Mengintip Hubungan Seksual Malam Pertama

Ilustrasi: freepik.com

Malam pertama adalah malam yang sangat dinanti oleh pasangan yang baru saja menikah, karena di malam pertama ini, pasangan tersebut berharap untuk melakukan hubungan seksual pertamanya. Tetapi, apakah semua pengantin baru pada hari tersebut lantas malamnya melakukan hubungan seksual yang dinamakan malam pertama tersebut? Bagaimana dengan anda?

Dalam Islam, hubungan seksual dengan pasangan diharapkan baru terjadi di malam pertama. Hal ini dikarenakan Islam hanya membolehkan hubungan seksual dilakukan dalam pernikahan. Hubungan seksual yang dilakukan pasangan di luar pernikahan disebut zina.

Di Indonesia sebagai negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, sebenarnya laki-laki dan perempuan diharapkan untuk menjaga keperawanan dan keperjakaannya sampai tiba waktunya malam pertama ini. Namun demikian, tekanan lebih banyak ditujukan kepada perempuan tentang menjaga keperawanan daripada kepada laki-laki.

Selain itu mitos-mitos tentang keperawanan juga digembar-gemborkan di kalangan laki-laki yang menyebabkan perempuan semakin tertekan.  Belum lagi, beberapa mitos yang dimunculkan tentang malam pertama di kalangan perempuan adalah bahwa perempuan akan mengalami rasa sakit saat hubungan seksual pertama ini. Sementara itu, berbeda gambaran yang beredar di kalangan laki-laki yang menyatakan bahwa baginya pengalaman malam pertama itu akan menyenangkan.

Karena mitos-mitos yang beredar tersebut, beberapa perempuan kemudian memiliki berbagai perasaan yang berkecamuk dalam dirinya tentang malam pertama. Beberapa perempuan menggambarkan perasaannya antara takut, malu dan tentunya penasaran juga.

Ilustrasi: freepik.com

Rasa takut yang dialami perempuan menghadapi malam pertama dapat difahami mengingat budaya di Indonesia masih mengharapkan bahwa perempuan dalam pernikahan diharapkan untuk melayani suami. Sementara, tidak semua perempuan dibekali informasi yang cukup memadai tentang seksualitas sebelum menikah (kita akan bicara lebih lanjut di tulisan berikutnya). Sehingga mereka tidak tahu apa yang akan terjadi di malam tersebut, apa yang harus dilakukan, dan apa kemungkinan yang akan suaminya lakukan atas dirinya.

Rasa malu dialami berkaitan dengan internalisasi sifat femininitas yang harus dimiliki oleh perempuan dalam budaya Indonesia. Dalam hal ini berkaitan dengan menunjukkan tubuh tanpa busana pada lawan jenis, terlebih ini adalah untuk pertama kalinya. Sementara itu, rasa penasaran juga muncul pada malam pertama dan hal ini berkaitan dengan gairah dan hasrat yang akan terjadi di antara dua insan yang saling mencintai.

Tetapi apakah semua pengantin baru melakukan hubungan seksual pertamanya di malam pertama? Inilah beberapa pengalaman yang dialami beberapa perempuan yang saya wawancarai untuk penelitian saya. Ternyata banyak di antara perempuan-perempuan tersebut menunda hubungan seksual di malam pertama tersebut dengan berbagai alasan. Penundaan tersebut beragam, ada yang beberapa hari ke depan, seminggu, dan bahkan ada yang beberapa bulan lamanya. Walaupun, banyak juga di antara mereka yang melaluinya di malam pertama tersebut.

Inilah alasan-alasan yang dikemukakan oleh mereka:

Pertama, kecapean karena prosesi resepsi pernikahan yang melelahkan seharian penuh dengan banyaknya tamu undangan.

Kedua, Malu terhadap pasangan karena belum terlalu mengenalnya dan kaku untuk memulainya.

Ketiga, malu terhadap keluarga, karena biasanya masih banyak saudara dan keluarga besar yang menginap di rumah setelah hajatan, terlebih bila rumah mereka kecil.

Keempat, takut bahwa suaminya akan memperlakukannya dengan tidak baik, bahkan memaksa. Apalagi mitos malam pertama akan sakit menghantui benak para perempuan  tersebut.

Beberapa pengalaman perempuan yang mengalami sakit saat inisiasi hubungan seksual dengan suaminya juga dikarenakan kurangnya pemanasan (foreplay, muqaddimah) dari suami sebelum melakukan hubungan seksual.[1] Hal ini bisa jadi karena suami tergesa untuk melakukan hubungan dan kurangnya perhatian tentang kesiapan istri dalam hubungan seksual tersebut. Selain itu, karena malam pertama juga adalah menjadi pengalaman pertama laki-laki dalam hubungan seksual menyebabkan beberapa kehawatiran tersendiri, di mana biasanya laki-laki diharapkan memiliki pengetahuan lebih dibanding perempuan.

Malam pertama bagi sebagian besar pasangan pengantin baru mungkin saja menjadi pengalaman hubungan seksual pertama yang menyenangkan. Akan tetapi, untuk sebagian yang lainnya masih belum menunjukkan keberhasilan karena kurangnya pengalaman dan juga beberapa factor seperti tersebut di atas. Penundaan inisiasi seksual ini sebetulnya tidak perlu menjadi persoalan besar mengingat kedua belah pihak (pasangan) harus benar-benar menunjukkan kesiapan dan harus saling menghormati dan mendukung pilihan tersebut. Oleh sebab itu, pemberian informasi yang benar dan bertanggungjawab tentang seksualitas pra nikah menjadi sesi yang penting di program Suscatin (kursus calon pengantin) KUA.


[1] Lihat tulisan berikutnya

Irma Riyani
5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x