Palang Pintu Tradisi Dalam Pernikahan Betawi

Foto: senibudayabetawi.com

Dalam pernikahan Betawi, seringkali kita menyaksikan pertunjukan yang sering disebut orang dengan istilah Palang Pintu. Yaitu pertunjukkan adu kemampuan beladiri antara pihak calon pengantin laki-laki dengan pihak calon pengantin perempuan.

Dalam praktiknya, menurut Al Batawi prosesi Palang Pintu merupakan campuran beberapa seni budaya seperti silat, pantun, dialek Betawi dan humor. Sebagai sebuah tradisi, adat ini telah berlangsung turun temurun. Dari generasi ke generasi terus dipraktikan dan dilestarikan sampai saat ini.

Menurut penelitian Anggi Melinda dan Sinta Paramita   dalam pertunjukkan Palang Pintu ada lima tahapan proses yang akan dilalui.

Pertama, salam pembuka antar kedua mempelai. Sebelum salam pembuka diucapkan pada saat mempelai laki-laki dan rombongannya sudah mendekati wilayah mempelai perempuan maka petasan akan dipasang, ini menandakan bahwa keberadaan besan atau mempelai laki-laki telah mendekati tempat mempelai perempuan. Kemudian salam dimulai dari mempelai perempuan dan menanyakan perihal maksud serta tujuan kedatangannya kepada mempelai laki-laki.

Kedua, Adu pantun.  Adu pantun yang terjadi antar kedua mempelai ini di antaranya adalah mempelai perempuan menanyakan kesanggupan mempelai laki-laki untuk memenuhi syarat yang telah diajukan mempelai perempuan yaitu adu pukul atau silat dan mengaji. Pantun yang disajikan pada tahapan ini berisi pantun nasihat bagi kedua mempelai dan bagi rombongan besan yang hadir.

Contoh pantun yang digunakan dalam Palang Pintu.

Naek mobil lewat kampung Setu…
Nyayur labu parang bumbunya terasi..
Kalo mao ambil calon menantu…
Liwat kampungan orang kudu permisi
 

Ketiga, Adu pukul. Pada tahap inilah kesanggupan mempelai laki-laki diuji yaitu dengan memberikan beberapa atraksi bela diri guna menuntaskan salah satu syarat yang telah ditetapkan oleh mempelai perempuan yang diwujudkan melalui pelaku Palang Pintu.

Keempat, pembacaan ayat suci al-quran atau mengaji. Setelah menuntaskan syarat yang pertama, ujian selanjutnya adalah mempelai laki-laki diminta membaca salah satu surah yang ada dalam al-quran sebagai wujud keseriusannya dalam membina hubungan rumah tangga yang berdasarkan ajaran agama Islam.

Kelima, pelantunan shalawat dustur atausholawat Thola’al Badru. Apabila kedua syarat yang diberikan oleh mempelai perempuan berhasil terlaksana maka Palang Pintu terbuka dan mempelai laki-laki beserta rombongannya dipersilakan masuk dan menyegerakan ijab qabul atau akad. Terbukanya Palang Pintu ini ditandai dengan pelantunan shalawat dustur oleh rombongan mempelai laki-laki dan juga sebagai hiburan penutup.

Dalam sebuah tradisi, biasanya mengandung filosofi dan makna-makna yang tersirat di dalamnya. Begitu pun dalam tradisi Palang Pintu Betawi. Setiap proses yang ditampilkan mempunyai makna yang tersirat di dalamnya.

Seperti dalam pertunjukan beladiri yang menampilkan para jawara bermakna bahwa orang Betawi siap dan rela mengorbankan dirinya, keluarganya dan tanah kelahirannya. Begitu pun dalam adat pernikahan.  Palang Pintu sebagai simbol bahwa ada jawara yang menjaga kampung. Jika ada laki-laki dan rombongannya ingin masuk satu kampung untuk menikahi gadis kampung tersebut ada syarat yang harus dilakukan oleh mempelai laki-laki yaitu adu silat dan mengaji. Jika berhasil melewati persyaratan tersebut maka laki-laki tersebut boleh menikahi gadis kampung itu. ***

0 0 votes
Article Rating
Visited 1 times, 2 visit(s) today

admin

Admin qobiltu bisa dihubungi di e-mail qobiltu.co@gmail.com

admin
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x