Lelakiku

Ilustrasi: freepik.com

Sungguh, jika aku memilih menunda menikah hingga usiaku menginjak dua puluh tujuh tahun, bukan berarti tidak ada lelaki yang menginginkanku. Bukan. Aku hanya belum menemukan calon yang sesuai dengan impianku.

“Calon yang bagaimana lagi yang kau inginkan, Tari?” Ibu mengelus lembut rambutku. Dari nada suaranya kentara sekali bahwa beliau merasa was-was dengan kesendirianku.

“Aku ingin lelaki yang sempurna, Bu. Seperti Ayah,” jawabku bersungguh-sungguh.

“Tidak ada laki-laki yang sempurna di dunia ini, Tari,” lanjut Ibu seraya menarik napas panjang. “Ayahmu juga bukan manusia yang sempurna, Nduk. Beliau memiliki banyak kekurangan.”

Mengenang sosok Ayah membuatku merasa begitu kehilangan. Figur ayah memang melekat erat dalam ingatanku. Ayah seorang pemimpin keluarga yang baik. Penuh kasih sayang. Kesetiannya terhadap Ibu juga sangat luar biasa. Ayah tak pernah sekalipun menyakiti hati Ibu.

Aku sempat berpikir, wanita  paling bahagia di dunia ini pastilah Ibu karena memiliki pendamping hidup yang begitu setia. Dan anak yang paling bahagia itu tentulah aku karena memiliki seorang Ayah yang begitu sempurna.

Zaman sekarang mencari sosok lelaki seperti Ayah, bagaikan mencari sebuah jarum di atas tumpukan jerami. Sangat sulit. Aku mengalaminya sendiri. Berulang kali aku dikhianati laki-laki. Kebanyakan dari mereka yang pernah dekat denganku hanya berniat mempermainkanku. Itulah salah satu sebab mengapa aku mempertahankan kesendirianku dan terkesan pemilih dalam mencari pasangan hidup.

Sampai suatu hari Mas Alfiar, kerabat dekat kami datang bertandang ke rumah.

“Tari, ada temanku yang sedang mencari istri, nih. Apakah aku bisa merekomendasikan dirimu?” Mas Alfiar membuka percakapan.

“Wah, semacam mak comblang, nih?” sahutku sambil lalu.

“Ini serius, Tari. Temanku ini  seorang laki-laki yang baik. Aku bersedia menjadi jaminannya….”

Mendengar itu seketika aku menatap Ibu. Ibu memberikan respon dengan sebuah anggukan kecil.

“Tapi sebelumnya aku sampaikan satu hal. Temanku ini seorang tuna daksa,” Mas Alfiar melanjutkan.

“Maksud, Mas?”

“Kaki kirinya agak timpang,” Mas Alfiar menjelaskan. Aku terdiam. Tapi dalam hati aku menggerutu. Sudah sekronis itukah kesendirianku, hingga seorang penyandang tuna daksa disodorkan kepadaku?

“Ini masih tahap ta’aruf, Tari. Selanjutnya terserah padamu. Tidak ada keharusan bagimu untuk menyetujui tawaranku ini,” Mas Alfiar menatapku seolah paham apa yang tengah kupikirkan.

Sekali lagi aku menatap Ibu. Wajah Ibu tampak sumringah.

“Baiklah, segera pertemukan mereka,” Ibu berkata gembira.

“Ibu…” aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi kemudian urung. Aku tak tega menghapus kegembiraan dari wajah perempuan yang telah melahirkanku itu.

Mas Alfiar memenuhi janjinya. Suatu sore ia datang ke rumah bersama seorang laki-laki. Ibu suka cita menyambut tamu kami itu dan mempersilakannya masuk.

“Ini anak saya Lestari,” Ibu memperkenalkan diriku. Lelaki yang berdiri di sebelah Mas Alfiar mengangguk. Ia mengenakan kemeja koko berwarna putih dan celana hitam.

“Saya Abraham,” lelaki itu balik memperkenalkan dirinya. Lalu ia mengambil tempat duduk di samping Mas Alfiar. Berhadap-hadapan dengan Ibu. Sementara aku duduk menyendiri di pojok ruangan.

“Maaf, mungkin Mas Alfiar sudah menceritakan tentang keinginan saya,” laki-laki bernama Abraham itu menatap sejanak ke arah Ibu. Kemudian ia melirik ke arahku. Kulihat Ibu tersenyum. Mengangguk-angguk. Dan kemudian mereka terlibat pembicaraan ringan.

Proses ta’aruf  berlangsung sangat singkat. Aku menarik napas lega begitu Mas Alfiar dan temannya itu pemit pulang.

Usai kepergian mereka, aku bergegas menuju kamar. Ibu membuntutiku.

“Tari, bagaimana penilaianmu mengenai Abraham?” bisik Ibu seraya menutup pintu.

“Biasa saja, Bu. Tidak ada yang istimewa,” jawabku jujur.

“Tari, ini masih tahap pengenalan. Kamu bisa saja menolak jika hatimu belum sreg,” Ibu menatapku. Berusaha membaca air mukaku.

“Beri aku waktu untuk berpikir, Bu,” ujarku setengah memohon. Ibu mengangguk kemudian berlalu meninggalkan kamarku.

Malam itu aku tidak bisa memicingkan mata barang sedetik pun. Pikiranku kacau. Apa sebenarnya yang aku cari?  Berapa kali sudah orang-orang terdekatku berusaha mencarikan jodoh untukku? Tapi mengapa hati ini belum juga terbuka?

Aku memeluk guling erat-erat. Kiranya aku masih terobsesi dengan keinginanku.

Aku belum menemukan yang kucari.

Lelaki sempurna seperti Ayah.

***

Satu minggu berselang, usai melewati pemikiran yang matang, terutama demi menjaga perasaan Ibu, aku menyatakan diri bersedia menerima kehadiran Mas Abraham. Walau hatiku belum sepenuhnya mantab.

Jeda satu bulan Mas Abraham resmi menikahiku. Usai akad nikah kami menempati sebuah rumah baru di pinggiran kota. Rumah itu tidak terlalu besar. Tapi cukup nyaman untuk pasangan pengantin anyar seperti kami.

“Tari, inilah rumah kita, sangat sederhana. Kemampuanku masih sebatas ini,” Mas Abraham tersenyum ke arahku. Aku tidak menyahut. Hanya berdiri terpaku.

“Dan kamar yang paling depan itu adalah kamarmu,” Mas Abraham melanjutkan.

“Maksud, Mas?” aku menatapnya heran. Mengapa ia berkata begitu?

“Aku paham, Tari. Hatimu belum sepenuhnya menerimaku,” ia menatapku beberapa jenak. “Izinkanlah malam ini Mas tidur di kamar sebelah. Jika hatimu sudah bisa menerimaku seutuhnya, aku akan datang menjemputmu.” Mas Abraham tersenyum. Kemudian ia membuka pintu kamar depan dan mempersilakan aku masuk.

Ponsel berkedap-kedip. Banyak sekali pesan masuk yang aku terima malam ini. Aku sampai kewalahan membacanya.

“Selamat menempuh hidup baru, semoga pernikahanmu samawa.”

“Segera dapat momongan, ya, Tari.”

“Selamat, Tari. Semoga bahagia dan berkah.”

Aku menghela napas panjang. Nyaris semua orang mendoakan agar aku bahagia dalam pernikahan ini. Lalu mengapa hingga detik ini aku sendiri belum merasakannya? Mengapa hatiku masih juga diliputi kebimbangan?

Aku menekan wajahku kuat-kuat dengan bantal. Kegelisahan semakin mendera. Hhh, kiranya aku butuh sesuatu yang mampu mendinginkan kepalaku.

Kuputuskan bangun untuk mengambil air wudhu. Ini jalan satu-satunya untuk menenangkan diri. Sholat. Ya, hanya dengan sholat dan bermunajah kepada Allah aku yakin akan bisa menenangkan hatiku yang gundah.

Saat menuju kamar mandi tanpa sengaja aku berpapasan dengan Mas Abraham.

“Tari, mau sholat juga?” tanya laki-laki yang kini menjadi suamiku itu.

“Eh, iya, Mas….”

“Kita berjamaah, yuk. Kan pahalanya lebih besar,” Mas Abraham tersenyum. Agak kikuk aku mengangguk.

Mas Abraham menungguku menyelesaikan wudhu.

“Kita berjamaahnya di mana, Mas?” tanyaku tersipu begitu keluar dari kamar mandi.

“Terserah, Tari. Mau di kamar yang kamu tempati atau di kamar kita,” laki-laki itu menjawab lembut.

“Mmm, terserah Mas, deh,” akhirnya aku serahkan pilihan kepadanya. Mas Abraham mengangguk. Lalu ia meraih tanganku perlahan.

“Kita sholat berjamaah di kamar kita, ya,” ujarnya seraya membimbingku. Aku menurut. Sungguh, sentuhan tangannya terasa begitu hangat dan menenangkan.

Kami memasuki kamar pengantin yang belum sempat kami tempati. Mas Abraham menggelar dua sajadah.

Malam itu untuk pertama kalinya aku melaksanakan sholat berjamaah bersama imam sejatiku. Dalam sujud aku menangis. Memohon ampun kepadaNya atas keraguanku. Aku malu kepada Allah. Selama ini aku bimbang karena fisik Mas Abraham yang tidak sempurna. Aku hanya melihatnya dengan mataku, tidak dengan hatiku.

Usai sholat aku bergegas meraih tangan suamiku.

Dan tanpa ragu-ragu lagi kucium tangan lelakiku itu berulang-ulang.

***

Malang, 1 April 2017

Lilik Fatimah Azzahra
Latest posts by Lilik Fatimah Azzahra (see all)
0 0 vote
Article Rating

Lilik Fatimah Azzahra

Peraih Award The Best in Fiction & People Choice di ajang Kompasianival 2017. Puisi dan cerpennya menjadi langganan headline di Kompasiana.

Lilik Fatimah Azzahra
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x