Mengenal 3 Faktor Utama Mengapa Anak bisa Membully

Ilustrasi: freepik.com

Pagi ini rasa bingung bercampur sedih dan bertanya-tanya datang menghampiri. Setelah seorang teman bercerita bahwa di sekolah anaknya ada seorang anak kelas 4 SD meninggal dunia setelah di-bully teman-temannya, dan dipukuli, hingga meninggal dunia oleh adik-adik kelasnya sendiri, kelas 2 SD. Mengapa bisa sampai terjadi?

Kejadian ini entah rekaman peristiwa yang sama dengan berita-berita yang sering saya baca dan dengar atau memang ada hal lain? Bahkan lebih ektrim di mana seorang murid SD berani membully gurunya yang ‘cantik’ dan mempermalukannya karena ditolak cintanya. Astagfirullahal ‘Adzim.

Lalu, apa sih sebenarnya yang bisa membuat anak-anak ini melakukan bully kepada yang lainnya, sebagai orang tua kita harus mengetahuinya.Berikut ada 3 faktor yang bisa menjadi pemicu seorang anak melakukan bullying.

  1. Karakter Anak yang Agresif

Setiap anak terlahir fitrah dengan karakter dan keistimewaan tersendiri, dan pada perkembangannya, kedua orang tua dan lingkunganlah yang membentuknya lebih dominan atau terkikis hilang. Usia 5 tahun pertama anak merupakan saat terpenting dalam proses kehidupannya, yang menjadi dasar pembentukan kepribadian selanjutnya. Pada saat ini pula terjadi pembentukan konsep tentang dirinya, mulai perkembangan fisik motorik, kognitif, sosial, terutama emosinya.

Dalam proses perkembangan sosial dan emosinya, akan terlihat satu karakter anak yang spesial, baik terkait karakter baik maupun yang tidak baik. Perilaku agresif misalnya, seperti anak yang selalu ingin berkuasa, ingin selalu menjadi nomor satu, dan ingin selalu lebih hebat dan terkuat, bisa menjadi salah satu pemicu anak melakukan bullying. Ketika anak ingin menjadi yang terkuat dan hebat, di situ anak akan menganggap orang lain haruslah di bawah dia. Anak akan merasa cemburu, marah dan iri hati bila dia dikalahkan orang lain.

Anak seperti ini biasanya tidak bisa mengendalikan amarah, rasa sakit hati, frustasi, dan emosi kuat lainnya. Akibatnya, Anak akan melampiaskan emosinya itu dengan merusak atau menyakiti orang lain, sekalipun kepada orang tuanya sendiri. Biasanya anak dengan karakter seperti ini tidak mau diatur dan cenderung sulit bekerja sama dengan orang lain. Oleh karena itu, sangat penting orang tua mengenali karakter anak-anaknya sehingga tidak melakukan hal yang merugikan orang lain (termasuk mem-bully).  

  • Pola Asuh Keluarga

Ketika anak sudah memiliki karakter agresif ingin berkuasa dan lebih hebat, ditambah di lingkungan keluarga tidak sengaja ‘dipupuk’ dan terfasilitasi, maka resiko anak melakukan bullying akan meningkat. ‘Dipupuk’ di sini artinya melalui pola asuh yang dipakai dalam keluarganya, apakah otoriter, permissif, atau perpaduan antara keduanya, maka alhasil saat anak dibiarkan menyerap yang ia dapat dari pola asuh yang diterimanya tanpa bimbingan, maka hal tersebut bisa menjadi salah satu pemicu dirinya melakukan bullying.

Dari pola asuh otoriter misalnya, di mana anak cenderung dikekang dan diminta untuk mengikuti kata orang tua, anak biasanya berfikir ‘Saya dituntut banyak nih di rumah, harus ini harus itu saya juga mau nuntut (menekan) orang ah di luar’, maka tumbuhlah benih ingin melampiaskannya kepada orang lain, salah satunya melakukan bullying.

Demikian juga dengan pola asuh yang permissif, di mana orang tua cenderung mengikuti segala kemauan anak, membiarkan apapun yang anak lakukan bahkan cenderung ‘membela’ sekalipun anak melakukan kesalahan, maka bisa membuatnya berpikir ‘Toh saya di rumah atau di manapun melakukan ini (bullying) dibiarkan, berarti saya bebas dong mau ngapain’. Sehingga anak akan merasa apapun yang ia lakukan tidak pernah salah, termasuk mem-bully ini.

Pada dasarnya, anak merupakan replika kedua orang tuanya. Anak adalah peniru yang ulung, dan role of mode-nya adalah Ayah dan Ibunya. Sehingga bisa jadi alasan anak melakukan bully adalah karena anak meniru perilaku yang sering dia lihat di rumah. Misalnya dari cara Ayah memperlakukan Ibu, atau dari cara Kakak bersikap kepada adiknya, selain dari cara bagaimana pola asuh orang tua mereka di atas.

Anak yang sering melihat perilaku yang tidak baik dalam keluarga cenderung akan memperlakukan orang lain dengan cara yang sama seperti yang sering dia lihat dan alami. Tentu hal ini tidak baik. Karena anak akan rentan untuk meniru perilaku-perilaku yang dilihat olehnya, sedangkan anak, pada usia dini khususnya, belum bisa memahami sikap mana pada orang dewasa yang salah, anak hanya bisa mencontohnya saja dan cenderung menirukannya di lingkungan bermainnya atau dibawanya ke sekolah.

  • Lingkungan yang Menganggap ‘Wajar’ perilaku Bullying

Lingkungan seperti apa sih lingkungan yang menganggap ‘wajar’ perilaku bullying itu? Lingkungan yang dimaksud misalnya, anak dibiarkan (ditonton) bahkan disoraki saat mengintimidasi orang lain sehingga dia menganggap ‘keren’ saat dirinya mem-bully orang lain. Bahkan dia akan merasa apa yang dilakukan baik-baik saja, dan sangat memungkinkan dia akan melakukan bullying terus-terusan.

Bagi korban bullying, mereka juga bisa jadi berfikir ‘saya dulu digituin (dan orang lain membiarkan saya dibully), sekarang juga saya bisa dong giniin orang lain’. Selain karena ia merasa dendam, ia juga merasa hal itu wajar (karena dibiarkan), maka bisa jadi ia membalas dendamnya dengan menjadi pelaku bullying nantinya. Termasuk bagi saksi saat bullying ini terjadi pun, kondisi lingkungan seperti ini, selain membuat dia merasakan bahwa orang-orang tidak ada masalah dengan tindakan tersebut, sehingga terbentuk pola pikir pada anak kalau bullying itu wajar, yang akhirnya bisa membuat dirinya menjadi pelaku bullying juga.

Oleh karena itu, jika perilaku bullying ini terjadi, segera atasi secara langsung, jangan diam saja. Jangan dibiarkan terjadi di sekitar kita. Karena anak terkadang tidak menyadari bahwa yang dilakukan adalah bullying, mereka mengatakan ‘ini hanya sekadar iseng dan bercanda saja kok’’. Padahal apa yang mereka lakukan adalah sudah termasuk kategori bullying. Lingkungan seperti ini akan sangat berimbas kepada kepribadian anak saat dewasa dan bisa jadi memicu seorang anak menjadi pelaku bullying.

Wallahu a’lam.

Silvia Rahmah
0 0 vote
Article Rating

Silvia Rahmah

Magister Pendidikan Quran Hadis. Berpengalaman di dalam dunia jurnalistik dan editor di sejumlah penerbit nasional. Ia juga menyukai pengasuhan anak-anak atau parenting.

Silvia Rahmah
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x