Melupakan dan Memaafkan untuk Renovasi Bangunan Keluarga

Ilustrasi: freepik.com

Cerita ini adalah cerita nyata, dikisahkan oleh anak saya tentang temannya. Adalah sebut saja Lita, Lita adalah santri di sebuah Pondok Pesantren, sekarang duduk setara dengan kelas 3 SMP dan divonis mengalami gangguan kejiwaan yang cukup kronis meski dia masih bisa tetap belajar dan sekolah seperti temannya yang lain. 

Vonis jatuh ke Lita setelah seringnya Lita dianggap kesurupan hingga terakhir dia didapati sedang menyayat nyayat tangannya sendiri dengan benda tajam di pojok kamar menjelang subuh di asrama pondok. Selepas itu Lita dibawa ke Puskesmas terdekat pondok dan mendapatkan perawatan hingga lukanya sembuh.

Dari kesaksian teman temannya, Lita memang seringkali melakukan hal aneh dan tidak jarang tindakannya itu melukai dan membahayakan dirinya. Namun biasanya pihak pondok dan para ustazah menganggap ia kerasukan sehingga dengan spiritual healing yaitu membaca ayat kursi dan metode rukyah lalu Lita tenang dan dianggap ‘sembuh’.

Namun tindakan Lita terakhir membuat keluarga, teman dan pihak pondok pesantren cukup kaget. Pasalnya Lita ternyata sesungguhnya tidak pernah kerasukan, namun ia kemungkinan mengidap penyakit kejiwaan yang disebut kepribadian ganda.  Berdasarkan hasil medis dengan survey dan wawancara psikiater, Lita ditetapkan memiliki kepribadian ganda yang kerap kambuh di pesantren. Selama hampir 3 tahun hal ini tidak terungkap karena memang Lita dianggap sebagai anak baik dan dianggap tidak mungkin melakukan tindakan bunuh diri kalau bukan karena kerasukan.

Kepribadian ganda sendiri sesungguhnya adalah gangguan identitas disosiatif  yaitu kondisi di mana seorang individu dapat memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Umumnya gangguan ini disebabkan oleh kejadian traumatis yang dialami individu tersebut di masa kecilnya.

Bentuk trauma ini bisa berupa kekerasan fisik atau emosional yang terjadi secara berulang-ulang. Individu dengan kepribadian ganda mirip seperti individu yang mengalami skizoprenia, yaitu ia mampu melihat atau mendengar sesuatu yang tidak nyata (halusinasi), serta meyakini sesuatu yang tidak memiliki bukti dan tidak dapat dipatahkan (waham).

Meski orang dengan skizofrenia tidak memiliki beragam kepribadian, seperti yang dimiliki oleh orang yang berkepribadian ganda, namun keduanya berisiko untuk melakukan tindakan bunuh diri.

Kembali ke Lita, setelah ditetapkan demikian, akhirnya keluarga Lita mau membuka diri. Sosok yang akhirnya melakukan curhat ke pihak pondok adalah ibunya. Mulailah sang ibu berkisah bahwa Lita adalah anak ke 2 dari 3 bersaudara. Keluarga Lita hidup sangat berkecukupan dengan ayah seorang perwira.

Keluarga Lita mengalami ujian hebat ketika Lita masih SD dan ibunya sedang mengandung adik Lita yang merupakan anak ke tiga. Ayahnya terbukti melakukan perselingkuhan, lalu ayahnya dipecat dari jabatannya, selingkuhan ayahnya Lita kerap melakukan terror kepada keluarga Lita. Sedangkan ibunya Lita senantiasa bertahan untuk anak anaknya. Sayangnya Ayahnya Lita memilih meninggalkan mereka (ibu, Lita, Kakak dan termasuk calon adik Lita yang masih dalam kandungan).

Dalam badai yang sangat hebat Lita diceritakan mungkin menyaksikan sang ibu yang stress, depressi dan hilang arah. Berdasarkan pengakuan ibunya Lita, ia sempat ingin bunuh diri pun membunuh semua anaknya. Litapun kerap mendapat perlakuan dari ibunya yang secara tidak sadar dilakukan sang ibu yang pada dasarkan menginginkan untuk mati bersama. Syukurlah, adik Lita lahir dengan selamat dan kemudian setelah 3 bulan melahirkan ibu Lita dilamar oleh seorang laki-laki yang justru adalah teman lama ibu nya pun teman mantan suaminya dulu.

Perkenalan dengan calon ayah Tiri Lita sangat singkat dan secara mudah lamaran diterima ibu nya Lita yang melihat i’tikad baik laki-laki yang dulu dikenalnya hanya sebagai teman suaminya. Niat ayah Tiri Lita adalah ingin melindungi ibu Lita dan melindungi anak anaknya. Hingga sekarang ia adalah ayah tiri Lita. Meski kehidupan dengan ayah tirinya sangat bahagia, bahkan mungkin bisa dikatakan sempurna karena menurut ibunya Lita, ayah Lita yang sekarang begitu sayang dengannya dan dengan semua anak anak tirinya.

Sebelum menikah dengan ibunya Lita, ayah tiri Lita seorang CEO sukses dan bisa dibilang ‘bujang lapuk’ karena sudah masuk usia 40-an masih jomblo dan ia memilih menikahi seorang perempuan dari latarbelakang yang rumit, berasal dari porak porandanya bangunan rumah tangga yang di milikinya. Seorang laki laki muslim dan sholeh yang menurut Ibu Lita tak pernah melihat status nya sebagai janda, tidak terlalu mengkhawatirkan rupa apalagi harta calon istrinya.

Demikian berdasarkan cerita ibunya Lita, ayah tiri Lita yang sekarang dapat dikatakan memiliki kepribadian yang sangat baik dan sederhana. Faktanya ia menyatakan “ladang pahala saya lebih besar dengan merenovasi bangunan keluarga besar Lita daripada meminang gadis jomblo”.

Menikahi seorang janda yang ditinggal suaminya karena perceraian dengan  3 orang anak yang sangat membutuhkan kasih sayang justru membuat dirinya sangat tertantang. Berharap ia mampu merenov bangunan yang lebih baik, lebih kokoh dan lebih cantik berdasarkan pengalaman dari sebelumnya. Simple dengan mengatakan bahwa bahan baku utama nya adalah kesetiaan. Bukan hanya kesetiaan kepada istri, tetapi justru kesetiaan kepada janji suci yang dilantunkan atas nama Allah.

Perjuangan ayah Tiri Lita nyatanya masih belum berakhir karena meski ia mampu menghapus traumatik ibu Lita, namun Lita terlanjur ‘rusak’ kejiwaannya akibat perceraian ayah ibunya dan skandal ayahnya. Lita masih butuh perhatian dan kasih sayang yang luar biasa dari ayah tirinya untuk bisa pulih. Apalagi secara umum, mayoritas publik mencap negatif status ayah tiri yang dianggap biasanya hanya akan sayang kepada istrinya saja, tidak kepada anak anak tirinya. Lita masih butuh support dan motivasi yang utama datang dari ayah dan ibunya kini. Trauma biasanya muncul dari kejadian yang ekstrem dan harus ditandingi dengan kejadian ekstrem lainnya.

Bangunan keluarga baru bagi keluarga yang pernah mengalami kehancuran karena kasus perceraian harus lebih kokoh yang dibalut kuat dengan keyakinan dan kepercayaan satu sama lain. Di sini penting akhirnya untuk digarisbawahi apa yang sempat saya dengar dari Prof. DR. Quraish Shihab, bahwa masa lalu itu harus dimaafkan dan dilupakan. Alih alih banyak orang sering mengatakan bahwa masa lalu itu dapat dimaafkan tapi tak bisa dilupakan. Di sini Prof. DR. Quraish Shihab justru menegaskan bahwa justru dengan melupakan maka kita akan lebih dapat memaafkan secara total. Itulah juga bahan baku utama jika memang harus merenovasi bangunan keluarga. []

Daan Dini
Latest posts by Daan Dini (see all)
0 0 votes
Article Rating

Daan Dini

Mantan redaktur pelaksana Swara Rahima, founder Aminhayati Educares dan dosen di STAI Haji Agus Salim.

dini khairunida
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x