Poligami dan Kebahagiaan Keluarga

Ilustrasi: freepik.com

Keluaga poligami merupakan salah satu jenis keluarga yang lazim di temui di Indonesia. Setelah ayah berpoligami tidak jarang anak mengalami permasalahan dalam hubungan dengan ayahnya. Meski di sisi lain tidak semua anak dari keluarga berpoligami mengalami permasalahan dalam hubungan dengan ayahnya. Hubungan antara kedua orang tua  dengan anak dalam lingkungan keluarga yang berpoligami akan tampil dalam kualitas yang berbeda- beda. Baik tidaknya hubungan antara orang tua dengan anaknya menggambarkan bagaimana kualitas hubungan orang tua – anak.

Tulisan di bawah ini bukanlah hasil penelitian namun sedikit saja tentang ulasan mengenai poligami, tentang berbagai statement hingga pertanyaan apa di balik poligami hingga pertanyaan apakah ada kebahagiaan dalam sebuah keluarga poligami? Biasanya, kontroversi poligami hanya akan membahas relasi antara suami dengan istri-istri yang ada. Jarang sekali melihat perspektif anak sebagai bagian dari keluarga juga dan memotret kebahagiaan mereka.

Pertanyaan yang mendasar dari praktik poligami adalah kebahagiaan. Ya, bahagia. Hampir mayoritas pemberitaan tentang poligami sarat ‘ketidakbahagiaan’ meski di sebagian berita pun menyatakan bahwa poligami itu baik dan katanya untuk kemaslahatan. Meski kebahagiaan keluarga monogami juga sesungguhnya relatif, tetapi secara idealitas mengelola keluarga monogami dan menjamin kebahagiaan di dalamnya rasanya lebih simple dibandingkan dengan pengelolaan keluarga poligami.   

Apakah kebahagiaan dari praktik poligami yang dilakukan satu keluarga menjamin akan juga terjadi di keluarga poligami lain. Tentu sangat relatif, karena seperti yang dikatakan Merry Riana, kebahagiaan itu adalah urusanmu. Tidak bisa kita mengeneralisasikan kebahagiaan apalagi untuk sebuah keluarga poligami. Hal ini sama halnya dengan ungkapan bahwa apakah dapat kita menjamin bahwa pernikahan monogami pasti bahagia. Karena lagi-lagi bahagia itu harus datang dari dirimu sendiri, dari keluarga itu sendiri.

Prototype keluarga poligami bahagia misalnya dari keluarga poligami almarhum Arifin Ilham. Keluarga ini dan sosok almarhum Arifin Ilham telah menjadi contoh bahwa poligami pun bisa bahagia, ia tidak diskriminatif dan islami karena anak-anak keluarga Arifin ilham diberitakan sangat rukun dan sangat menghormati ayah dan ibu-ibu mereka.

Sebaliknya stereotype dari poligami sangat banyak diberitakan di publik. Dari pemberitaan bahaya psikologis poligami terhadap istri pertama, kedua, juga anak, hingga hasil penelitian yang memaparkan bahwa tidak ada yang dapat diraih dari poligami kecuali kerumitan, komplikasi hingga depresi seperti hasil penelitian di Malaysia yang dilakukan oleh Sister In Islam (SIS) 10 tahun silam yang menyimpulkan bahwa poligami tidak bisa membuat keluarga bahagia.

Meski praktik poligami dilakukan banyak ulama atau kyai baik dulu hingga kini, namun praktik ini tidak dilakukan oleh Buya Hamka. Seorang kyai dan ulama terkemuka di Indonesia ini. Buya Hamka, almarhum mantan ketua MUI ini tidak pernah melakukan poligami. Ia memang menikah 2 kali, namun selama 43th ia habiskan hidupnya dengan istrinya. Buya menikah lagi selang 6 tahun setelah wafat istrinya yang pertama itupun dilaluinya dengan berdiskusi dulu dengan anak-anaknya.

Lalu kembali ke pertanyaan awal apakah poligami itu sebagai jawaban dari kerumitan seksualitas dalam rumah tangga? ketika istri pertama dianggap tidak bisa lagi memenuhi hasrat seksualitas suami maka suami diberi jalan keluar dengan menikahi perempuan lain. Dalam arti lain menutup zina dengan mengambil madu.

Jika demikian maka yang akan terjadi adalah beban psikologis istri pertama yang sudah pasti akan merasa bersalah karena tindakan suaminya beralasan dari kekurangannya. Jelas pula jika poligami sebagai jalan keluar hubungan seksualitas dalam rumah tangga maka ke depannya sudah pasti perhatian akan lebih banyak ke istri muda dan inilah kemudian akan membuat sulit bagi suami untuk berusaha adil.

….”Dalam banyak kasus poligami, seringkali perempuan jadi pihak yang dirugikan. Padahal Islam mengarahkan pernikahan semestinya bisa memberi ketenangan, dan kasih sayang yang merupakan sumber kebahagiaan.”….

….”Saya yakin, semua istri pasti merasa langit seperti mau runtuh jika mendengar suami sudah menikah lagi, tapi kemudian kedewasaan dan kekuatan iman seseorang yang akan membedakan bagaimana reaksi selanjutnya. Marah dalam batas tertentu pastilah wajar, tapi akhirnya seorang istri harus sadar semua sudah terjadi, dan segera mengambil sikap dan pilihan; antara berusaha menerima kenyataan dengan ikhlas meski sulit dan perlu proses demi kelanggengan keluarga, atau memilih untuk mengakhiri rumah tangga dengan segala konsekuensinya. Mungkin ada pilihan lain, mempertahankan keluarga sambil berusaha memisahkan rumah tangga suami yang baru terbentuk, tp pilihan ini menurut saya hanya menyiksa diri sendiri dan akan banyak menimbulkan dosa”….

….”Bagi istri bersikap sabar, ikhlas dan ridha terhadap apa yang terjadi itu adalah sikap terpuji, ada pun niat suami menikah lagi dan nantinya tidak dapat berlaku adil itu menjadi tanggung jawabnya dihadapan Allah”….

….”Hidup ini adalah pilihan. Allah SWT Yang Maha Adil dan Maha Tahu telah memberi solusi. Ada perkawinan…ada poligami…dan ada perceraian yang semuanya sudah diatur sedemikian rupa dan ada dalam syariat. Tinggal kita memilih mau yang mana yg bisa membuat kita bahagia di dunia dan akhirat dalam menjalani hidup. Dan terkadang hidup kita tidak sekedar makan cinta tapi juga harus realistis dan tegar menghadapi realita. Sayang hidup kita hanya sekali kalau harus menderita hanya karena suami poligami”…

Demikian beberapa komentar publik yang saya coba kutip yang sampai detik ini masih belum bisa menyimpulkan bahwa ada kebahagiaan di sana. Jika pun ada maka formula bahagianya diserahkan ke keluarga. Fokus dari sebuah keluarga poligamipun akhirnya tetap hanya kepada relasi ayah dan ibu dan jarang melihat posisi anak. Padahal keluarga itu ayah, ibu dan anak. Jadi masihkah tetap sebagai sebuah pertanyaan bahwa ada kebahagiaan dalam keluarga poligami?

Daan Dini
Latest posts by Daan Dini (see all)
5 1 vote
Article Rating

Daan Dini

Mantan redaktur pelaksana Swara Rahima, founder Aminhayati Educares dan dosen di STAI Haji Agus Salim.

dini khairunida
Subscribe
Notify of
2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
6 months ago

Aku si gak akan poligami tapi aku setuju dengan poligami
Gak ubahnya aku bertato tapi aku melarang teman aku buat bertato
Paradoks

admin
Admin
6 months ago

Woow menarik itu. kira2 apa tuh alasannya?

2
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x