No Excuse!

Ilustrasi: freepic.com

Pagi itu whatsapp masuk dari Rima. Rima sahabat lama ketika kuliah dulu. Sejak lulus hampir 19 tahun yang lalu akhirnya 10 tahun terakhir kami bisa bertemu lagi di FB. Dari situ Rima terus menginviteku masuk group kami ber-15 yang dulu selama kuliah kami sama sama satu kelompok diskusi dan satu kost kostan.

“harus gimana lagi um? Aku bingung?”

Beberapa tahun terakhir Rima sering berdiskusi dan curhat kepadaku tentang keluarganya. Memang ujian badai rumah tangga masing-masing orang berbeda-beda. Rima di mataku adalah perempuan, istri dan ibu yang sempurna. Kehidupannya hampir tidak ada celah untuk aku mengatakan bahwa ia adalah sungguh sempurna. Suaminya pun sepanjang yang ‘ku tahu sebelumnya adalah sosok ayah dan suami ideal. Secara finansial mereka juga sangat berkecukupan. Anak-anak sehat cerdas, sholeh dan sholehah. Namun ternyata semua itu tak juga membuat kehidupan mereka tentram. Permintaan suaminya untuk poligami membuat Rima begitu terpukul. Ia merasa sudah melakukan segalanya dan sudah merasa bahwa mereka baik-baik saja. Jika ada alasan bahwa kehidupan seksualitas sering menjadi penyebab terjadinya perselingkuhan, Rima merasa bahwa selama ini ritme seksualitas pun tak bermasalah. Namun ternyata di belakang keluarga mereka yang nampak bahagia, suami Rima tak jua bisa memendam keinginannya untuk poligami. Hubungan dengan calon madu Rima ternyata sudah terjalin lama dan inilah yang membuat Rima shock.

Bak tertimpa bangunan runtuh, Rima hampir tak bisa bangkit, kalau bukan ia mengingat bahwa ia harus kuat dan harus bertahan demi anak-anaknya. Namun utuhnya rumah tangga dengan psikologis yang hancur tidak bisa juga menjamin bagi bagusnya psikologi kepada anak-anak. Pilihan Rima memang ingin terus bertahan bahkan akhirya mengalah dengan mempersilahkan suaminya menikah lagi. Alasan surah Attahrim ayat 6 tentang perintah Allah agar kita menjaga diri kita dan keluarga kita dari Api neraka mengalahkan perasaan Rima, daripada membiarkan suaminya terus terpaut dengan perempuan lain yang artinya peluang zina, maka lebih baik baginya membukakan halalnya poligami meski harus melukai perasaan sendiri. Hanya saja perempuan kedua yang hadir diantara mereka justru tak siap menjadi yang kedua. Inilah yang kemudian membuat suami Rima tak bisa memutuskan dengan cepat dan terkesan bahkan tak mampu mengambil keputusan. Fatalnya keputusan itu diserahkan kepada Rima, apakah ia tetap ingin bertahan atau memilih pisah?

Cerita di atas tidak akan saya lanjutkan karena memang masih jadi polemik Rima. Pembaca bisa menerka kelanjutannya atau mungkin juga bisa memberikan komentar atau masukan harusnya bagaimana. Namun yang ingin saya ungkapkan dalam tulisan ini adalah bahwa sesungguhnya pegangan dasar dalam keluarga bukanlah hanya berpegang pada cinta namun juga kepada kesetiaan.

Kita mungkin mendapatkan banyak fakta di lapangan bahwa alasan pasangan berselingkuh karena kekurangan yang di miliki pasangannya. Apakah kekurangan fisik hingga psikis, atau juga karena harapan kepada pasangan yang tak tercapai lalu seolah mendapatkannya dari yang lain yang sesungguhnya semua mungkin bisa diperoleh dengan berkomunikasi dengan baik. Bahkan kadang saya tidak habis fikir bahwa ada sepasang suami istri yang saya kira patutnya mereka bahagia bersama dengan anak anaknya karena apapun mereka miliki, tapi tetap ada saja peluang salah satunya melakukan pengkhianatan. Di satu ini saya sempat terkagum dengan Gen Halilintar yang mempesona publik dengan sloganya My Family My Tim. Gen telah sangat tepat memposisikan diri sebagai seorang bertanggungjawab kepada keluarga hingga ia membuat memang keluarga itu adalah kesatuan. Ia dan istrinya adalah ayah dan ibu untuk anak-anaknya. Tak perlu ada orang ketiga diantara mereka karena ia telah mendaulatkan diri sebagai tim. Kesetiaan dan komitmen lah yang akhirnya harusnya menjadi pegangan. Bahwa keluarga bahagia datang dari kekuatan kesetiaan ayah dan ibu kepada anak-anaknya, komitmen mereka sebagai tim dan partner untuk anak-anaknya.

Jika di lapangan di dapati misalnya suami selingkuh atau menikah lagi dengan perempuan yang lebih muda dan cantik dari istrinya. Atau seorang istri menggugat cerai suaminya hanya karena ia tergoda lagi dengan laki-laki lain yang jauh lebih tampan dan kaya dari suaminya, saya kira ini biasa dan dapat diterka. Tetapi cerita Rima masih sukar saya fahami, karena mereka secara kasat mata ada perfect family.

Tapi itulah, tak ada gading yang tak retak, apapun penyebabnya, apapun kondisinya tetap saya berpegangan bahwa harusnya tidak ada alasan bagi pasangan untuk berpaling jika memiliki tekat dan kekuatan untuk menjadi keluarga bahagia yang tentunya dikunci dengan kesetiaan dan komitmen.

Satu kata yang harusnya dicamkan bagi para pasangan dan juga orang tua dalam keluarga, yaitu No Excuse, tidak ada alasan! Ya tidak ada alasan untuk menghancurkan keluarga dengan alasan apapun. Alasan istri atau suami sudah tak bisa melakukan hubungan seksualitas lagi, alasan kekurangan finansial, alasan tidak juga dikaruniai anak, hingga alasan alasan lain seperti kekurangan dan cacat fisik.

Ada faktanya pasangan yang hingga akhirnya hayatnya hanya hidup berdua tanpa anak. Saya bisa ceritakan ini dalam tulisan lain. Ketidakadaan anak tidak membuat salah satunya berpaling kepada yang lain, namun mereka mengukuhkan bahwa masing-masing separuh jiwa telah bersatu dan tak patut terpisah lagi. Ada banyak anak yang bukan dari darah daging mereka yang bisa mereka tetap sayangi dan definisi keluarga diperluas dengan bahwa keluarga adalah mereka yang kita sayangi. Itulah makanya kita sebangsa Indonesia suka juga disebut keluarga satu bangsa.

Hubungan ayah dan ibu atau suami dan istri harus terus kuat dengan pegangan bahwa mereka menikah memang bukan karena dasar cinta semata, namun bagian dari ibadah. Sungguh pernikahan dan membangun keluarga sakinah mawaddah warohmah adalah ibadah terpanjang dan terberat diantara ibadah lainnya karena itulah ia disebut menggenapkan separuh agama, ibadah ini akan selesai ketika salah satu dari pasangan kita meninggal dunia.

Teringat cerita romantisme Ainun Habibie, betapa benar-benar Ainun adalah separuh nyawanya. Ketika Ainun wafat, Habibie hampir tak sanggup berdiri sendiri. Juga kisah romantisme Rasulullah dengan Khadijah, bahkan kematian Khadijah telah membuat Rasululah sedih tidak hanya hitungan hari tapi berbulan bulan dan tahun hingga disebut Tahun kesedihan. Kematian Khadijah tak juga memadamkan kecintaan Rasul kepadanya dengan segala jasa dan pengorbanan Khadijah selama hidupnya dulu. Cinta ini lah juga yang membuat Aisyah cemburu dan Rasul masih tetap membela dengan mengatakan manalah aku dapat melupakan perempuan yang telah berkorban harta dan jiwa untuk perjuangan dakwahku.

Kembali kepada ungkapan No excuse! Tidak ada alasan! Ya tidak ada alasan bagi suami atau istri atau bagi ayah atau ibu untuk ‘berkhianat’. Poligami secara diam-diam, perselingkuhan yang jelas jelas dosa, atau bahkan permintaan izin untuk poligami kepada istri sudah pasti menguras pikiran dan perasaan yang ujung-ujungnya akan menggerogoti keharmonisan keluarga.

No Excuse! bagi seorang suami untuk menikah lagi karena alasan tidak jua dikaruniai anak.

No Excuse! bahwa semakin berumurnya pasangan semakin juga berkurang rasa kasih sayangnya.

No Excuse! karena usia lalu tidak memelihara aktivitas seksualitas pasangan.

No Excuse! karena alasan finansial pasangan harus ditinggalkan

No Excuse! Alasan fisik, sakit hingga cacat pasangan ditinggalkan begitu saja.

No Excuse!

Penikahan sebagai pintu awal bagi kehidupan rumah tangga dan keluarga harus difahami sebagai ikatan yang kuat, mitsaqon ghalidza dan sebagai kehidupan yang harus dipertahankan keutuhannya sekuat-kuatnya atas dasar hubbun lillah, cinta karena Allah. Cinta kepada Allah berarti juga mencintai pasangan seutuhnya dan apa adanya. Perbaiki cinta kita kepada Allah maka Allah juga akan perbaiki cinta kita kepada pasangan dan keluarga. Karena keluarga adalah fondasi dasar peradaban, maka suami dan istri harus menjelma menjadi aktor peradaban dan menjadi subjek bagi sebuah harmonisasi keluarga, menjadi pencipta anak-anak bangsa penuh cinta dan sepenuh jiwa. Segala kekurangan menjadi pemantik untuk bisa saling membutuhkan, bukan alasan untuk meninggalkan. Menjadi keluarga bahagia jelas harus di awali dengan pasangan yang bahagia dan pribadi yang bahagia. Pribadi yang bahagia adalah dia yang tidak pernah mencari alasan untuk tindakan yang dapat menyakiti dan merugikan orang lain, apalagi keluarganya sendiri.

Wallahu a’alam

Daan Dini
Latest posts by Daan Dini (see all)
0 0 vote
Article Rating

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0

Daan Dini

Mantan redaktur pelaksana Swara Rahima, founder Aminhayati Educares dan dosen di STAI Haji Agus Salim.

dini khairunida
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments