Pengorbanan Ayah

Ilustrasi: freepik.com

Saat seusia Tenggara, Bapak sering mengajak saya turut serta bersepeda. Kadang ke rumah famili, rumah warga, atau pergi ke pantai menunggu nelayan pulang melaut. Saya suka momen ini. Saya tahu kisah ini dari mulut Emak suatu ketika. Saya juga ingat meski samar-samar.

Suatu kali Emak pernah ngomel-ngomel karena kaki saya dimakan jari-jari sepeda Bapak tanpa disadarinya. Darah mengucur dari kulit kaki saya yang terkelupas. Saya meraung-raung dari tempat kejadian hingga ke rumah.

Bapak tak meladeni Emak. Ia diam saja seperti terdakwa sedang mendengar putusan akhir hakim. Ia sibuk membalut luka saya dengan topo, kain bekas, dan sesekali membetulkan kopiah hitamnya.

Sirnalah wibawa Bapak sebagai ustad kampung yang omongannya didengarkan dan ditunggu-tunggu orang yang membutuhkan. “Inilah resiko seorang Ayah. Tak mudah,” sepertinya begitu Bapak mau bilang lewat tatapan matanya pada saya. Tentu saja saya tak paham bahasa rahasia itu.

Bapak tak kapok. Saat saya merengek ikut, ia tetap mengajak saya bersepeda. Ia berkorban demi saya. Agar terhindar dari insiden, Bapak pernah mengikat kaki saya dengan kain di dua kaki sepeda agar tak bergerak dan masuk jati-jari. Dari belakang saya memeluk pinggang Bapak. Sepanjang jalan saya bertanya ini-itu selayaknya anak-anak. Bapak menjawab selayaknya seorang bapak.

Lebih dari tiga puluh tahun kemudian, peristiwa ini seperti terulang lagi. Suatu kali Novi Yana, mamanya Tenggara, mengomel karena Tenggara terjatuh saat saya mengajaknya bermain. Kepala Tenggara membentur lantai. Terang saja Tenggara meraung-raung. Saya juga diam tak menjawab. Saya sibuk memeluk Tenggara, mengusap-ngusap kepala, dan mengajaknya bicara.

Mamanya mengomel dalam kalimat panjang. Tak pernah lagi dipertimbangkannya pengalaman saya di dalam dan luar negeri untuk bidang toleransi, perdamaian, dan kemerdekaan beragama seperti saya catat dalam dua lembar di biodata saya. Semua itu seolah-olah kertas kosong tak bernilai apa-apa. Sekedar bungkus cabai pun jangan-jangan tak pantas.

Tenggara … begitulah kiranya pengorbanan seorang Ayah. Maka hormatilah ia sebagaimana hormatmu pada Mamamu. Selamat Hari Ayah.

Kalimulya, 17 November 2019

Alamsyah Djafar
Latest posts by Alamsyah Djafar (see all)
0 0 vote
Article Rating

Alamsyah Djafar

Peneliti The Wahid Institute

Alamsyah Djafar
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x