Saat Buah Hati Suka Membawa Pulang Barang Orang lain

Ilustrasi: freepik.com

“Kak, ini pensil mainan siapa? Kenapa dibawa pulang?”

“Punya Dita Bun, tadi ada di kelas, Kaka suka sama pensil mainannya, jadi Kaka bawa aja!

Bunda, pernah tidak mendapati buah hati tercinta melakukan hal yang sama seperti pecakapan di atas? Saya yakini, fase semacam ini hampir semua orang tua pernah mengalaminya. Kebiasaan buah hati yang sering membawa pulang barang orang lain ke rumah ini jangan dianggap sepele, ternyata perlu mendapatkan perhatian yang serius loch! Jika tidak, maka akan menjadi pembiasaan buruk yang melekat hingga dewasa dan menghambat Buah hati kita untuk bersosialisasi dengan baik di lingkungannya.

Memang, banyak orang tua baru menyadari anaknya sering membawa barang milik orang lain ke rumah, saat rumah mereka begitu sesak dengan banyaknya barang. Di antara barang-barang itu ternyata ada barang-barang yang tak pernah dilihat sebelumnya. Ayah dan Bunda tak merasa membelikannya untuk mereka. Lalu barang-barang siapa itu? Jangan jangan…

Eits.. sabar ya Ayah dan Bunda.. jangan cepat langsung memarahahinya. Namun cobalah segera tanyakan kepadanya mengapa barang-barang tersebut dibawa ke rumah. Tanyakan kepadanya, barang tersebut milik siapa? Apakah Ia meminjamnya dari temannya, atau Ia mengambilnya dengan paksa, atau justru ia membawanya tanpa sepengetahuan si pemiliknya?

Hal ini perlu diketahui Ayah dan Bunda, sebab bila kebiasaan membawa barang orang lain, terlebih tanpa sepengetahuan pemiliknya, ini dibiarkan berlangsung secara terus menerus, maka buah hati kita pun tanpa Ia sadari akan terus menerus melakukan kesalahan tersebut yang akan menjadi kebiasaan buruk yang dibawanya hingga dewasa, bahkan membuat Ia tidak merasa berdosa melakukannya.

Lalu, apa yang harus dilakukan untuk menghadapinya? Mungkin tips di bawah ini bisa Ayah dan bunda lakukan.

1. Cobalah Cari Tahu Alasan Buah hati Melakukannya

Ayah dan Bunda, tanyakan terlebih dahulu itu barang milik siapa, seraya menanyakan kepadanya mengapa Ia membawa barang milik orang lain tersebut ke rumah. Ada beberapa alasan mengapa mereka melakukannya; Alasan pertama bisa karena barang tersebut diberikan kepadanya sebagai hadiah. Menghadapi hal tersebut, tentunya Ayah dan Bunda harus croscek apakah benar apa yang dikatakan buah hati Anda kepada yang bersangkutan seraya mengucapkan terimakasih.

Alasan lain yang sering muncul adalah karena ingin mendapatkan perhatian dari orang tuanya, mereka ternyata benar-benar menginginkan barang tersebut sejak lama, sehingga ia membawa milik temannya tersebut. Apabila Buah hati melakukannya karena alasan ini, maka Ayah dan Bunda harus mampu mengajak buah hati terbuka untuk mengatakan bahwa ia menginginkan barang tersebut dari orang tua mereka. Inilah kesempatan Ayah dan Bunda untuk memotivasi sang buah hati, misalnya “Bila Kaka ingin barang seperti milik teman kaka ini, maka kaka harus belajar yang rajin dulu.”

Selain itu, ada banyak alasan lain yang bisa didapat mengapa sang buah hati selalu membawa barang orang lain, apakah karena mereka memang suka akan barang tersebut, dan merasa apa yang dimiliki temannya adalah miliknya juga, atau karena ada alasan lain yang Ayah dan Bunda tidak bisa ketahui dan sulit untuk membuat buah hati terbuka mengapa mereka melakukan hal tersebut. Terutama bila kebiasaan ini terus berulang dan berlangsung dengan instensitas yang semakin sering sekalipun Ayah dan Bunda sudah melakukan berbagai pendekatan untuk mengurangi kebiasaannya tersebut, pada saat posisi ini, jangan ragu untuk meminta bantuan orang lain untuk mengatasinya, bisa ke Ibu Guru di Sekolah, atau bahkan Ayah dan Bunda bisa membawa mereka ke psikolog untuk konsultasi bila dirasa kebiasaannya ini sudah sulit dipecahkan. Lebih baik malu sekarang daripada buah hati kita terlanjur memiliki kebiasaan buruk hingga dewasa kelak.

2. Beritahukan tentang resiko mengambil barang milik orang lain

Semarah dan semalu apapun Ayah dan Bunda saat mengetahui buah hati sering membawa barang milik orang lain sepengetahuan pemiliknya, Ayah dan Bunda jangan dulu terburu emosi ya.. coba fahami dulu kemampuan berfikir buah hati yang masih sangat terbatas. Sebaiknya Ayah dan Bunda mengajak mereka berkomunikasi dengan bahasa yang bias diterima oleh anak, tekankan padanya bahwa mengambil barang orang lain merupakan perbuatan yang dilarang dan akan membuat orang lain sedih. Ayah dan bunda bisa dengan cara mendongeng atau mencari tontonan yang memiliki nilai kejujuran untuk memberitahu tentang perbuatan tersebut dan resiko yang mungkin Ia dapatkan.

Beritahukan kepada buah hati kita bahwa mengambil barang orang lain, terlebih bila sampai ketahuan, dia bisa dimarahi bahkan dipukuli orang-orang yang tidak suka dan kesal melihat perbuatannya. Tidak hanya itu, perbuatan ini juga akan membuat teman-temannya menjauhinya bahkan mem-bully-nya. Tekankan kepada buah hati kita bahwa mengambil barang orang lain merupakan perbuatan yang buruk, Ia bisa dicap sebagai seorang pencuri. Bahkan bisa dilaporkan ke polisi, ditangkap, dan dipenjara.

3. Temani Buah Hati Meminta Ma’af dan Mengembalikan Barang yang diambilnya.

Mintalah buah hati untuk meminta ma’af dan mengembalikan barang yang diambilnya tersebut kepada pemiliknya. Temani mereka dan hindari untuk memberikan hukuman fisik kepada mereka atas tindakan mereka tersebut. Karena bila Ayah dan Bunda menyertainya dengan memberikan hukuman fisik bisa saja efektif untuk saat itu, dan membuat Buah hati kita tidak melakukannya lagi. Tapi percayalah hal tersebut tak akan berlangsung lama. Bahkan, tanpa disadari telah menumbuhkan rasa dendam dalam diri buah hati kita yang justru membuatnya akan mengulanginya lagi sebagai bentuk perlawanan terhadap orang tuanya.

Ketika Buah hati berani untuk mengakui dan meminta maaf atas tindakannya tersebut, dan telah mengembalikan barang yang Ia ambil tersebut dan berjanji tidak akan mengulanginya, maka orang tua perlu memberikan apresiasi atas usaha yang dilakukannya tersebut karena telah bertanggung jawab dan bersikap sportif.

Wallahu a’lam

Silvia Rahmah
0 0 vote
Article Rating

Silvia Rahmah

Magister Pendidikan Quran Hadis. Berpengalaman di dalam dunia jurnalistik dan editor di sejumlah penerbit nasional. Ia juga menyukai pengasuhan anak-anak atau parenting.

Silvia Rahmah
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x