Family Man, Kisahnya dalam Alqur’an

Ilustrasi: freepik.com

Al-Quran penuh dengan kisah-kisah indah yang berkisar seputar peran sebagai ayah. Berulang kali, Allah memberikan kesaksian kepada para nabi yang diakui sebagai ayah-ayah yang hebat.

Ada Nabi Nuh, sosok ayah yang baik hati dan tegas yang memohon kepada putranya untuk percaya pada keesaan Tuhan sebelum musibah melanda. Ia mengetahui bagaimana anaknya dan sangat ingin melindunginya dengan cara mengajaknya untuk beriman kepada Allah SWT.

Dikisahkan juga ada Nabi Luth, seorang ayah yang dengan gagah berani melindungi anak-anaknya dari godaan di lingkungannya. Kita mengetahui bahwa ujian bagi Nabi Luth adalah godaan seksualitas diantara kaumnya yang menyukai sesama jenis. Nabi Luth berusaha melindungi keluarganya agar tidak menjadi objek seksualitas kaumnya.

Lalu diceritakan juga seorang ayah yang sangat lembut hatinya meski harus berurusan dengan kisah penculikan memilukan putranya sendiri yang dilakukan oleh putra putranya lain. Yaitu Nabi Ya’qub dengan kisah Nabi Yusuf kecil dalam lingkaran kedengkian kakak-kakak lelakinya yang tega menjerumuskannya ke dalam sumur dan mengelabui ayahnya dengan berita bohong.

Yang lebih heroik lagi adalah kisah seorang Ayah dua nabi besar untuk bangsa besar, Ismail AS dan Ishaq AS. Nabi Ibrahim AS telah mengambil tugas membangun Ka’bah dengan putranya yang luar biasa, Ismail AS. Dengan cara itu Allah telah memerintahkan ayah dan anak ini untuk membangun Ka’bah sebagai fondasi awal peradaban Islam. Ketaatan Ibrahim As sebagai hamba Allah melebihi segalanya dan ia mampu mendidik anaknya untuk bisa taat pula kepada Allah meski ‘kematian’ sebagai ujiannya dan godaan setan sebagai hambatannya. Ibadah Haji adalah ‘monumen’ abadi bagi semua ritual keluarga Ibrahim, tentang kesabaran dan ketaatan kepada Allah. Bagaimanapun, Allah (SWT) dapat memerintahkan Ibrahim untuk membangun Rumah Allah sendiri, bersama anaknya. Dia meninggalkan istri dan anaknya di Mekkah untuk memulai sebuah kehidupan.

Terakhir adalah Nabi Muhammad SAW yang terbukti sebagai FamilyMan terhebat sepanjang masa. Satu pesan Nabi Muhammad (saw) dengan tegas menasihati para pengikutnya: “Yang terbaik dari kamu adalah dia yang terbaik untuk keluarganya dan aku yang terbaik di antara kamu untuk keluarga saya” (HR. Tirmidzi). Dengan mengatakan ini, ia sesungguhnya mengingatkan umat muslim untuk meniru perilakunya ketika berhadapan dengan keluarga mereka sendiri.

Dalam Islam membangun peradaban tidak bisa dengan hanya mimpi namun dengan ilmu. Ilmu dari Alqur’an dengan berbagai ibroh yang ada dan fondasi peradaban itu adalah keluarga dimana ayahlah sebagai arsiteknya. Fondasi peradaban ummat Muslim ada dalam unit keluarga. Di sinilah fungsi kepemimpinan ayah menjadi sangat penting.  Jika mayoritas unit keluarga memiliki wawasan yang baik yang berasal dari Alqur’an maka hubungan lahiriyah yang lebih baik akan terjadi satu sama lain, apakah mereka ia sebagai tetangga, rekan kerja, teman sekelas, dan keluarga lain di masyarakat pada umumnya. Jadi, tidak heran jika Nabi (SAW) meluangkan waktu untuk mengingatkan kita tentang pentingnya kepemimpinan dalam keluarga dan pentingnya ayah sebagai Family Man.

Nabi Muhammad sebagai Ayah yang Baik

Nabi membesarkan empat putri dalam budaya di mana bayi perempuan dianggap dikutuk. Dia mendidik mereka dan menikahi mereka dengan suami muslim yang saleh. Nabi masih bergegas ke rumah putrinya Fatimah ketika dia merindukannya bahkan setelah dia menjadi ibu bagi banyak anak. Dia dikenal karena membiarkan cucu cucunya naik di punggungnya selama sholat. Boleh dibilang, tidak ada ikatan yang lebih kuat antara ayah dan anak selain hubungan Nabi dan Fatimah sebagai putrinya.

Saat Nabi harus kehilangan anak-anaknya; dua putri di Mekah dan satu di Madinah. Nabi secara alami menangisi kematian mereka dimana pada saat yang sama dan pamannya, Abu Lahab, justru merayakan kematian mereka. Dalam khotbah perpisahannya kepada orang-orang beriman, Nabi mengingatkan para lelaki untuk bersikap lembut terhadap istri mereka. Dia juga memberi tahu mereka bahwa istri dan suami memiliki hak dan tanggung jawab satu sama lain.

“Wahai manusia, memang benar bahwa kalian memiliki hak-hak tertentu sehubungan dengan perempuan kalian, tetapi mereka juga memiliki hak atas kalian. Ingatlah bahwa kalian telah menjadikan mereka sebagai istri kalian hanya di bawah kepercayaan Allah dan dengan izin-Nya. Jika mereka mematuhi hak kalian maka mereka berhak untuk diberi makan dan berpakaian dalam kebaikan. Perlakukan istri kalian dengan baik dan bersikap baik kepada mereka karena mereka adalah mitra kalian.. ” Demikan diucapkan Nabi.

Siapakah Sosok Family Man masa kini

Family Man adalah istilah lain dari seoranng laki-laki yang menjalankan perannya dalam keluarga.  Biasanya Family Man dianggap sebagai laki laki yang mencintai keluarganya lebih dari apa pun dan senang menghabiskan waktu bersama keluarga. Banyak yang berpikir bahwa laki laki ini hanyalah “laki laki rumahan”, yang jarang kongkow dengan teman temannya. Namun tidak sepenuhnya seperti itu. Tipe pria demikian tidaklah identik dengan pria rumahan saja, tetapi juga termasuk pria yang sadar akan kehidupan rumah tangganya. Ia adalah laki-laki yang memiki semangat kerja keras demi keluarga, tidak semata-mata menghabiskan waktunya demi hobi dan kegemarannya saja. ia juga selalu hadir dan menolong pasangannya ketika membutuhkan pertolongan.

Biasanya sosok Family Man digambarkan sebagai laki laki yang sayang kepada Ibu dan saudara perempuannya. Ia sangat menyayangi ibu dan saudara perempuannya dan rela meluangkan waktu untuk menemani belanja, membantu membereskan pekerjaan domestik rumah tangga. Ia tidak malu dan merasa risih saat menggandeng ibunya di tempat umum.  Ia juga tidak permah merasa jengah untuk mengekspresikan sayangnya kepada anak kecil. Ia adalah sosok laki-laki dengan kepekaan kepada anak kecil. Ia bisa mengajak bermain dan bersenang-senang dengan anak kecil. Ia juga dengan mudah disukai anak-anak karena sifat baiknya. Juga ia mampu mengerjakan pekerjaan rumah. Laki-laki family Man tidak segan untuk ikut membantu membereskan rumah. Mencuci piring atau menyapu halaman yang kotor.

Ciri Family Man adalah;

  1. Sosok laki laki yang mencintai anak-anak
  2. Betah di rumah
  3. Keluarga adalah prioritas utama
  4. Mendahulukan kepentingan anggota keluarga
  5. Selalu menyimak dengan baik
  6. Bangga dengan keluarga
  7. Mengajari budi pekerti anak-anak

Akhirnya, tidak ada harta yang paling berharga selain kebahagiaan keluarga. Seorang ayah, seorang Family Man akan terus fokus pada kebahagiaan istri dan anak-anaknya. Kebahagiaan mereka adalah segalanya dan ini menjadi dasar segala tindak tanduknya. Dia mampu membagi waktunya untuk bekerja mencari nafkah, mengasuh anak-anak, dan memanjakan istrinya.   Dan yang terpenting adalah bagaimana ia dengan senang hati mengajarkan karakter yang baik kepada anak-anak sebagai asset masa depan bangsa dan agama.

Wallahu a’lam

Daan Dini
Latest posts by Daan Dini (see all)
0 0 vote
Article Rating

Daan Dini

Mantan redaktur pelaksana Swara Rahima, founder Aminhayati Educares dan dosen di STAI Haji Agus Salim.

dini khairunida
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x