Esensi Nikah: Jangan Permainkan Talak

Ilustrasi: freepik.com

Kita tahu bahwa esensi sakral dari sebuah perkawinan adalah berlangsungnya peristiwa spritual untuk sebuah tujuan yang mulia, yaitu menghalalkan yang haram atas nama Allah swt. Sehingga ‘aqdun nikah bukanlah sekedar kontrak sosial, akad kepemilikan, ‘aqdun tamlik. Namun nikah adalah sebuah peristiwa religius yang agung.

Bagi seorang suami, laki-laki yang menganggap biasa ucapan-ucapan talak, sesungguhnya telah mencederai esensi sakral perkawinan tersebut. Sekalipun secara kinayah, tersamar, kata talak berupa sindiran, ataupun bahasa-bahasa usiran seperti “pulang saja kamu ke rumah orang tuamu”; Atau “sana cari saja laki-laki lain” yang diucapkan suami, sejatinya tidak lagi memegang kokoh ikatan perkawinan yang dilakukan atas nama Tuhan.

Profesor Nasarudin Umar dalam acara ceramahnya di sebuah stasiun televisi di Indonesia, telah menyampaikan, setidaknya ada dua kalimat yang tidak boleh dianggap remeh. Sehingga mudah dipermainkan. Dua kalimat tersebut adalah kalimat tauhid, dan kalimat talak.

Kalimat tauhid adalah kalimat pengesaan terhadap Tuhan yang Maha meliputi kehidupan seluruh makhluk-Nya. Sehingga dengan semangat kalimat tauhid melalui ikatan perkawinan, semua pihak, baik suami maupun istri, atau kedua belah keluarga besar, menyadari betul bahwa sesungguhnya mereka tengah melangsungkan kontrak dengan Allah swt, ‘aqdun ‘ibaadah. Siapa pun yang terlibat dalam akad ibadah tersebut harus bersepakat, saling menyeru bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah swt, yang wajib dijadikan sembahan yang haqq. Hanya Tuhan satu-satunya sandaran ibadah dalam kehidupan perkawinan yang panjang. Tidak boleh ada tuhan-tuhan lain dalam kehidupan bersama perkawinan.

Fenomena 12% perceraian tiap tahun yang terjadi saat ini, salah satunya adalah akibat mudah mempermainkan kalimat talak. Ini merupakan emosi sesaat yang tidak terkendali dengan baik oleh diri  seorang suami.

Suami atau laki-laki, tidak boleh egois, semena-mena menggunakan hak talaknya, untuk menyakiti atau mengintimidasi istri. Atau bahkan untuk berusaha menjadi orang yang berkuasa atas diri istri. Karena sesungguhnya, istri adalah milkullah, anak-anak, diri kita juga adalah milik, hamba Allah swt. semata. Bukan siapa-siapa.

Menikah sesungguhnya adalah langkah mulia membangun tatanan jiwa spiritual yang matang untuk digunakan dalam menjaga martabat kemanusiaan. Bukan kesenangan sesaat. Bahagia hanya di dunia saja. Sehingga gampang bongkar ganti pasangan. Dengan menikah seharusnya diri kita memiliki kontrol spritual, emosional, dan jiwa yang baik, serta pengetahuan yang luhur akan ilmu-ilmu Allah swt., sehingga tidak mudah mengucapkan kalimat talak di sepanjang perkawinan. Apapun ujian persoalan yang ditemui.

Semua pihak harus memiliki pemikiran yang fundamental dalam perkawinan. Bahwa obsesi tertinggi dan suci dalam perkawinan adalah menikah sekali seumur hidup. Bahagia dunia hingga akhirat bersama-sama. Utuh dalam ikatan satu keluarga yang menempati surgaNya di akhirat, sebagai mukmin-mukminah sejati yang meraih ridha Tuhan.

Mudah-mudahan kita semua mampu memahami dan menjalankan murninya nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam ibadah perkawinan ini. Tidak mudah mempermainkan kalimat talak, demi semakin tegaknya kalimat tauhid dalam sunnah perkawinan. Wallahu a’lamu bisshawab. []

Hafidzoh Almawaliy Ruslan
Latest posts by Hafidzoh Almawaliy Ruslan (see all)
0 0 votes
Article Rating

Hafidzoh Almawaliy Ruslan

Freelancer. Mantan Redpel Swara Rahima, Jakarta. Gabung di komunitas Youth Peace, Tolerance, and Feminism Movement, Indonesia.

Hafidzoh Almawaliy Ruslan
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x