Memahami Psikologis Anak dari Ayah Pelaku Poligami

Ilustrasi: freepik.com

Mira tidak bisa melupakan apa yang tak sengaja dia lihat tadi malam. Ibunya menangis sedih di sudut kamar tidurnya. Ada apa dengan ibunya? Memang sudah seminggu ini dia merasa sosok ibunya tidak hadir dalam keseharian mereka. Walau tak satu pekerjaan rumah pun yang luput dari perhatiannya. Ibu masih mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan telaten, termasuk mempersiapkan semua kebutuhan kami anak-anaknya. Namun jiwa ibu seperti tak hadir di sana. Hal ini membuat konsentrasi belajar Mira di sekolah ikut terganggu, bahkan ia berubah menjadi pemurung di sekolahnya. Dengan keberanian diri ia bertanya pada ibunya, dan ia merasa lunglai bagai disambar petir saat dia mendengar bahwa ayahnya telah poligami.

            ‘Poligami’, satu kata yang seolah tidak pernah menemukan kata akhir dalam pembahasannya. Selalu saja menjadi berita hangat yang tak pernah habis dipermasalahkan. Sebagian orang secara totalitas mendukungnya, namun tak sedikit pula orang-orang yang anti setengah mati menolak praktek ini. Mereka masing-masing memajukan argumen dengan kecenderungannya masing-masing, baik itu berdasarkan disiplin ilmu maupun berdasarkan perasaan dan pengalaman pribadinya.

Walaupun secara eksplisit sebenarnya mereka sepakat bahwa praktek poligami ini merupakan suatu yang sah dalam kacamata Syariah. Suami boleh menikahi dua orang atau lebih asal sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat yang ditentukan. Sehingga seseorang yang berniat melakukan poligami haruslah memenuhi standar syarat adil secara fisik dan psikis dalam pemenuhan kebutuhan tersebut, apalagi jika dalam pernikahan sebelumnya sudah terdapat Anak.

Sebagaimana diketahui, pengasuhan dan pendidikan anak adalah tanggung jawab Ayah dan Ibu secara utuh. Ayah dan ibu boleh saja tidak memiliki materi berlimpah, tetapi sebagai orang tua, Ayah dan Ibu tidak boleh kehilangan cinta dan kasih sayang terhadap Anak mereka. Dan tentu hal ini tidak akan didapatkan anak ketika Ayah mereka memiliki istri/ibu baru. Anak akan merasakan kehilangan sosok ayah yang tidak bisa hadir setiap hari di rumah. Berbeda hal dengan ketika Ayah tidak ada di rumah saat pergi bekerja dan atau saat dinas pergi ke luar kota. Walaupun ayah tidak bisa hadir di rumah dalam waktu tertentu, tapi biasanya memiliki waktu yang pasti. Sehingga anak bisa memprediksi kapan ayahnya akan pulang. Berbeda dengan ketika berpoligami, pembagian waktu terkadang sering tidak terjadwal.

Bahkan banyak di antara ibu yang tanpa sadar ketika dia merasa marah, dia meluapkannya pada anak-anaknya. Padahal emosional seorang ibu akan sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak-anaknya. Anak akan merasakan ketidaknyamanan dengan suasana di sekitarnya. Anak juga akan merekam semua situasi di dalam lingkungan keluarganya. Anak akan mencontoh kedua orang tuanya. Mencontoh sang ayah, anak laki-laki misalnya, ia akan beranggapan bahwa laki-laki dewasa wajar bila memiliki isteri lebih dari satu. Sebaliknya, mencontoh sang ibu, anak perempuan akan memahami bahwa wanita harus siap dimadu. Bahkan anak akan meniru bagaimana ayah memperlakukan Ibu dan istri barunya.

Akan tetapi bisa juga sebaliknya, Anak laki-laki misalnya justru berfikir bahwa dia tidak mau mendua ketika melihat orang tuanya poligami. Terlebih bila kehidupan poligami orang tuanya tidak mulus, anak akan belajar untuk tidak menyakiti pasangannya kelak. Bagi anak perempuan justru bisa berakibat fatal ia menjadi benci laki-laki dan takut untuk menikah karena tidak ingin disakiti pasangannya.

Oleh karena itulah, keluarga menjadi pondasi dasar dalam pembentukan kepribadian dan karakter anak di masa mendatang, dan orang tua-lah yang menjadi contoh dan model bagi anak. Orang tua yang bermasalah tentu membuat anak menjadi korbannya, sebaliknya ketika anak bermasalah, orang tua tentunya akan terbawa dalam kasus kenakalan anak tersebut. Sehingga, kesiapan mental anak harus menjadi pertimbangan yang penting pula sebelum ayah memutuskan berpoligami. ()         

Silvia Rahmah
0 0 votes
Article Rating
Visited 1 times, 1 visit(s) today

Silvia Rahmah

Alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pernah belajar di Pesantren al-Masturiyah Sukabumi Jawa Barat.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x