Menjadi Orang Tua yang Pantas Dibaktikan

Ilustrasi: freepik.com

Sekali lagi tentang sebuah kata tentang berbakti. Minggu lalu saya mengulas tentang toxic parents, bagaimana prilaku orang tua juga kadang membahayakan anaknya dan bahkan dapat membentuk anaknya menjadi anak yang bermasalah, bukan anak yang smart dan sholeh atau sholehah.

Kali ini sebenarnya tidak jauh berbeda hanya saja diawali dengan sebuah pertanyaan mendasar tentang apakah kita sebagai orang tua pantas dibaktikan oleh anak. Terlepas bahwa semua anak wajib berbakti dan berbuat baik kepada orang tuanya. Namun teori sebab akibat akan menjawab bahwa anak berbakti juga perlu contoh, paling tidak dari orang tuanya terlebih dahulu. Barangsiapa yang menyayangi maka ia akan disayangi, demikian kata hadits nabi.

Bagaimanakah menjadi anak yang berbakti dan menjadi orang tua yang pantas dibaktikan. Kata pantas dibaktikan ini sesungguhnya sebuah ungkapan lain dari jangan sampai kita menjadi orang tua yang durhaka.

Memangnya ada orang tua yang durhaka? Selama ini kita sebagai orang tua merasa powerfull dengan berbagai kisah yang menceritakan tentang anak durhaka. Digambarkan bagaimana Allah  memberikan peluang besar bagi para orang tua tentang ‘kekuasaannya’ kepada anak mereka dengan hadits yang menyatakan ‘ridho Allah adalah ridho orang tua’.  Hingga juga bagaimana mustajabnya doa para orang tua seperti yang diriwayatkan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu

  “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang tua pada anaknya,” (HR Ibnu Majah). Padahal pesan Amirul mukminin, Umar bin Khattab ada 3 syarat wajib yang harus dimiliki para orang tua terutama ayah jika ingin pantas dibaktikan anak anaknya yaitu yaitu “Memilihkan ibu/ayah yang baik untuknya, memberinya nama yang bagus dan mengajarkannya Al-Qur’an”.

Hal ini keluar dari statement Amirul Mukmini kepada suatu saat Umar bin Khattab kedatangan seorang ayah yang menyeret putranya sambil berteriak. “Mohon nasehati dia, wahai Amirul mukminin!” kata orang tua itu.

Umar lalu menasehati anak lelaki itu, namun tak disangka anak itu justru berbalik tanya: “Wahai Amirul Mukminin! Adakah perintah anak berbakti kepada orang tua yang juga dibarengi dengan ajaran orang tua bertanggung jawab kepada anaknya?”.

Umar bin Khattab menjawab: “Ya, tentu saja! Seharusnya seorang ayah menyenangkan dan mencukupi nafkah istri sekaligus ibu dari putra-putrinya, memberikan nama yang baik kepada putra-putrinya, serta mengajari putra-putrinya Al-Quran dan ajaran agama lainnya.”

Mendengar penjelasan itu anak laki-laki itu sambil menangis berkata: “Jika demikian, bagaimana aku mampu berbakti kepada ayahku? Demi Allah, ayahku tak pernah sayang kepada ibuku, dia perlakukan ibuku seperti seorang budak. Dia juga tak menamaiku dengan nama yang baik, dan lagi dia juga tak pernah mengajariku mengaji, satu ayat pun!”

Riwayat di atas menjadi satu kisah yang harusnya mampu menjadi cambuk bagi kita para orang tua bahwa janganlah menuntut dulu anak berbakti kepada kita sebagai orang tua. Justru baktinya anak-anak sungguh adalah hadiah dari prilaku kita kepada mereka ketika masih kecil. Tanamkan akhlak yang baik di diri kita maka ia akan tumbuh di diri anak-anak kita.

Ilustrasi: freepik.com

Bagi para orang tua sayangilah lahir-batin suami/istri yang menjadi sumber belajar pertama kali anak kandungnya. Selalulah berkata lembut dan panggillah putra-putri dengan sebutan yang baik. Didiklah putra-putri kita dengan pendidikan yang baik dan bermanfaat untuk masa depan mereka. Kebanyakan anak menjadi rusak moralitasnya disebabkan faktor orang tua yang menyia-nyiakan pendidikan anaknya sehingga anak itu tak berkembang akal pikirannya dan tak mendatangkan manfaat di masa depannya juga untuk kedua orang tuanya.”

Jika ingin pantas dibaktikan anak maka:

  1. Cintailah anak tanpa syarat. Jangan pernah menahan cinta sebagai hukuman atas perilaku buruk. Meskipun kita tidak harus menerima pilihan atau perilaku negatif anak namun katakan padanya dan tunjukkan kepadanya bahwa kita mencintai dan menerimanya sebagai pribadi. Beri dia cinta dan dukunganmu di saat baik dan buruk.
  2. Jadilah contoh dari tipe orang yang kita inginkan. Teladan sikap dan perilaku positif yang kita harapkan darinya. Anak-anak kita adalah pengamat paling tajam dari semua yang kita lakukan dan katakan. Teladan pribadi kita akan memiliki dampak besar pada perilaku anak kita. Berusahalah untuk menjadi diri kita yang terbaik, dan jadilah seseorang yang dapat ditiru oleh anak kita.
  3. Habiskan waktu bersama yang berkualitas. Bahkan ketika jadwal sibuk dan sangat sibuk, temukan waktu untuk fokus pada setiap anak. Manfaatkan peluang kecil untuk mengikat. Baik itu selama perjalanan ke sekolah, saat berjalan-jalan, selama waktu makan atau waktu mandi, kita dapat mengambil beberapa menit untuk fokus pada anak kita, dengarkan pikiran dan kekhawatirannya, dan tunjukkan betapa kita peduli padanya.
  4. Tetapkan aturan dan harapan yang masuk akal untuk anak kita dan konsistenlah. Kunci untuk disiplin yang efektif adalah memiliki aturan dan batasan yang jelas untuk anak kita dan konsisten dalam memberlakukan konsekuensi. Tetapkan rutinitas untuk diikuti oleh anak-anak kita, dan jelas serta spesifik tentang perilaku yang kita harapkan dari mereka.
  5. Berfokuslah pada perilaku positif sebanyak mungkin. Kenali pilihan dan perilaku positif anak kita dan berikan pujian yang tulus untuk hal-hal baik yang ia lakukan. Mengakui dan memuji perilaku positif anak kita akan membantu memperkuatnya. Ini juga akan membantu mencegah anak kita menggunakan perilaku negatif sebagai cara untuk mendapatkan perhatian.
  6. Berdayakan anak kita dan bantu dia merasa mampu. Beri dia kesempatan untuk bekerja secara mandiri. Untuk anak kecil, mungkin semudah mengatur meja atau membersihkan mainannya. Anak yang lebih besar mungkin memasak makanan atau merencanakan kegiatan keluarga. Pilihan apa pun yang kita pilih, temukan cara untuk mengajar anak-anak kita bahwa mereka kompeten. Dukung mereka dan bantu mereka, tetapi jangan mencoba menyelesaikan semua masalah mereka untuk mereka.
  7. Terima kesalahan-kesalahan kita sendiri dan anak kita. Hidup itu sulit dan semua orang akan membuat kesalahan. Miliki tujuan dan harapan realistis untuk diri sendiri dan anak-anak kita dan saling memaafkan ketika kita terkadang gagal. Belajarlah dari kesalahan dan gunakan itu sebagai peluang untuk tumbuh.

Masya Allah..semoga Allah membantu kita semua menjadi orang tua yang pantas dibaktikan, menjadi orang tua yang sholeh dan sholehah untuk anak yang sholeh dan sholehah. aamiin.

Daan Dini
Latest posts by Daan Dini (see all)
0 0 vote
Article Rating

Daan Dini

Mantan redaktur pelaksana Swara Rahima, founder Aminhayati Educares dan dosen di STAI Haji Agus Salim.

dini khairunida
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x