Kok Bisa Anak Usia Dini Melakukan Bullying?

Ilustrasi: freepik.com

Pagi itu terjadi sedikit insiden, Anak saya yang masih duduk di sebuah Taman Kanak-Kanak tiba-tiba dia tidak mau pergi ke sekolah dan ingin berhenti sekolah. Dia menangis dan menolak untuk mau berangkat ke sekolah walau sudah dibujuk dengan berbagai hal. Awalnya sih saya menyangka ‘mungkin dia sedang tidak ingin sekolah saja karena cape atau karena ingin sedang bermain’. Jadi, hari itu saya izinkan dia tidak berangkat sekolah.

Akan tetapi, hampir beberapa hari sikapnya ini tidak berubah, walaupun dalam seminggu itu ada beberapa hari setelah saya membujuknya agar mau sekolah, akhirnya dia mau sekolah asal saya menungguinya di sekolah. Persangkaan saya saat itu masih positif, ‘mungkin dia hanya ingin ditemani karena cemburu teman lainnya ditemani ibu-ibu mereka di sekolah’ pikir saya saat itu.

Namun, selama itu pula saya terus mengajaknya berbicara, agar dia mau mengungkapkan apa yang dia rasakan atau alasan apa yang menyebabkan dia tidak mau sekolah bahkan ingin pindah. Mengikis ‘ketakutan’ yang seolah dipendamnya. Akhirnya dia berani mengatakan bahwa ‘dia menerima kekerasan dari temannya’. Ternyata Buah hati saya telah menjadi korban bullying.

Bullying ini merupakan satu tindakan atau perilaku yang dilakukan untuk menyakiti, baik dalam bentuk verbal, psikologis, ataupun emosional, orang lain. Seringkali, kita menemui anak-anak bermain dengan menggunakan kekerasan ketika sedang berinteraksi dengan teman-temannya, baik kekerasan fisik maupun non-fisik. Kekerasan fisik yang terjadi misalnya merebut barang milik yang lain, mendorong, memukul, menendang, mencubit, menyemburkan ludah, dan lain-lain. Sedang kekerasan non-fisik seperti mengejek, berteriak ke temannya, memanggil seseorang dengan sebutan yang hina, menghasut teman lainnya agar tidak berteman dengan orang yang dia anggap tidak cocok dan tidak suka, dan lain-lain.

Saat terjadi bullying ini, anak-anak yang masih balita sering kali belum bisa membela diri. Karena pada dasarnya anak-anak tidak akan bilang kalau dia di-bully. Namun ketika dia dibully secara fisik, tentu orang tua mengetahuinya dan orang tua akan melaporkannya. Akan tetapi akan berdampak sangat parah ketika dia di-bully secara psikis, karena tidak ketahuan, dan bisa jadi membuat anak mengalami gangguan mental, seperti depresi, takut, rendah diri, atau bahkan menjadi pendendam sehingga menjadi pelaku bullying terhadap yang lainnya.

Kok bisa Anak TK melakukan Bullying?’ pikir saya. Ternyata adanya perilaku anak yang kurang tepat merupakan permasalahan yang sering timbul pada masa perkembangan sosial dan emosional anak pada usia dini, baik di lingkungan rumah maupun sekolah, seperti salah satunya adalah perilaku bullying. ‘Tapi, si kecil di rumah anteng-anteng aja kok. Masa sih dia melakukan bullying? Nah, sebagai orang tua kita perlu nih mengetahui berbagai faktor yang bisa bikin anak melakukan bullying. Apa aja ya?

Salah satu faktor yang membuat Anak menjadi pelaku bullying adalah karakter anak yang ingin berkuasa, selalu ingin jadi nomor satu, dan selalu ingin lebih hebat. Ketika anak ingin menjadi yang terkuat artinya di situ anak akan menganggap orang lain haruslah di bawah dia. Anak akan merasa cemburu, marah dan iri hati bila dia dikalahkan orang lain.

Dalam beberapa kasus, sikap Anak seperti ini merupakan bagian dari pola perilaku agresif. Anak seperti ini biasanya tidak bisa mengendalikan amarah, rasa sakit hati, frustasi, dan emosi kuat lainnya. Akibatnya, Anak akan melampiaskan emosinya itu dengan merusak atau menyakiti orang lain, sekalipun kepada orang tuanya sendiri. Biasanya anak dengan karakter seperti ini tidak mau diatur dan cenderung sulit bekerja sama dengan orang lain.

Bahkan ketika anak sudah memiliki karakter berkuasa, ditambah di lingkungan keluarga karakter anak ini tidak sengaja ‘dipupuk’  dan terfasilitasi, resiko anak melakukan bullying akan meningkat. Sehingga, sangat penting orang tua mengenali karakter anak untuk mencegah anak melakukan sikap yang tidak baik / bullying kepada orang lain.

Wallahu a’lam.

Silvia Rahmah
0 0 vote
Article Rating

Silvia Rahmah

Magister Pendidikan Quran Hadis. Berpengalaman di dalam dunia jurnalistik dan editor di sejumlah penerbit nasional. Ia juga menyukai pengasuhan anak-anak atau parenting.

Silvia Rahmah
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x