Mendobrak Tabu: Membincang Seks dalam Rumah Tangga

Ilustrasi: www.freepik.com

Mima tercenung sendiri pagi ini. Ia mengingat tadi malam dan juga malam-malam sebelumnya tentang kebersamaannya dengan suami. Ia sedang memikirkan kenapa hubungan seks yang ia lakukan dengan suami tidak begitu menyenangkan baginya.  Ia berkhayal seandainya suaminya bisa membuat ia lebih terangsang dengan menyentuhnya di bagian-bagian tubuhnya yang lebih sensitive sebelum berhubungan. Tetapi, kok rasanya malu ya kalau harus bilang ke suaminya tentang keinginannya itu…Ia ragu-ragu apakah suaminya mau mengikutinya atau malah akan berfikiran lain?

Kisah Mima ini mungkin bukan satu-satunya dialami oleh perempuan menikah. Banyak di antara para perempuan yang sudah menikah merasa malu, canggung dan bahkan segan untuk berbincang dengan suami tentang hubungan seks yang mereka inginkan. Penelitian yang saya lakukan terhadap para perempuan menikah, hanya sedikit dari mereka yang secara bebas berdiskusi dengan suaminya tentang keinginan mereka dalam berhubungan seks. Mengapa hal ini terjadi?

Membincang seks dalam budaya Indonesia masih dikategorikan tabu, walaupun di era millennial sekarang setiap orang sudah terpapar dengan tampilan-tampilan yang berkaitan dengan seks di internet dan media social. Disebut tabu karena seks menyangkut hal sensitive yakni berkaitan dengan pengalaman yang bersifat pribadi; dan juga menyangkut hal yang mengarah pada bahaya yakni berkaitan dengan moralitas. Tetapi di sisi lain sebenarnya membincang masalah seks membuat penasaran karena menggoda dan bergairah.

Implikasi dari budaya yang mengkategorikan membincang seks sebagai tabu adalah bahwa persoalan seks ini menjadi jarang dijadikan topik diskusi mendalam (sex education) baik secara umum maupun secara privat: di sekolah antara guru dan murid, ibu dan anak, termasuk di dalamnya antara suami dan istri dalam pernikahan. Ada beberapa alasan kenapa membincang seks dalam pernikahan menjadi tidak lancar atau bahkan tidak dilakukan, di antaranya adalah:

Pertama, perbedaan usia yang cukup jauh antara suami dan istri. Perbedaan usia ini menjadikan perempuan merasa segan dan malu untuk mengungkapkan keinginannya secara seksual kepada suaminya. Karena perasaan ini, banyak istri yang menyembunyikan hasratnya ketika berhubungan seks dengan suami. Hal ini juga didukung bila suaminya tidak memahami keinginan istri.

Kedua, Perasaan malu. Perasaan malu dan segan yang dimiliki perempuan ini adalah buah dari internalisasi social dari sikap feminine di mana malu adalah salah satu sifat yang harus dimiliki perempuan. Perasaan malu ini kemudian terbawa terus hingga dalam relasi suami istri terlebih dalam hal ini berkaitan dengan stereotype bahwa perempuan tidak boleh terlalu menampakkan hasrat seksualnya karena akan mengantarkannya pada alasan ketiga.

Ketiga, persepsi negative dari suami. Beberapa pengalaman perempuan yang mengungkapkan keinginan dan pilihannya dalam berhubungan seks kepada suaminya, suaminya malah memperoloknya, menertawakannya dan bahkan berprasangka negatif atas ungkapannya. Terkadang, suami memberikan label negatif (‘kegatelan’/ ‘telah berpengalaman’) atau merasa curiga bila istri mengungkapkan keinginan tertentu dalam hubungan seks. Padahal kebanyakan perempuan yang mampu mengungkapkan keinginan untuk berbincang mengenai sex preference-nya sudah mengerahkan segenap keberaniannya. Bila hal ini tidak didukung oleh suami dan bahkan ditertawakan atau dianggap negatif akan menjadikan perempuan kapok untuk mengutarakan keinginannya lagi. Suami dengan demikian harus mendukung istri dengan menyediakan kondisi yang nyaman dana aman untuk berdiskusi masalah seks yang diinginkan berdua.

Oleh sebab itu, dalam relasi seksual istri dan suami sebaiknya luangkan waktu berdua untuk berbincang mengenai hubungan seks. Perbincangan bisa berkaitan dengan waktu yang disepakati untuk berhubungan, durasi, gaya yang diinginkan masing-masing pasangan, daerah-daerah tubuh yang membuat pasangan cepat terangsang dan lain-lain. Saling bertanya tentang keinginan masing-masing dalam berhubungan seks juga bisa dibincangkan. Membincang seks dalam rumah tangga diharapkan mampu menjadikan relasi keduanya menjadi bergairah dan lebih harmonis.

Seks dalam rumah tangga antara suami dan istri adalah hubungan yang sudah dilegalkan melalui pernikahan. Dengan memulai membincang dengan pasangan mengenai hal ini diharapkan menjadikan pengalaman seks bagi kedua belah pihak menjadi menyenangkan. Selamat berbincang! 

Irma Riyani
0 0 vote
Article Rating

Irma Riyani

Dosen Ilmu Alquran dan Tafsir pada Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia mendapatkan gelar PhD dari the University of Western Australia; MA dari Studi Alquran UIN SGD Bandung dan Islamic Studies Leiden University, Belanda. Disertasi S3 nya berjudul: The Silent Desire: Islam, Women’s Sexuality and the Politics of Patriarchy in Indonesia. Kajian yang digelutinya berkaitan dengan: Perempuan dan Sexualitas dalam Islam, Metodologi Hermeneutika Feminist atas Alquran, dan Studi Islam.

Irma Riyani
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x