Gaidha

Ilustrasi: freepik.com

“Ya Allah, Saya Ikhlas, Saya tidak ingin memberatkannya. Saya pasrahkan segalanya kepada-Mu, Kami sudah melakukan semua hal semaksimal mungkin untuknya, hanya yang terbaik yang kami harapkan dari-Mu. Ikhlas dan ridho, ya Allah. Apapun yang akan Engkau lakukan atas titipan ini. Jika Engkau akan mengambilnya kembali, Saya ikhlas. Jika pun Engkau masih memberi Kami kesempatan untuk menjaga amanah-Mu, Kami ridho dengan dengan segala yang akan terjadi, kami akan menerimanya dengan segala kondisinya yang ia miliki” Ucapku lirih seolah mengajak Tuhan melakukan perjanjian saat melihat bayi mungil 10 bulan itu kritis setelah 10 hari koma.

Secara medis, harapan kami sudah sangat tipis untuk melihatnya sadar kembali. Namun, kami sangat percaya bahwa keajaiban-Nya itu ada. Manusiawi bila saat itu rasa takut kehilangan berkecamuk dengan perasaan harus siap menerima keadaan yang digambarkan dokter terkait resiko penyakitnya tersebut. Meningitis. Bayi mungil itu tidak akan sadarkan diri dan akan kembali ke pangkuan-Nya. Bilapun keajaiban itu dating, Ia sadar dan terbangun, maka ia akan cacat seumur hidupnya. Pasrah, hanya itu yang bisa kami lakukan.

###

Pagi itu Gata dan Ghaida begitu bahagia. Week End adalah waktu yang selalu mereka tunggu-tunggu. Ayahnya akan pulang dan membawa segudang oleh-oleh beserta sejuta kebahagiaan buat mereka. Sejak Dini hari Gata sudah terbangun, dia tak sabar menunggu ayahnya mengetuk pintu dan dia akan segera menyambut ayahnya dengan bahagia, tak terkecuali hari ini.

Assalamualaikum.’ Ucap Ayah sambil mengetuk pintu.

Biasanya Ayah tak perlu menunggu lama, karena Gata akan segera berlari untuk membukakan pintu. Tapi hari ini berbeda, tidak ada sosok mungil yang membukakan pintu untuknya. Ayah pun sedikit merasa heran, tidak seperti biasanya, Ia menunggu lama di luar rumah. Tak lama, Ayah pun mengucapkan salam untuk kedua kali. Namun pintu tak kunjung dibuka. Ayah semakin heran. Akhirnya ayah pun mencoba menekan daun pintu untuk membuka pintu sendiri.

Saat pintu terbuka, segera Ayah mengetahui apa yang terjadi. Ayah tersenyum lebar dan bahagia. Ohh.. ternyata Gata tak segera membukakan pintu untuk dirinya adalah karena Gata sedang menuntun lembut adiknya, Ghaida, yang baru saja bisa berjalan. Gata ingin memberikan kejutan untuk Ayahnya. Ia ingin membukakan pintu untuk ayah bersama adiknya tersebut.

  ###

“Transfusi harus segera dilakukan bu, karena trombositnya terus menurun hingga 6000. Silahkan ibu mau membawa pendonor sendiri atau pihak rumah sakit yang menyediakan dengan dana…..”  Ucap Suster yang sedari tadi terus bulak balik ke kamar perawatan karena Ghaida sudah tiga kali kejang menjelaskan terkait tindakan yang harus dilakukan.

Belum sampai kalimat suster itu selesai, segera kusela “Silahkan secepatnya disiapkan pihak Rumah Sakit Sus, lakukan transfusi itu segera, mana yang harus saya tandatangani?” potongku. Di Waktu genting seperti ini masih saja menjelaskan nilai materi yang harus dibayar, nilai materi itu bisa dicari, walaupun harus berhutang ke sana ke mari atau menjual semua asetku, masih bisa dicari untuk menggantinya. Namun jika nyawa buah hatiku hilang tak tertolong hanya karena kelalaianku   maka tak akan ada tempat untuk bisa mencari gantinya, batinku marah.

Segera setelah surat persetujuan tindakan kami tandatangani, pihak Rumah Sakit langsung menghubungi PMII terdekat, dan tidak perlu waktu lama kami mendengar kabar bahwa darah yang dicari sudah tersedia, “Ibu, Alhamdulillah darah adik sudah tersedia di PMII Kota, namun harus menunggu karena yang dibutuhkan Adik adalah trombositnya saja, jadi harus ada proses khusus untuk pemisahannya.” ujar suster menjelaskan.

Tak berselang lama, proses transfusi pun dilakukan. Pasca transfusi darah, kondisi Ghaida justru semakin menurun, trombositnya memang sempat naik namun kemudian turun lagi. Serta merta tindakan transfusi darah yang kedua pun harus dilakukan, karena Hb bayi mungilku terus ikut menurun.

Semua tindakan dilakukan dengan semaksimal mungkin, walaupun secara prosentase keberhasilan sangat kecil. Pilihan besar hasil akhir pun sudah siap kami terima. Namun, sekecil apapun harapan peluang untuk hidup, kami sangat yakin, masih ada Sang Pemilik bayi mungil itu, tidak ada yang tidak mungkin Dia lakukan dan berikan kepada Hamba-Nya, karena Dia-lah pemilik sejati titipan cantik ini. Atas kemahakuasaan-Nya, Dia mampu menentukan segala yang terjadi. Kami masih terus berusaha semaksimal mungkin yang mampu kami lakukan sampai titik akhir. Tekad Kami penuh. Hanya menunggu keajaiban-Nya.

Setelah tindakan transfusi yang kedua dilakukan, tak berapa lama terdengar suara tangis keras seorang bayi dari ruangan ICU, suara yang tidak asing ditelingaku. ‘Itu suara tangis Ghaida,” Yakinkanku dalam hati. Benar saja, tak lama seorang suster keluar dan mengabarkan bahwa Ghaida-ku yang sudah 10 hari terlelap itu terbangun. Tak ada kata yang mampu terucap selain rasa syukur atas karunia-Nya ini.

Alhamdulillah,, Terimakasih Ya Allah, Engkau masih memberi kami kepercayaan dan kesempatan untuk terus bersamanya.” Ucapku lirih di tengah suara tangis kebahagiaan yang tak bisa lagi terbendung. “Akan kami terima apapun kondisinya, akan kami jaga sebaik-baiknya.”

###

A’udzubillahi min asy-syaitanir rajiim. Bismillahirrahmanir rahiim. Inna a’thainaakal kautsar, fasholli lirabbika wanhar, inna syaaniaka huwal abtar. Shodaqallahul ‘adziim.” Dengan lantang dan berani sedang dibacakan seorang gadis kecil di dalam kelas. Tak lama selesai membaca ayat tersebut, Ia langsung berlarian bersama teman lainnya di sekolah. Dia begitu riang, aktif, lincah, dan pintar.

“Umiiii,,,” sambut gadis kecil itu saat melihatku masuk ke halaman sekolah hendak menjemputnya. Ya dialah Ghaida kecilku. Tak ada sedikitpun kecacatan dalam dirinya, seperti prediksi dokter saat Ia sembuh dari sakitnya dulu. Terima kasih Ya Allah atas Karunia-Mu.[]   

Silvia Rahmah
0 0 vote
Article Rating

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0

Silvia Rahmah

Magister Pendidikan Quran Hadis. Berpengalaman di dalam dunia jurnalistik dan editor di sejumlah penerbit nasional. Ia juga menyukai pengasuhan anak-anak atau parenting.

Silvia Rahmah
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments