Merasa Berdosa Menyia-nyiakan Ibu Kandung

Ilustrasi: freepik.com

Sebut saja namaku  Ani.  Aku terlahir dari seorang  Ibu yang pekerjaaanya mengurus suami dan anak-anaknya.  Sementara  Ayahku adalah seorang guru Sekolah Dasar.  Aku mempuyai  seorang kakak perempuan yang usianya hanya terpaut setahun.  Sepintas kehidupan rumah tangga Ayah Ibu kami waktu itu terlihat rukun dan bahagia. Sampai suatu ketika, Ayah jarang pulang ke rumah. Sementara waktu itu, konon katanya, aku baru berusia dua tahun. Bisa dibayangkan, seorang Ibu mengurus dua anak balita berumur dua dan tiga tahun sendirian.

Dari hari ke hari Ayahku semakin menjadi-jadi. Ayah semakin lama tidak pulang ke rumah, ia semakin tenggelam dalam pelukan perempuan lain. Selidik punya selidik, Ayah menjalin hubungan asmara dengan seorang perempuan single parent.

Waktu itu, Ibu sedang hamil muda anak ketiganya.  Singkat cerita, hubungan gelap Ayah diketahui oleh ibu. Pertengkaran pun tidak bisa dihindari. Pilihan pun ditawarkan: pilih dirinya dan menjauh dari perempuan idaman lainnya itu atau bercerai. Akhirnya opsi kedua yang diambil Ayahku, bercerai.

Perceraian tidak bisa dihindari. Salah satu korbannya adalah kami, kedua anak-anaknya. Ibu tidak mau mengurus kedua anak-anaknya. Keduanya diserahkan kepada keluarga pihak laki-laki. Sementara janin yang masih dalam kandungan Ibu harus menerima nasib yang lebih tragis, ia meninggal karena Ibu dengan sengaja meminum obat melebihi dosis.

Sementara Ayah kemudian menikahi perempuan yang selama ini menjadi perempuan idamannya.

***

Aku dan kakakku, merasa dibuang oleh Ibu. Padahal Ayah kami yang menelantarkan Ibu dan memilih perempuan lain yang membuat perceraian terjadi. Dan membuat kami (aku dan kakakku) berpisah dengan Ibu. Tetapi kami tidak mempunyai rasa benci kepada Ayah sama sekali.  Bertahun-tahun Aku tidak pernah bertemu dengan Ibu yang mengandungku. Aku dibesarkan oleh Nenek dan keluarga dari Ayah. Aku sama sekali tidak dikenalkan dengan Ibu kandung. Bahkan keluarga Ayah seakan menghalangi dan memberikan citra negatif terhadap Ibu kandungku yang dibilangnya tidak mau mengurus anak-anaknya. Kebencian Aku terhadap Ibu pun tumbuh semakin besar.  Namun demikian, sebagai seorang anak yang lahir dari rahimnya, aku pun sangat merindukan sosok Ibu kandungku.

Kerinduan dan keinginan Aku untuk mengetahui Ibuku aku sampaikan kepada saudara-saudara Ayahku. Bukannnya informasi dan petunjuk tentang keberadaan Ibu yang aku dapat tetapi pejelasan bahwa ibunya telah tiada, telah meninggal. Namun demikian, pirasatku mengatakan bahwa Ibuku masih hidup. Suatu hari, sepulang sekolah aku menunggu di pertigaan jalan. Menurut keterangan seseorang, Ibuku setiap pagi melewati jalan itu. Aku pun menunggunya sampai sore. Duduk berdiri, duduk berdiri sampai lelah tetapi sosok Ibu yang aku rindukan tak jua muncul.

Aku pun pulang dengan murung. Aku sangat merindukan Ibu yang mengandung dan melahirkanku.

Singkat cerita, akhirnya aku dapat bertemu dengan Ibu kandungku, tentu dengan segala usaha dan perjuangan. Ketika pertama kali bertemu, aku melampiaskan rasa riduku setelah sekian tahun tak bertemu. Tapi kemudian, aku seakan tidak ada rasa lagi dengan Ibuku. Aku cenderung cuek dan biasa saja. Seakan tidak ada ikatan batin.

Perasaan ini yang seringkali muncul dalam benakku di keheningan malam. Aku sering menangis sendiri. Kadang di kamar mandi atau ketika suami dan anak-anak terlelap aku curahkan kegelisahanku di atas sajadah.     

Mungkin orang-orang melihat keluarga kami keluarga bahagia tak kurang suatu apa pun. Suami punya penghasilan yang lebih dari cukup. Anak-anak terlihat baik-baik semua. Yang kerja dan kuliah berjalan tanpa ada masalah yang berarti. Namun sesungguhnya hatiku rapuh dan menderita. Aku merasa berdosa setiap teringat sikapku terhadap Ibu kandungku sendiri.

Terima kasih atas tanggapannya.

Tolong bantuannya harus bagaimana Aku bersikap terhadap Ibuku. Berdosakah sikapku yang tak peduli terhadap Ibuku sendiri selama ini?

Seperti yang diceritakan Ani (bukan nama sebenarnya) kepada redaksi qobiltu.co.

Tanggapan

Bu Ani yang dirahmati Allah Swt.

Setelah berkali saya baca tulisan ibu, bismillah saya coba untuk menawarkan renungan bijak, semoga menjadi titik balik menggapai kebahagiaan jiwa.

Bahwa dari seluruh perjalanan yang ibu narasikan itu, satu inti yang saya simpulkan adalah Bu Ani sebagai seorang anak tidak ikut bersalah dan tidak berdosa dengan apa yang terjadi pada ayah atau ibunya saat itu. Hanya persoalanya adalah karena manusia telah diciptakan oleh Allah Swt dengan sebuah naluri cinta, mencintai (gharizatunnauk), termasuk mencintai keluarga maka wajar jika terasa jiwa sakit memar yang terulang, rasa obsesif ada dosa besar pada ibunda yang seakan tidak pernah terhapuskan.

Saya sendiri, dengan membaca narasi apa yang dialami oleh anda dan ibundanya, terasa  hati tersayat sedih memilukan.

Dari realitas narasi itu juga saya ingin menyimpulkan bahwa kunci problem itu pada sang ayah, walau bisa saja ibunda memiliki kontribusi aksi dan reaksi sang ayah. Namun demikian saya tidak bisa berkomentar tentang aksi sang ibunda lakukan sehingga ada reaksi sang ayah karena tidak anda narasikan di atas.

Dimana kesalahan fatal sang ayah? Pertama, melakukan poligami dengan proses dan cara yang dzalim. Dalam perspektif hukum Islam, hukum poligami bagi seorang lelaki adalah boleh  (mubah), tidak sunah, tidak makruh dan juga tidak haram. Sangat kondisional atau kontekstual sekali dengan ketentuan dan syarat hukum Islam yang berlaku. Hukum poligami ini sumbernya dari Allah Swt, Dzat Yang Maha Tahu siapakah manusia ciptaanya itu. Dan dalam faktanya, poligami itu memang ada yang sama-sama mau, atau sama-sama tidak mau atau mau tapi tidak mau.

Rasanya, proses poligami yang dilakukan oleh ayah anda, terasa tidak alamiah, kucing kucingan, diawali dengan perselingkuhan, istri sedang hamil, dst sehingga bom waktu itu meledak setelah dalam fase stadium empat.

Kesalahan kedua, rasanya ayahanda tidak menempatkan pada sebuah pergaulan, hubungan keluarga (ibunda anda) dengan cara yang makruf (baik). Padahal dalam Al Quran dengan jelas dikatakan  wa ‘asyiruhunna bilma’ruf (dan pergaulilah isteri istri kamu dengan baik).

Kesalahan ketiga, ayah anda menjauhkan kedua anak kecilnya dari ibu biologisnya. Seharusnya, anak biologis juga punya hak untuk bertemu ibunya, terlebih masih dalam fase masa pengasuhan (hadlonah) oleh bundanya. Terlebih lagi ada semacam provokasi dari ayah bahwa ibunda adalah orang yang ini itu.

Kondisi dimana anda tidak diasuh oleh ibunda ini yang kemudian menjadikan perasaan jiwa anda pada sosok ibu kurang lekat, karena harus hidup dengan seorang kakek.

Waktu sudah habis berlalu, amal sudah dicatat dan sudah terlaporkan ke langit sebuah pertanggungjawaban di hari pembalasan.

Lantas, apa yang mesti dibangun dalam jiwa anda.

Pertama, memahami dan menerima sepenuh fikiran dan jiwa bahwa yang terjadi pada masa lalu adalah murni urusan dan pertanggungjawaban ayah dan ibu anda. Sementara anda masih dalam usia anak-anak belum terbebani aspek hukum atau dosa. Dari sini maka secara pribadi anda tidak akan ikut mempertanggung jawabkan peradilan di hari kiamat. Dalam hal ini ingat sebuah ayat Al Quran bahwa setiap jiwa akan mempertanggung jawabkan amal perbuatan masing masing (kullu nafsin bima kasabat rohinah).

Selanjutnya, terhadap derita ibu masa lalu, jika masih hidup maka jalinlah shilaturahmi, berbaktilah kepadanya secara maksimal. Secara duniawi bantulah semampunya. Ajaklah bunda selalu dalam ibadah dan ketaqwaan. Ajaklah hari hari selalu dalam amal kebaikan.

Namun jika bundanya telah meninggal dunia, maka mohonkanlah ampunan kepada Allah Swt, setidaknya setelah sholat lima waktu bermohonlah kepada Allah semoga bundanya diganjar surga setelah di dunia dalam sebuah ujian hidup yang memilukan. Insya Allah dengan berdoa dan berbakti dengan tiada henti, akan maqbul menjadi orang tua mabrur dan min ahlil jannah bersama para Nabi dst. Amin.

Insya Allah dengan menyandarkan urusan hanya kepada Allah, taqarrub ilallah, maka beban sedih masa lalu bisa berganti optimisne dan kebahagiaan. Luka jiwa itu akan terobati.

Bagaimana terhadap ayahnya yang dahulu membuat istrinya menderita? Maka sikap sebagai anak, tetap mendoakan semoga husnul khatimah,  dan nanti bisa bertemu dengan ibunda di surga dalam kebahagiaan.

Pada akhirnya, apa yang terjadi pada keluarga anda pada masa lalu, maka sangat menjadi pelajaran dalam keluarga anda di hari ini. Rajutlah keluarga agar menjadi keluarga yang bahagia, sakinah, mawaddah wa rahmah. Didiklah anak anak anda untuk menjadi generasi yang sholeh sholihah sehingga kasus traumatis masa lalu tidak terulang pada generasi berikutnya.

Amin Ya Mujibassailin birohmatiKA Ya Arhamarrohomin.

Wassalamu alaikum wr wb.

Baiturokhim, Psi
0 0 vote
Article Rating

Baiturokhim, Psi

Psikolog, Alumni Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Founder Yayasan Lembaga Bantuan Psikologi Islam Indonesia. Anggota MUI Kota Bogor (2011-2016), Master Asesor di Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Baiturokhim, Psi
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x