Menggali Potensi Anak dengan Mengenali Wataknya

Ilustrasi: freepik

Pada Sabtu, 15 Januari 2022 saya mengikuti webinar tentang parenting dengan tema “Menggali Potensi Minat Bakat Anak Berdasarkan Watak”. Seminar yang diselenggarakan secara online melalui zoom dan live youtube ini diselenggarakan oleh Bidang Dakwah & Komite BHIS (Buahati Islamic School) Jakarta.


Narasumber seminar ini adalah dr. Aisah Dahlan, CHt., CM., NLP. Pada seminar ini narasumber menjelaskan seluk beluk watak dan hubungannya dengan pengembangan potensi anak.

Narasumber menjelaskan bahwa watak, merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku. Watak juga sering disebut tingkah laku, budi pekerti, tabiat dan dasarnya atau sudah dari sononya. .

Selain mengacu pada KBBI, narasumber juga mengutip al-Qur’an Surat al-Isra ayat 84 tentang prilaku manusia yang sesuai dengan pembawaannya.

قُلْ كُلٌّ يَّعْمَلُ عَلٰى شَاكِلَتِهٖۗ فَرَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ اَهْدٰى سَبِيْلًا ࣖ

Katakanlah (Muhammad), “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS. Al-Isra:84)

Menurut Praktisi Neuroparenting Skill ini, ciri khas “watak” itu diturunkan secara genetik. Karena itu, bicara watak juga akan membicarakan kromosom seks yaitu XX pada perempuan dan XY pada laki-laki. Di dalam kromosom itu ada DNA dan di dalam DNA ada gen. Di dalam gen itu membawa pesan genetika dari Ayah-Ibu, Kakek-Nenek sampai tujuh leluhur ke atas.

Muatan-muatan genetik dari Ayah-Ibu tidak hanya bentuk anggota tubuh tapi juga jenis watak. Watak-watak tersebut sudah masuk pada gen seperti program-program bawaan pada komputer yang sudah terinstall.

Karena itu, kita seringkali mendapati seorang anak yang bentuk wajah, rambut, telinga, hidung, dagu dan bentuk lainnya mirip dengan ayah-bundanya. Bahkan tidak hanya itu, cara bicara, cara tidur dan juga wataknya seperti pendiam, senang bicara, senang tampil di depan umum, pengatur, pemikir dan watak dan bakat lainnya. Semua bawaan dari Ayah-Bundanya atau kakek-neneknya atau buyutnya.

Karena watak dan bakat itu sudah ada pada setiap manusia, maka kita tinggal menstimulasi agar mereka bisa berkembang dengan baik. Di dalam watak bawaan ada program kekuatan dan program kelemahan. Hal ini disebutkan juga dalam al-Quran Surat Asy-Syam ayat 8.

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”

Dengan adanya dua hal tersebut, kekuatan dan kelemahan, maka program atau watak kekuatan tersebut yang perlu diaktifkan terus dengan cara pembelajaran. Sebagai contoh, misalnya seorang anak yang berwatak introvert yang cenderung berpikir mendalam dan pengamat sehingga terkesan lambat untuk bertindak maka orang tua bisa mengajarinya agar cepat mengambil keputusan dan bertindak.

Begitu pun kelemahan-kelemahan pada watak bawaan lainnya. Pada kekuatan watak-watak bawaan orang tua memaksimalkannya dengan memberikan stimulus dan arahan sehingga bisa berkembang secara baik.

Secara garis besar, pembagian watak menjadi tiga yaitu introvert, extrovert dan ambivert. Salahsatu cara cepat untuk mengetahui watak anak adalah dengan melemparkan pertanyaan singkat kepada anak seperti berikut ini: Kalau sekolah Kakak akan mengadakan pertunjukkan drama atau teater mau menjadi peran apa? 1. Penonton 2. Penulis skenario 3. Sutradara 4. Artis/pemainnya. Anak dipersilakan untuk memilih dua peran. Mengapa? Karena pada setiap manusia ada dua watak bawaan dari Ayahnya dan watak dari Ibunya.

Bagi anak yang memilih menjadi penonton, kemungkinan jenis wataknya adalah orang yang “damai”, tidak mau ada masalah. Watak ini sering dinamakan dengan phlegmatis. Ia seorang pengamat. Biasanya anak yang phlegmatis lebih tenang dan jarang marah. Karena jarang marah, ia cepat lelah. Energinya habis untuk menghandle kemarahannya.

Ciri khas orang phlegmatis lainnya adalah sering bilang “terserah”. Ciri lainnya adalah senang dengan pekerjaan rutin dan dapat diandalkan. Salah satu kelemahan anak phlegmatis adalah sulit mengambil keputusan. Anak dengan watak ini senang bergaul dengan anak yang suka mengambil keputusan untuk dirinya. Salahsatu motto orang phlegmatis adalah “saya ingin selalu membantu dan menyenangkan orang lain”.

Bagi anak yang memilih menjadi penulis skenario hasratnya “sempurna”. Selalu mau benar, selalu mau detail. Watak ini sering dinamakan dengan istilah melankolis. Ia seorang pemikir. Biasanya anak pemikir cenderung terlalu sensitif. Kalau mengerjakan sesuatu maunya detail dan sempurna. Beberapa kekuatan anak melankolis adalah mampu melihat hal-hal detail, kritis dan teoritis, serius juga tekun dan konsisten.

Selain memiliki kelebihan, watak melankolis juga mempunyai kelemahan yaitu diantaranya adalah mudah stress jika hidup tidak teratur dan standar tidak terpenuhi.

Anak yang memilih sutradara hasratnya mengatur, senang mengatur dan ia senang kerja. Watak ini sering dinamakan dengan istilah koleris. Diantara kekuatannya adalah cenderung mengejar target, mengendalikan dalam menguasai pelajaran. senang menggunakan caranya sendiri. Dan salahsatu kelemahnnya adalah bersikap seperti BOS, dominan, otokratis, tidak sabar, tidak suka memberi pengakuan pada orang lain. Salah satu motto anak koleris adalah “langsung pada masalah, jangan bertele-tele ! Saya aja yang ngatur.”

Sedangkan anak yang memilih artis, aktor atau pemain hasratnya adalah gembira. Watak ini sering dinamakan dengan istilah sanguinis. Salahsatu kelebihannya adalah mampu mengemukakan pendapatnya di depan kelas atau di depan teman-teman dengan penuh gairah. Kekuatan lainnya adalah kreatif, optimis, pandai menghibur dan menggembirakan orang lain. Sedangkan diantara kelemahannya adalah tidak suka sesuatu yang rumit dan detail, tidak terorganisir mudah stress jika hidup tidak menyenangkan.

Penggabungan dua watak phlegmatis damai dengan melankolis sempurna disebut dengan watak introvert. Sedangkan penggabungan dua watak sanguinis gembira dengan korelis mengatur adalah ekstrovert. Penggabungan dua watak sanguis dengan phlegmatis atau koleris dengan melankolis sering disebut dengan watak ambivert.

Bagaimana kalau pemilihannya menyilang? Misalnya phegmatis damai dengan watak koleris mengatur itu penggabungan dua watak pembawaan dan watak hasil pembelajaran.

Menurut Ibu dr. Aisyah Dahlan metode cara cepat mengenali watak seperti ini akurasinya 80%. Dan ini sesungguhnya sudah cukup akurat. Jika ingin lebih akurat lagi bisa menggunakan metode lain yang sudah banyak dikembangkan.

Dengan mengenali watak anak, orang tua bisa menggali dan mengembangkan potensi anak sesuai dengan wataknya. ***

Maman Abdurahman
Follow me
5 1 vote
Article Rating

Maman Abdurahman

Magister Psikologi Islam. Meneliti dan menulis masalah perkawinan dan keluarga. Sekali-kali menulis cerpen dan puisi.

Maman Abdurahman
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x