Inilah Nasihat Pernikahan Buya Husein Muhammad Kepada Putrinya

Ilustrasi: freepik

Pernikahan adalah perjanjian sakral yang menyatukan dua manusia berlainan jenis kelamin untuk sama-sama menjalani kehidupan.  Ikatan itu harapannya berlangsung selama-lamanya, seumur hidup. Karenanya, segala upaya dilakukan oleh mempelai dan keluarganya untuk mewujudkannya. Salah satunya adalah dengan memberikan nasihat pernikahan kepada kedua mempelai.

Nasihat pernikahan itu pula yang disampaikan oleh KH. Husein Muhammad atau biasa disapa Buya oleh keluarganya. Nasihat pernikahan itu dituliskan dalam sebuah buku mungil  yang berjudul “Kembang Setaman Pernikahan”. Di buku ini tidak hanya nasihat pernikahan dari Buya untuk kedua mempelai tapi ada 11 tulisan lain dari keluarga dan sahabat-sahabat keluarga besar Buya yang memberikan sambutan dan kesaksian atas pernikahan tersebut.  

Dalam nasihatnya, Buya menyampaikan sejumlah poin penting:

Pertama, Buya memberi tahu putrinya bahwa pernikahan membuat situasi dan kondisi yang berbeda dalam berelasi dengan orang tua. Sebagaimana Buya katakan berikut ini:

“Anakku, engkau tak lagi menjado ayahmu sepenuhnya, dan ayahmu juga tidak lagi jadi milikmu sepenuhnya. Engkau kini sudah menjadi milik orang lain, suamimu, seperti juga dia telah menjadi milikmu, engkau menjadi istrinya. Meskipun demikian, engkau selalu milik Buya dan Ummi selamanya, dan kami berdua adalah milikmu selamanya. Karena di dalam dirimu mengalir darah kami, buah dari kasih dan cinta kami. Di wajahmu juga ada Buya dan Ummi.”

Kedua,  Buya Husein Muhammad, sebagai orang tua, meminta ma’af kepada putrinya barangkali selama kebersamannya membuat hati putrinya terluka karena sikap dan perkataannya. Namun demikian, Buya Husein menegaskan bahwa itu pasti tidak didasari oleh rasa benci atau ingin menyakitinya tapi semata-mata karena perbedaan sudut pandang dalam melihat kebaikan dan keburukan. “Tetapi engkau tentu tahu bahwa orang tuamu tiada mungkin melakukannnya karena membencimu atau sengaja menyakitimu.”

Ketiga, pasangan, menurut Buya Husein, adalah tempat berbagi kegembiraan dan kebahagiaan, berbagi tawa dan keriangan. Pasangan juga tempat berbagi keluh kesah ketika ada luka , nestapa dan kegalauan. Menurut Buya, dua situasi jiwa itu selalu hadir dalam hidup dan kehidupan manusia. Jika duka nestapa menghampiri, Buya menasihati agar tetap yakin bahwa Allah senantiasa mengabulkan permohonan hamba-hambanya. Dan diiringi dengan besyukur, bersabar dan tawakkal.

Keempat, Buya Husein juga berpesan kepada anaknya untuk terus dan tak pernah berhenti menuntut ilmu. “Sebab ilmulah yang akan membuat kalian menjadi mulia dan dunia berpendar cahaya.” Lebih lanjut Buya Husein berpesan “Hendaklah kalian bagaikan burung yang meninggalkan sarangnya pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” Buya juga berpesan Ketika melanjutkan pendidikan niatkan hanya untuk  mencari ilmu dan niatkan hanya karena Allah semata. Bukan karena mencari gelar.

Kelima, Buya Husein juga berpesan secara khusus kepada anak menantunya. Dalam hal seksualitas, diperlukan saling menghargai dan menghormati agar kegembiraan dan kebahagiaan dapat dirasakan Bersama. “Bila yang satu berhasrat, maka yang lain menyambutnya dengan penuh kegembiraan.”  

Meskipun demikian, Buya Husein mengingatkan bahwa hasrat tidak boleh dipaksakan ketika tubuh sedang tidak sehat atau situasi hati sedang galau. “Dalam kondisi ini yang diperlukan adalah kesabaran.” Karena menurut Buya, karena ekspresi-ekspresi seksualitas yang dilakukan secara sehat, suka sama suka, (dalam bingkai pernikahan) akan menghasilkan anak-anak yang sehat dan cerdas.  

Keenam, dalam sebuah pernikahan tidak hanya mengalami sesuatu yang bahagia dan keindahan. Tetapi juga ke keburukan dan kesedihan. Karena ada persoalan dan masalah. Ketika menghadapi perbedaan kehendak maka, menurut Buya, jalan yang terbaik adalah bermusyawarah dan membicarakannya dengan santun tanpa emosi berlebihan dan tanpa ingin menang sendiri.

Ketujuh, jika istri sedang hamil, suami diharapkan memberikan perhatian dan kasih sayang yang lebih terhadap istri. Karena mengandung adalah sesuatu yang sangat berat bagi perempuan. Karenanya, berilah kasih sayang kepada istri lebih kuat lagi dibanding sebelum hamil. Kemudian, perdengarkanlah ayat-ayat suci al-qur’an dan juga perdengarkan musik klasik yang lembut, yang menyimpan pesan-pesan spiritualitas kemanusiaan.  Buya mengutip Imam al-Ghazali “mendengarkan musik penting bagi seorang yang hatinya dikuasai oleh cinta kepada Tuhan, supaya api cintanya berkobar-kobar”.

Demikian butir-butir nasihat pernikahan Buya Husein Muhamamd kepada putri tercintanya. Semoga nasihat ini juga bis akita terapkan untuk kita semua  dalam mengarungi bahtera pernikahan. ()            

Maman Abdurahman
Follow me
0 0 vote
Article Rating

Maman Abdurahman

Magister Psikologi Islam UNIVERSITAS INDONESIA. Sarjana Agama jurusan Aqidah Filsafat IAIN (Sekarang UIN) Jakarta. Meneliti tentang keluarga dan keberagamaan. Menulis persoalan perkawinan, keluarga, cerpen dan puisi.

Maman Abdurahman
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x