Dua Garis Biru dan Kesehatan Reproduksi Remaja

Ilustrasi: pixabay.com

Dua garis biru, sebuah film yang menuai kontroversi akhirnya 11 Juli 2019 lalu tayang di bioskop. Film tentang dua remaja yaitu Dara dan Bisma yang berpacaran dan akhirnya melakukan hal yang di luar batas kewajaran. Dara hamil dan membuatnya dikeluarkan dari sekolah. Dia dan Bisma sebagai remaja melakukannya atas dasar ketidakmengertian tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi (kespro).

Remaja seperti Dara dan Bisma di Indonesia angkanya cukup tinggi. Terdapat 1,7 juta remaja di bawah usia 24 tahun melahirkan setiap tahun. Remaja Usia 15-19 tahun yang hamil mencapai 48 dari 1000 kehamilan. (SDKS 2012 Kesehatan Reproduksi Remaja BPS) Terlepas dari berbagai kontroversi terhadap film “Dua Garis Biru”, hal yang sangat penting yang harus kita perhatikan bersama ialah bagaimana remaja memahami apa itu kespro. Agar kejadian yang dialami Dara dan Bisma bisa dihindari oleh para remaja di Indonesia.

Kesehatan reproduksi adalah hal yang sangat penting yang harus diperhatikan semua orang. Peraturan Pemerintah (PP) no 61 tahun 2014 sudah mengatur hal ini. PP ini mengatakan bahwa kesehatan reproduksi merupakan keadaan sehat, sejahtera baik segi fisik, mental dan sosial dalam fungsi reproduksi. Kesehatan tidak hanya bermakna fisik saja yaitu terbebas dari penyakit, melainkan juga dalam menjalankan fungsi reproduksinya.

Kespro pada remaja merupakan keadaan remaja ditinjau dari sudut perkembangan alat reproduksinya termasuk fungsinya secara berangsur. Perubahan fisik pada remaja laki-laki seperti badannya lebih berotot, tumbuh kumis dan bulu ketiak, lebih tinggi, terjadi perubahan suara, berjerawat, penis membesar dan mimpi basah, merupakan proses nyata dari perkembangan alat reproduksi. Sedangkan pada remaja perempuan ditandai dengan mengalami menstruasi, berkembangnya payudara, tumbuh bulu ketiak dan pinggul membesar.

Perubahan alat dan fungsi reproduksi pada remaja dari masa anak-anak menjadi dewasa adalah problem itu sendiri bagi remaja. Para remaja menjadi tidak nyaman dan tidak memahami hal ini karena tidak pernah mendapat informasi yang benar.

Akses internet merupakan sumber informasi paling banyak yang didapatkan oleh remaja saat ini terkait kespro selain peer group (teman sebaya). Kedua sumber informasi ini sulit dikontrol, misalnya internet yang berisi semua konten baik yang positif maupun negatif. Karena rasa ingin tahunya begitu tinggi terhadap seksualitas dan kespro, banyak remaja akhirnya kecanduan dengan konten negatif seperti pornografi. Demikian pula halnya dengan teman sebaya yang sangat berpengaruh dalam kehidupan remaja. Tidak semua teman yang ada disekeliling seorang remaja itu baik.

Orang tua seharusnya bisa menjadi sumber informasi utama dan terpercaya dalam pemberian informasi maupun perlindungan bagi kespro remaja. Orang tua menjadi orang terdekat dengan anak remajanya. Tidak hanya menjadi orang tua tetapi juga menjadi sahabat. Membangun komunikasi dua arah yang terbuka, terjamin kerahasiaan serta penuh kasih sayang.

Ini merupakan tantangan bagi para orang tua, karena masih banyak orang tua yang memiliki hubungan searah dengan anak remajanya. Orang tua masih banyak yang selalu menasihati, memberi perintah bahkan memarahi anak remajanya tanpa mau mendengarkan. Akhirnya anak lebih memilih akrab dengan gadget dan temannya, kemudian asing dengan orang tuanya.

Bila kembali merenungkan firman Allah dalam surat an-Nisa (4) ayat 9, Ia mengingatkan kita agar tidak meninggalkan generasi yang lemah sehingga kita begitu khawatir saat meninggalkan mereka. Caranya yaitu dengan menguatkan para remaja tentang pentingnya memahami dan menjaga kespro mereka. Melibatkan para profesional atau lembaga yang dapat memberikan informasi dan layanan bagi remaja dengan penanganan sesuai dengan kebutuhan dan selera remaja. Yang paling utama tentu menjadi orang tua sekaligus sahabat yang bisa dipercaya dan melindungi.

Neng Hannah
Latest posts by Neng Hannah (see all)
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Indonesia dalam hal ini Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan Kementerian Agama. Layanan Kesehatan Reproduksi bagi Calon Pengantin diintegrasikan dengan Bimbingan Calon Pengantin yang diadakan oleh Kementerian […]

1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x