Mengapa Banyak Pasangan Memilih Menjadi Keluarga Childfree by Choice?

Maya dan Dito baru saja kembali dari perjalanan mendaki tiga hari yang spontan. Di ruang tamu mereka yang rapi, aroma kopi segar bercampur dengan tawa saat mereka melihat foto-foto di kamera. Tidak ada mainan yang berserakan, tidak ada jadwal makan anak yang harus dipatuhi. Kehidupan mereka adalah kanvas yang mereka lukis sendiri dengan kebebasan, petualangan, dan waktu berkualitas berdua. Namun, setiap kali pertemuan keluarga, pertanyaan yang sama selalu muncul: “Kapan isi? Nanti nyesel, lho.”
Bagi banyak orang, pertanyaan itu wajar. Namun bagi Maya dan Dito, jawaban mereka sudah bulat dan mantap. Mereka adalah bagian dari fenomena yang semakin vokal: keluarga childfree by choice. Ini bukanlah sebuah tren sesaat atau bentuk kegagalan, melainkan sebuah keputusan sadar yang didasari oleh berbagai pertimbangan mendalam tentang makna kebahagiaan, tujuan hidup, dan definisi sebuah keluarga.
Bukan Lagi Tabu, Tapi Pilihan Sadar yang Terdata
Selama puluhan tahun, masyarakat menganggap jalur hidup ideal adalah sekolah, bekerja, menikah, lalu memiliki anak. Mereka yang tidak memiliki anak sering kali dipandang “belum lengkap” atau “kasihan”. Namun, lanskap sosial mulai berubah. Pilihan untuk tidak memiliki anak kini menjadi topik diskusi yang lebih terbuka dan diterima.
Data pun mendukung pergeseran ini. Sebuah studi signifikan dari Pew Research Center (2021) di Amerika Serikat menemukan bahwa persentase orang dewasa yang tidak memiliki anak dan menyatakan tidak akan pernah memilikinya terus meningkat. Sebanyak 44% dari non-orang tua usia 18-49 tahun mengatakan mereka tidak mungkin memiliki anak, naik dari 37% pada tahun 2018. Ini menunjukkan bahwa keputusan childfree bukanlah anomali, melainkan sebuah pilihan hidup yang semakin lazim di masyarakat modern.
Penting untuk membedakan antara childfree (bebas anak) dan childless (tanpa anak). Childless merujuk pada kondisi di mana seseorang ingin memiliki anak tetapi tidak bisa karena berbagai alasan, seperti masalah kesuburan. Sebaliknya, childfree adalah pilihan proaktif dan sadar untuk tidak memiliki anak.
Menggali Motivasi di Balik Pilihan
Mengapa semakin banyak pasangan seperti Maya dan Dito memilih jalur ini? Alasan mereka sangat beragam dan personal, jauh dari stereotip “egois” yang sering dilekatkan. Beberapa motivasi utamanya meliputi:
Pertama, Kebebasan dan Pertumbuhan Pribadi: Tanpa tanggung jawab pengasuhan, pasangan memiliki lebih banyak waktu, energi, dan sumber daya untuk mengejar passion, karir, pendidikan, hobi, dan perjalanan yang memperkaya hidup mereka.
Kedua, Kestabilan Finansial: Biaya membesarkan anak sangat tinggi. Banyak pasangan secara sadar memilih untuk tidak memiliki anak agar dapat mencapai keamanan finansial, berinvestasi untuk masa pensiun, atau sekadar hidup tanpa tekanan keuangan yang berat.
Ketiga, Fokus pada Kualitas Hubungan Pasangan: Beberapa pasangan ingin mendedikasikan seluruh perhatian dan energi mereka untuk merawat dan memperdalam ikatan pernikahan. Mereka melihat hubungan mereka sebagai unit utama yang utuh tanpa perlu kehadiran anak.
Keempat, Kesehatan Mental dan Fisik: Kekhawatiran tentang dampak kehamilan dan persalinan pada tubuh, risiko depresi pasca-melahirkan, serta stres kronis dari pengasuhan menjadi pertimbangan serius bagi sebagian orang.
Kelima, Kekhawatiran Global: Sebagian kecil—namun terus bertambah—pasangan juga mempertimbangkan isu-isu yang lebih besar, seperti dampak lingkungan dari pertambahan populasi (overpopulation), perubahan iklim, dan kondisi dunia yang mereka anggap tidak ideal untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Pilihan untuk tidak memiliki anak bukanlah penolakan terhadap nilai keluarga, melainkan pendefinisian ulang apa arti keluarga bagi individu tersebut,” jelas Dr. Rina Puspita, S.Psi., M.A., seorang sosiolog keluarga. “Kebahagiaan itu subjektif. Bagi sebagian orang, kebahagiaan puncak adalah melihat anak mereka tumbuh. Bagi yang lain, kebahagiaan adalah keintiman dengan pasangan, pencapaian pribadi, dan kebebasan untuk menentukan jalan hidup sendiri.”
Menghadapi Stigma dengan Kepala Tegak
Meskipun semakin umum, stigma terhadap keluarga childfree by choice masih ada. Mereka sering dicap egois, tidak dewasa, atau bahkan dianggap “aneh”. Komentar seperti “Nanti siapa yang merawatmu saat tua?” atau “Kamu akan menyesal” adalah makanan sehari-hari.
Namun, pasangan childfree modern semakin pandai membangun argumen dan komunitas pendukung. Mereka menemukan pemenuhan dari hubungan dengan teman, keluarga besar, hewan peliharaan, dan kontribusi kepada masyarakat. Mereka membuktikan bahwa hidup yang bermakna tidak harus selalu melibatkan peran sebagai orang tua.
Pada akhirnya, kisah Maya dan Dito adalah representasi dari sebuah kebenaran universal: setiap orang berhak mendesain hidup yang paling otentik bagi mereka. Keluarga childfree by choice merupakan sebuah pengingat bahwa keluarga modern hadir dalam berbagai bentuk. Intinya tetap sama: cinta, komitmen, dan dukungan timbal balik. Baik dengan atau tanpa anak-anak, sebuah rumah yang dipenuhi kebahagiaan adalah definisi keluarga yang sejati.(*)
