pas sedih atau butuh doang.” 

Kemudian ia melanjutkan…

“Saat bangun tidur. Kita bimbing mata dengan basmallah. Saat senyumpun. Tarikan bibir diiringi basmallah. Biar semua berkah…” diiringi gambar emosi muka merona.

Kemudian ia melanjutan kata-katanya. “Saya selalu ingin menangis kalo ingat betapa dahsyatnya kalimat sederhana ini. Cos udah ngerasain kehebatannya.”       

Aku dibuatnya semakin penasaran dengan kehebatan basmallah ini. Aku pun melontarkan tanya untuk kesekian  kalinya.  

Klo boleh tahu kedahsyatan apa yang  sudah dirasakan dan setelah mengamalkan basmalah berapa lama? 

“Sudah lama banget Mas. Sejak ujian itu datang…18 tahun silam saya seperti perahu yang terhempas dengan 4 bocah dalam pelukan saya. Ketika orang-orang merasa ngeri dan meragukan. ‘Dengan apa kamu akan menghidupi dan membesarkan anak-anakmu?’ Saya menjawab tanpa ragu, Dengan Bismillah.”

Kemudian perempuan itu melanjutkan:

“Dan Alhamdulillah saya bisa mendampingi anak-anak sampai mereka mentas. Sulung saya (perempuan) sudah menikah dan punya anak satu. Anak lanang bulan ini akan menyusul. Anak nomor 3 (laki-laki) bekerja di Jakarta. Bungsuku (perempuan) sedang skripsi. Ia kuliah di UB ambil Mat Murni. Insya Allah kalo Allah menizinkan mau lanjut S2 di luar…”          

Aku merasakan ada kebanggaan yang luar biasa dari kata-kata perempuan yang menekuni usaha sanggar rias pengantin “kharisma” ini.

Perempuan ini mengaku bukanlah perempuan perkasa yang bisa segalanya. Sebagai manusia yang lemah ia juga sering menangis mengais-ngais harap belas kasih Allah di atas sajadah di tengah malam yang sunyi.   

Saya bukan perempuan perkasa. Saya juga sering menangis kala dada ini terasa penuh. Tapi tangisan itu tidak saya tampakkan di depan anak-anak. Saya menangis diam-diam di atas sajadah pada tengah malam saat mereka sudah tidur. Dalam sujud panjang tanpa segan saya wadulkan semua kepada Allah. ‘Ya, Rabbul izzah. Terangkan hati yang gulita. Tenangkan kembali jiwa yang resah. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pemberi pertolongan.’ Lalu, setelahnya saya akan berangkat tidur dengan perasaan ringan.”

Di akhir ceritanya ia menulis:

“Jadi, sekarang ketika orang-orang terperangah melihat saya masih bisa berdiri di antara bocah-bocah yang sudah tumbuh dewasa, saya tersenyum dan tak henti berucap syukur. Alhamdulillah. Lantas siapa sesungguhnya yang lebih perkasa dari zat yang Maha Perkasa? Mengapa acapkali kita meragukannya?”

Demikian cerita perjuangan seorang Single Mom bersama empat anak-anaknya mengarungi samudera kehidupan dengan berbekal kalimat basmallah dan keyakinan yang tulus kepada Allah.

Selamat kepada Mbak Lilik Fatimah Azzahra yang sudah sukses mengantarkan anak-anaknya menjadi pribadi-pribadi  tangguh yang sukses dalam pendidikan, karir dan keluarga.  

Mbak Lik… Engkau tidak hanya pandai merangkai kata-kata puisi yang mempesona tapi juga pandai merangkai do’a tuk merayu illahi rabbi. []    

Maman Abdurahman
Follow me
0 0 vote
Article Rating

Maman Abdurahman

Magister Psikologi Islam UNIVERSITAS INDONESIA. Sarjana Agama jurusan Aqidah Filsafat IAIN (Sekarang UIN) Jakarta. Meneliti tentang keluarga dan keberagamaan. Menulis persoalan perkawinan, keluarga, cerpen dan puisi.

Maman Abdurahman
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x