Kisah Kakek yang Kangen Cucu-Cucunya

Ilustrasi: Freepik

Sebut saja namanya kakek Abdullah. Usianya sekitar 60-an tahun. Ia keturunan Arab, hidungnya mancung badannya tinggi. Ia rajin shalat berjama’ah di Masjid dekat rumahnya.

Di usia senjanya, ia masih aktif mencari ilmu. Ia pernah bercerita kepada saya, ia bersama istrinya setiap minggu pagi pergi ke Kwitang untuk mengikuti pengajian di sana. Mereka biasa naik Jaklinko dari Condet menuju PGC (Pasar Grosir Cililitan). Dari sana mereka akan menaiki Transjakarta atau sering disebut Bus Way menuju Kwitang. 

Mereka tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun untuk biaya transportasi. Mereka mempunyai kartu gratis untuk menaiki Transjakarta sepuasnya. Ini fasilitas yang diberikan Transjakarta untuk para Lansia. Begitu pun ketika naik Jaklinko, tidak perlu membayar ongkos. Karena semuanya gratis.

“Sekali-sekali lah pergi ke Kwitang”. Ajaknya kepada saya pada suatu kesempatan selepas shalat. “Selain dapat ilmu juga dapat barang-barang yang kita butuhkan. Banyak yang berjualan.” Ia menjelaskan sambil tersenyum.

Kami seringkali pulang bareng setelah menjalankan shalat berjama’ah di masjid.  Kami berjalan beriringan menuju rumah. Kebetulan rumah kami satu arah, meskipun agak berjauhan. Kakek ini seringkali sengaja berjalan memutar mengikuti arah jalan kami hanya untuk sekedar berbagi cerita.

Salahsatu tema yang seringkali Kakek ini sampaikan adalah tentang rasa kangennya kepada cucu-cucunya. “Anak ini apa gak kangen sama orang tuanya?” Kalimat ini seringkali ia sampaikan setiap kali kami berjalan bersama.

“Bukannya orang tua gak mau nengoikin cucu.” Katanya suatu ketika kami berjalan bareng sepulang dari Masjid. “Tapi ininya gak ada.” Katanya sambil memperagakan jarinya menunjukkan tanda uang. Sebagai orang tua yang sudah tidak aktif bekerja lagi tentu ia tidak mempunyai uang untuk sekedar menengok cucunya di luar kota, tepatnya di Kota Cirebon. 

“Mbok Ya anaknya yang tahu diri.” Katanya sambil memperlihatkan wajahnya yang gemas terhadap sikap anaknya.  “Dulu pernah sekali. Anak dan cucu-cucu datang bawa mobil. ‘Ayo berkemas Pak, kita jalan-jalan.”  Waktu itu ia sangat senang sekali diajak anak dan cucunya jalan-jalan. Setelah itu, sekian lama ia merindukan anak dan cucunya datang. Sudah dua kali libur sekolah tapi anak dan cucunya tidak juga datang menjenguknya.

Sebenarnya ia mempunyai tiga anak. Dua anaknya tinggal di sekitar Condet. Ia seringkali bertemu dengan anak dan cucu-cucunya. Ketika ia kangen ia bisa mendatangi cucu-cucunya itu. Tapi yang di Cirebon? Bagaimana ia melepas rindu?

“Kan bisa lewat video call!” Kata saya pada satu kesempatan.

“Itu pun tidak dilakukannya.” Katanya.

“Sudah berapa lama Pak, ada enam bulan tidak ketemu cucu?” Tanya saya.
“Lebih. Sudah setahunan. Kami gak ketemuan.” Katanya, dengan menunjukkan raut wajah kesedihan.
“Ekonomi lagi kurang baik.” Kata Kakek itu menirukan jawaban anaknya ketika ditanya kok tidak menengok orang tuanya.               

“Nabung kek buat nengok orang tuanya. Masa gak bisa.” Katanya, seakan mempertanyakan usaha anaknya untuk mengajak cucu-cucunya menengok Kakek- Neneknya.

“Andai punya uang, saya bisa naik bis sekali pun untuk bertemu cucu.” Katanya bersemangat. Saya hanya mendengarkan dengan sesekali menimpali.

“Anak yang di Cirebon punya anak berapa Pak?” Tanya saya. “Tujuh anak. Ada yang sudah SMA.” Jawabnya.   

“Kita do’akan saja Pak anak-anak agar rezekinya banyak dan berkah sehingga bisa mengajak anak-anaknya menjenguk Kakek-Neneknya.” Kata saya mencoba meredakan gejolak rasa kangen yang begitu memburu pada si Kakek tersebut.  

Akhirnya kami sampai di pertigaan yang memisahkan kami. Saya belok menuju Jalan arah rumah saya. Sementara si Kakek itu terus berjalan dan di depan Ia belok di satu Gang.

Cerita ini terus berulang ketika kami bertemu seusai shalat berjama’ah. Saya ikut merasakan betapa kangen Kakek ini kepada cucu-cucunya.***                                                       

Maman Abdurahman
Follow me
0 0 votes
Article Rating

Maman Abdurahman

Meneliti dan menulis masalah perkawinan dan keluarga. Sekali-kali menulis cerpen dan puisi.

Maman Abdurahman
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x