Izin Suami, Izin Istri

Ilustrasi: freepik.com

Salah satu upaya membangun sikap saling terbuka dan saling percaya, adalah dengan  saling pengertian memberi izin, saling memberi kabar antara istri dan suami atas keperluan apapun. Suami yang sekiranya hendak ke mana-mana tetap rendah hati, meminta izin kepada istrinya, demikian juga istri yang senantiasa izin kepada suaminya. 

Izin ini sebetulnya bisa langsung secara lisan, bisa melalui alat komunikasi dan lain sebagainya. Termasuk dalam bentuk komitmen. Izin untuk bepergian atau keperluan lainnya. 

Saya pikir jika istri dan suami saling membuka diri seperti ini, konflik rumah tangga bisa urung terjadi, bahkan semakin jauh. 
Lalu bagaimana jika suatu ketika–entah karena lupa, atau karena alasan tertentu–istri tidak meminta izin kepada suami, demikian juga suami yang tidak memberi kabar kepada istri. Mungkin sebagai manusia biasa, baik istri maupun suami akan merasa kesal. Karena telah membuatnya khawatir. Dan itu menusiawi. Hanya saja jangan sampai terjebak pada kemarahan yang berlebihan, apalagi sampai mencap istri sebagai istri yang durhaka. Atau mencap suami tidak memegang komitmen.

Apapun yang terjadi, sebaiknya dibicarakan baik-baik. Sepanjang keperluan istri ataupun suami itu dalam keperluan yang maslahat, tidak perlu dibesar-besarkan, apalagi sampai kemudian melakukan kekerasan. 
Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang ibu paruh baya. Ia dan suaminya telah belasan tahun menjalin kehidupan rumah tangga. Cek-cok, kesal, marah dan perasaan serupanya sudah tidak terhitung. Entah kenapa akhir-akhir ini kejengkelannya terhadap suami semakin menjadi. Betapa tidak, sudah berkali-kali ketahuan berselingkuh, membohongi istri untuk berhutang, sementara uangnya diberikan kepada perempuan lain, lalu sang istri tidak diberi izin untuk sekadar berjualan kecil-kecilan sedikitpun, hatinya benar-benar sakit dan kemarahannya semakin berada di ujung tanduk. Sampai hari ini hanya karena tidak diberi izin suaminya, ia tetap tidak berdaya, sementara hutang dan beban hidup lainnya semakin menumpuk. 

Ada lagi, seorang ibu yang pandai mengelola keuangan, meskipun nafkah dari suaminya pas-pasan. Karena anaknya butuh pengasuhan yang intens, ia pun memutuskan resign dari pabrik tempat ia bekerja. Ia tampak yakin dengan keputusannya menjadi ibu rumah tangga saja. Ia pun bertekad untuk bisa lebih hemat dan cermat dalam mengelola keuangan. Ia akan menabung di bank untuk keperluan di masa depan, untuk pendidikan anak-anak atau bahkan pergi beribadah umroh ataupun haji. Tak terasa bertahun lamanya, tabungan yang selama ini ia kumpulkan di bank, jumlahnya semakin besar. Alih-alih ia merasa bangga dan akan berbagi kebahagiaan dengan suaminya, eh malah sang istri kena damprat kemarahan. Dituding sebagai istri yang durhaka karena menabung tidak izin suami. 

Mari kita merenung dalam-dalam atas dua kasus seperti yang sudah saya paparkan di atas.

Pernikahan itu akad yang mempersatukan istri dan suami untuk bersama. Agar istri dan suami bisa saling bekerja sama, satu sama lain, saling menghargai dan saling memuliakan. 

Jangan mau menjadi suami yang egois. Jangan mau menjadi suami yang sewenang-wenang. Mestinya para suami di manapun berada, harus bersyukur mempunyai istri yang prihatin dan pandai mengelola keuangan. Jangan hanya karena persoalan sepele, kehebatan istri malah tidak diapresiasi, atau malah dihinakan. Nauzubillah. 

Perempuan tetap boleh bekerja sekalipun ada dalam biduk rumah tangga. Tidak boleh ada suami yang melarang atau bahkan mengancam istri agar tidak bekerja. Urusan mengasuh anak dan urusan rumah tangga lainnya adalah menjadi tanggungjawab bersama antara istri dan suami. Bukan hanya tanggungjawab istri saja. Musyawarahkan baik-baik segala sesuatunya. Jangan hanya karena suami berjenis kelamin laki-laki lalu dengan seenaknya berkuasa atas keberadaan istri. Ingat istri dan suami sama-sama dimuliakan Allah. Tidak boleh ada suami yang merendahkan istrinya. 

Sekali lagi mestinya bersyukur ya kalau ada istri yang pandai mengelola keuangan. Ada istri yang mau membantu suami dalam urusan nafkah. Yang penting itu bukan soal besar kecilnya nafkah, akan tetapi ini soal sikap syukur suami kepada Allah dan penghargaan suami kepada istri yang turut bertanggungjawab dalam menjalin rumah tangga. Kalau ada kekurangan atau kesalahan, sebaiknya juga tidak langsung disikapi sewenang-wenang, selalu menempatkan istri sebagai pihak yang salah. Oleh karena itu menjadilah suami yang rendah hati dan tidak gengsi. Tidak ada suami yang sempurna 100 persen. Sebab salah satu tujuan menikah itu adalah untuk saling melengkapi satu sama lain. 

Memintalah maaf wahai para suami kepada istrimu atas kesewenang-wenanganmu selama ini, berjanjilah untuk tidak mengulangi kesalahan lagi. Tidak perlu gengsi, justru dengan meminta maaf, kedudukanmu akan semakin mulia. Posisikan ketentuan izin ini secara proporsional. Jangan sampai dijadikan dalih untuk menyudutkan perempuan.

Prinsip Islam soal jalinan rumah tangga itu adalah kesalingan: saling meminta izin dan saling mengizinkan. Sepanjang keperluannya untuk kemaslahatan dan ibadah, apapun yang akan dilakukan istri maupun suami tidak perlu dibikin ribet. Semoga Allah senantiasa melindungi rumah tangga dan keluarga kita. 

Wallaahu a’lam

Mamang M Haerudin (Aa)
0 0 vote
Article Rating

Mamang M Haerudin (Aa)

Penulis berasal dari Kabupaten Cirebon, Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Cirebon, Founder Al-Insaaniyah Center.

Mamang M Haerudin (Aa)
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x