Memasak Rembulan untuk Kekasih

Sumber: www.pixabay.com

Liburan tahun ini pacarku rencananya akan pulang ke Jakarta. Ia sedang mengambil S2 Psikologi di Universitas Birmingham.

Aku ingin sekali memberikan sambutan istimewa padanya. Maklum kami sudah lama tak bertemu. Meski kami sering berkomunikasi sacara online bahkan setiap sa’at, bertemu  langsung, bertatap muka baru kali ini akan kami lakukan setelah setahun lalu ia memutuskan melanjutkan kuliahnya ke Inggris.

Aku terus berpikir apa yang akan aku berikan kepadanya sebagai sambutan yang istimewa dan elegan. Mengajaknya ke bioskop sepertinya bukan ide yang bagus karena aku tahu ia tidak begitu suka menonton.

Mengajaknya jalan-jalan, tapi kemana? Sepertinya sebagai orang Jakarta pasti dia sudah bosan mengunjungi tempat wisata di Jakarta. Mengajaknya ke toko buku? Huh…ia liburan pastinya ingin melepas penat setelah berkubang dengan tumpukan buku. Lama aku berpikir mencari ide penyambutan yang spesial.

Shofia itulah nama yang membuatku sibuk mencari ide penyambutannya. Aku mengenalnya ketika kami sama-sama kuliah di strata 1 di sebuah univeritas negeri di Jakarta.

Meski kami beda fakultas dan jurusan, tapi kami seringkali bertemu dalam satu kegiatan pers mahasiswa, Institute. Shofi di Fakultas Psikologi dan saya sendiri ngambil Sosiologi. Di Institute itulah benih-benih cinta kami bersemi dan terus berlanjut sampai kami lulus. Saya melanjutkan ke UI sementara Shofi memilih melanjutkan ke Universitas Birmingham setelah mendapat beasiswa LPDP.   

Suatu ketika aku chat dia.

“jadi pulang liburan ini, say?”
“jadi dong, dah butek nih ngadepin buku terus”
“okey, aku ingin mengundang makan malam”
“oh ya?”
“Itu kalau kamu mau”
“Siapa sih yang gak mau diajak makan?”
“Kalau diajak kawin?”
“Siapa dulu yang ngajaknya?”
“hehe….okey, sampe ketemu, ya. Bye
Bye.”

Waktu chat itu aku asal jeplak saja. Setelahnya aku bingung mau masak apa kalau Shofi benar-benar  datang. Kalau pesan via online? Ah itu gak istimewa.

Mengajaknya makan ke pantai sambil menikmati rembulan dan bintang-bintang yang indah aku merasa itu suatu yang sudah biasa. Aku terus berpikir, apa gerangan sambutan yang membuatnya terkesan.

Cling.. ada ide hinggap dibenakku. Aku pun mencoba mengatur rencana dan menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan. Aku ingin memecak rembulan dan menumis bintang-bintang. Ah aneh-aneh aja. Seperti lagunya Doel Sumbang aja. Tapi bener lho. Aku akan memasaknya hanya untuk dia seorang.

Ketika malam menjelang, aku pun menyiapkan segala sesuatunya. Di serambi apartemenku di Kalibata City lantai 9 kumenyiapkan galah, bambu panjang.

Kulihat bulan malam itu bersinar sangat indah. Cahayanya berpendar ke segala arah. Warnanya terang kebiru-biruan berpadu dengan langit. Sementara bintang berkedip-kedip  seperti memberi kode untuk ketemuan. Dengan perlahan kuangkat galah itu dan mengarahkan ke sekumpulan bintang-bintang dan menjoloknya seperti saya mengambil mangga.

Beberapa masuk ke galah yang sudah kusiapkan ada tempat penampungnya, ia tidak terjatuh. Dengan perlahan aku tarik galah itu dan kupungut bintang-bintang itu dari jaring dan kumasukan ke baskom yang sudah kusiapkan. Ketika aku akan mengangkat galah lagi untuk mengambil bintang yang lain, sepasang  kekasih yang sedang berduan di serambi apartemen sebelahku protes.

“Mas, tolong bintang-bintang jangan diambilin semua” katanya dengan pasang muka ketidaksukaannya.
“Kami kan sedang menikmati.”
Aku pun mengurungkan mengambilnya lagi.

Aku lihat mereka sedang asyik mengadu asmara. Seorang laki-laki duduk di kursi memandang bulan dan bintang-bintang. Sementara si perempuan duduk di pangkuannya. Tangannya menunjuk ke bulan. Sepertinya dia minta kepada kekasihnya untuk memetik rembulan itu. Aku pun dibuat kaget. Karena aku juga akan mengambil rembulan untuk menjamu kekasihku.

Melihat gelagat itu, aku langung berteriak. “Mas tolong rembulan itu jangan diambil. Aku sedari tadi sudah mengincarnya. Aku terlanjur janji kepada pacarku.” Kataku kepada pemuda yang ada di sebelah apartemenku itu.

“Ma’af Bang, gak bisa. Soalnya pacarku juga minta. Aku gak mau gara-gara ini kami berantem.” Jawabnya.
“Tidak bisa begitu mas. Saya sudah dari tadi mengincarnya.”
Lho, bukankah rembulan ini milik umum. Siapa pun boleh menikmatinya.”

“Iya mas. Tapi untuk kali ini, tolong!. Aku sudah berjanji pada pacarku yang jauh-jauh dari Inggris datang dan aku ingin menyambutnya dengan memasaknya seenak mungkin.”
“Tidak bisa mas. Kami dari tadi sore, siang bahkan pagi sudah menunggu dan menyiapkan momen ini.”
“Oh gitu mas. Gimana kalau aku ambil bulan itu kemudian kita bagi dua: sebagian untukku dan sebagian lagi untuk kalian?” aku mengajukan usul. Mereka pun menyetujuinya.

Aku mengangkat galah lagi. Mengarahkannya ke rembulan di atas sana. Ternyata galahku kurang panjang. Aku naik kursi agar nyampe. Masih juga kurang panjang sedikit lagi. Aku turun lagi mencari galah lain untuk menyambung. Setelah kusambung, aku angkat lagi dan menjoloknya. Itu pun kakiku harus jinjit.

Aku seperti menjolok sarang tawon. “Kena!” Teriakku kegirangan ketika rembulan itu jatuh ke keranjang yang ada di galah itu. Galah itu melengkung  ke bawah menandakan beban yang ada di keranjang itu cukup berat.

Aku menahannya sekuat tenaga. Tubuhku sampai bungkuk mengenai tembok pembatas apartemen. Dengan perlahan aku menariknya ke serambi. Setelah berhasil mendarat di lantai, kuperhatikan rembulan itu begitu indahnya. Kuambil pisau tajam di dapur, aku potong rembulan itu menjadi dua: sepotong untukku, sepotong lainnya kuberikan ke sepasang kekasih yang ada di sebelah apartemenku. 

Aku pun tenggelam dalam kesibukanku memasak rembulan. Awalnya aku akan memasak rembulan dengan memecaknya. Tapi aku pikir kalau untuk makan malam sepertinya tidak cocok.

Sempat berpikir untuk membakarnya tapi takut asapnya kemana-mana. Akhirnya aku putuskan untuk membuat sop rembulan yang segar yang ditaburi daun kemangi dan dibubuhi belimbing wuluh. Sepertinya cocok untuk makan malam. Aku yakin masakan seperti itu tidak akan ditemukan di Inggris atau di Jakarta sekali pun. Apalagi rembulan ini kualitasnya sangat bagus, purnama.   

Aku mulai mencuci rembulan dengan bersih. Sepotong rembulan ternyata cukup besar. Terlalu banyak untuk kami berdua.  Aku potong lagi rembulan itu menjadi dua. Sebagian aku simpan di kulkas, di freezer. Sebagian aku potong-potong dadu ukuran sedang. Kusiapkan panci yang berisi air dididihkan. Semua bumbu aku masukkan. Potongan rembulan yang sudah kusiapkan kumasukkan ke panci perlahan.

Hmm… harumnya menyebar. Sop rembulan sudah hampir matang.

Sementara bintang-bintang yang sudah aku cuci bersih aku taburi bumbu rempah-rempah dan kuaduk-aduk rata. Kusiapkan penggorengan ditungku satu laginya. Kutuang minyak secukupnya sampai panas. Dengan perlahan aku masukkan bintang-bintang itu, kugoreng. Cahayanya terang menerangi apartemenku. Baunya harum sekali, baru kali ini aku mencium bau seperti ini.    

“aku sudah di bawah.” Shofi mengirim pesan di WA.
“Langsung saja naik ke lantai 9, Fi.” Sebelumnya aku sudah memberi tahu nomor kamarnya.  

Wah hatiku dag-dig-dug serrr.
Masakan sudah selesai. Aku siapkan di meja.
Pikiranku melayang. Ketika Shofi datang aku akan memeluk dan menciuminya dan kubisikan ditelinganya aku sangat merindukannya. Aku mengajaknya masuk tanpa melepas pelukanku. 

Bel berbunyi… ding… dong…
Aku langsung bangkit dan membuka pintu. Di depanku berdiri sosok perempuan berambut hitam panjang. Alisnya tebal seperti rumput swiss yang ditanam di  depan rumah orang-orang kaya. Lengkung alisnya seperti bulan awal bulan.  Hidungnya seperti hidung gadis pakistan. Matanya  ah….aku tak sanggup lagi membayangkannya.
 
“Haiiii… masuk Fi!”
“Apa kabar? Rampingan Fi” kataku menghilangkan grogi setelah melepaskan jabat tangan kami.
Meskipun aku sudah berpacaran setahun lebih, tapi karena lama tidak bertemu terasa kaku sikapku.
“ah biasa aja. Gak ada perubahan kok.”
“ayo-ayo, silakan duduk.”
“Wah apartemenmu bagus juga.” Shofi menuju jendela dan melihat pemandangan keluar.
“Ya.. lumayan lah.”
Setelah basa-basi secukupnya. “Fi aku masak sesuatu lho, khusus buatmu.”
“Woow… masak apa?”
“Coba kamu lihat.”
“apa ini?”
Cobain aja.”

Aku tuangkan ke mangkoknya.
“emm… empuk dagingnya. Sop patin?”
Aku geleng kepala.
“Gabus!”
No, no
“apa ya?”

“Aku nyerah deh.” Shofi berdiri lagi menuju jendala yang sengaja dibuka. Rambutnya yang panjang dibiarkannya tertiup angin. Wanginya menyeruak menembus hidungku.

“Fi, ayo kita santap aja mumpung masih anget.” ajakku.
“Okey. Aku jadi penasaran sop apa sih. Lagian aku dah laper nih.” Sambil menuju meja.
Dia duduk di depanku. Mendekatkan mangkok yang sudah aku isi tadi lalu menyendoknya.
“emm… seger”

“Fi aku masak sendiri khusus buatmu. Bahannya aku petik sendiri.”
“oh ya? Thanks ya say.” Katanya sambil tangannya menyentuh mukaku.
“Ini adalah sop rembulan.” Jelasku.
“apa? Rembulan?”
“Iya.” Jawabku.
“Teksturnya lembut sekali. Ada rasa manis, pedas dan asemnya.”
Tentu. Karena rembulan menjadi saksi cinta, kepedihan dan pengkhianatan.
“dapet darimana?”
“Aku menjolok sendiri di langit.” Jawabku.
“Boleh nambah ya?”

Dia tuang lagi sop itu sampai menyisakan sedikit.
Habisin aja Fi, tanggung sedikit lagi. Aku sudah.”
“Iya. Enak sekali sopnya. Aku baru kali ini makan sop seenak ini. Kapan-kapan ajari aku masak seperti ini ya?”
“Okey.” Kataku.
“kamu cobain lagi dong say.”
Sambil menyorongkan sendok berisi daging rembulan ke mulutku.
Kubuka mulutku. Sendok pun masuk kemulutku. Bekas mulutnya, rasa bibirnya bercampur dengan rasa rembulan yang sedap dan hangat.    

“Kalau yang ini apa?” sambil tangannya ke arah piring sebelahnya.
“Oh ya itu. Goreng bintang.” Kataku.
“emm… enak, gurih.” Komentarnya. Jahe dan ketumbarnya terasa banget.

Akhirnya semua masakan habis. Shofi terlihat menyuap goreng bintang yang terakhir. Sementara sop rembulan sudah ludes sedari tadi.

Shofi yang duduk di depanku menutup mulutnya seperti kegelian. Tawanya pun akhirnya meledak.
“itu lihat. Jari lentiknya menunjuk ke dadaku.”
“Ada apa Fi?” tanyaku kaget.
“dadamu terang banget. Sampai apa yang ada di hatimu terlihat semua.”
“Masa sih?”
Shofi tertawa terpingkal-pingkal.
“Ternyata kamu pengen memeluk dan menciumku ya tadi?”
Aku pun tersipu malu.

Di dada Shofi juga  terlihat terang sekali seperti ada rembulan dan bintang-bintang di dalamnya.

Apa yang ada di hati Shofi pun terlihat dengan jelas. Aku pun tertawa geli. Shofi ingin dipeluk dan dibelai dan digendong seperti pengalaman waktu kecil digendong ayahnya.

Malam itu kami menghabiskan malam dengan bercerita banyak hal: pengalaman kuliahnya di Birmingham, dosennya, suasana kotanya, teman-teman kuliahnya, suasana kampusnya dan tetek bengek lainya. Sementara di atas langit sana hanya ada sedikit bintang. Sementara tak ada lagi rembulan di sana. Membuat malam terasa temaram.    

Jakarta, 3 Oktober 2018

Maman Abdurahman
Follow me
0 0 vote
Article Rating

Maman Abdurahman

Magister Psikologi Islam UNIVERSITAS INDONESIA. Sarjana Agama jurusan Aqidah Filsafat IAIN (Sekarang UIN) Jakarta. Meneliti tentang keluarga dan keberagamaan. Menulis persoalan perkawinan, keluarga, cerpen dan puisi.

Maman Abdurahman
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x