Sekali Lagi tentang Ayah

Ilustrasi: freepik.com

Sudah belasan tahun yang lalu ayah saya wafat. Namun kenangan tentangnya senantiasa ada di pelupuk mata bahkan komentar dan nasehatnya seolah masih terus terngiang di telinga.

Hari ini, saya kembali teringat akan ayah saya. Kami lahir di keluarga besar, saya anak ke 7 dari 13 bersaudara. Sebagai anak tengah, menjadi kekayaan buat saya karena saya punya 6 saudara perempuan dan 6 saudara laki laki. 

Sebagai partner dari ibu, ayah memang partner yang luar biasa. Sementara ibu saya sibuk dengan urusan domestik meski dibantu oleh asisten rumah tangga, ayah selalu mengambil peran yang tidak bisa dimainkan ibu. Salah satunya adalah kenangan disuapin makan siang bersama. Kebetulan ayah dan ibu sama-sama guru dan Alhamdulillah mereka bisa dengan mudah mengatur jadwal mengajar.

Ayah mengambil waktu mengajar pagi, maka tak heran kalau pagi ayah sudah berangkat mengajar, kami yang kecil-kecil yang belum masuk sekolah tidak akan bertemu dengan ayah, lalu akan sibuk bermain bersama, atau kadang juga membantu ibu untuk urusan rumah seperti bantu cleaning hingga mengasuh adik.

Lepas zuhur, itulah waktu yang kami tunggu. Abis zuhur ayah akan tiba ke rumah, meski tidak dengan sekeranjang oleh-oleh tetapi pasti ada hal atau apa saja yang mampu menjadi daya magnet kami untuk berebut ayah.  Dari berebut melepas kaos kakinya, meletakkan sepatunya hingga berebut melompat ke punggungnya. Sebelum ibu berangkat mengajar, biasanya meja sudah penuh dengan hidangan makan siang. Di sinilah kami akan berkontestasi. Ya, ayah akan mengambil piring penuh dengan nasi dan lauk lalu meminta kami duduk berderet dan satu persatu disuapinya kami makan siang.  Sambil bercengkrama kekhidmatan makan bersama begitu hangat meski rebutan tulang ayam.

Lepas makan siang maka kami akan digiring sholat dan tidur siang. Sementara nanti ayah akan tertidur pulas karena lelah maka kami akan satu persatu mengendap ngendap meninggalkannya untuk main kembali di pekarangan menunggu ashar dan menunggu ayah akan memanggil “pada kemana, kenapa gak tidur…?”..sambil dikejar untuk mandi kamipun sengaja terus berlari menuju bak mandi sengaja saling menyiram agar ayah sekaligus memandikan kami.

Tak jarang saya sekarang suka meleleh karena kedekatan itu serasa masih nyata, hingga suatu hari saya mendapatkan masalah, seolah ayah datang memberikan nasehat agar tetap terus berjalan karena setelah kesulitan pasti ada kemudahan.

Sekarang saya banyak beraktivitas juga di dunia parenting dan saya baru menyadari bahwa ayah saya adalah sungguh role mode yang ideal yang sering disebutkan para pakar parenting. Bagaimana tidak, ayah saya sungguh adalah teman bermain yang baik. Tiap minggu pagi ia akan mengajak kami lari pagi bersama dengan sepatu bututnya meski berbekal uang 5000 untuk traktir bubur kacang ijo bersama. Ia juga partner ibu yang sigap, dari masalah menjemur cucian hingga mengajak tidur anak anaknya. Lebih dari itu ia juga yang menjadi guru pertama kami, mengenal huruf hijaiyah dengan bermodal lekar dan juz amma di meja tamu tiap magrib. Jika kami dibully teman maka ia duluan juga yang akan maju melindungi sekaligus memmberi penguatan.

Dari cerita ini saya ingin diingatkan bahwa untuk anak yang kuat, tangguh berkarakter, tentu ada ayah yang siaga, kuat dan tangguh juga. Paling tidak ada 4 peran ayah untuk anak yang berkarakter.

1.Ayah sebagai Player

Sebagai Player, pemain. Banyak orang tua dan utamanya ayah tidak mengambil perhatian untuk menjadi teman bermain anaknya.  Ibu yang sibuk dengan segala macam kegiatan rumah tangga biasanya juga belum bisa jadi teman bermain yang baik karena pasti khawatir akan pekerjaan yang terlalaikan jika diganti waktunya untuk bermain. Sedang ayah, alih alih sudah lelah mencari uang, maka lebih senang membelikan fasilitas bermain seperti games atau hp ketimbang menemani bermain. So, mulailah luangkan waktu untuk menjadi teman bermain, family time atau playing time adalah hak anak dan buat ia bukan sekedar kewajiban buat ayah tapi juga hak bagi diri sebagai part of family.

2. Ayah sebagai Teacher

Meski ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya, tetapi sekolah tanpa guru adalah nol besar. Di situlah peran ayah yang sangat penting. Guru bagi anak-anak tidak hanya memberikan teladan tetapi juga memberikan motivasi, pengalaman hingga nasehat. Pengalaman adalah guru yang paling berharga dan dalam keluarga ayah sebagai guru adalah bagian terpenting bagi pengalaman anak anak untuk masa depannya. Bagaimana pesan edukasi, agama hingga pengalaman hidup akan menjadi bekal berharga buat anak anak.

3.Ayah sebagai Protector

Pelindung pertama adalah ayah.  Zaman sekarang banyak anak mencari perlindungan pertama justru ke teman atau yang lain karena kedekatan mereka kepada ayah tidak sedekat dengan teman. Fatalnya tidak semua teman mampu menjadi pelindung. Padahal ayah harusnya sebaik-baiknya tempat berlindung. Tragisnya lagi justru juga kadang ayahlah yang menghancurkan anaknya sendiri karena kebodohannya. Berapa banyak kasus kekerasan seksual anak perempuan pelakunya adalah ayahnya sendiri, pelaku bully, pembunuhan dll, justru ayah yang melakukan. Naudzubillah. Di sini ayah harus mampu membawa anak mengenali lingkungannya hingga mampu berkembang menjadi anak pemberani dan menjadi dirinya sendiri untuk mengekesplorasi dunia. Dengan seorang pelindung anak akan bisa tumbuh dan berkembang kepercayaan dan keberaniannya.

4.Ayah sebagai Partner

Peran menjadi partner ternyata memang tidak main-main. Saya yakin tidak semua ayah mampu menjalani peran ini terutama dikepungan budaya patriarkhi yang masih kuat yang sering membuat seorang ayah kadang ingin diperlakukan sebagai raja. Seorang ayah adalah partner ibu dalam mengasuh anak sehingga anak tidak hanya bisa bergantung kepada ibu juga bergantung kepada ayah dan menjadikannya sebagai orang tempat kembali.

Akhirnya, meski kini saya sudah menjadi orang tua, tetapi ternyata tidak pernah ada kata mantan anak, yang artinya saya tidak pernah merasa kehilangan ayah saya dan justru dialah figur yang seolah terus menuntun saya sekarang ini meski sekarang sudah sebagai orang tua, sudah dalam sekolah rumah tangga yang ujiannya datang setiap saat.[]

Daan Dini
Latest posts by Daan Dini (see all)
5 1 vote
Article Rating

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0

Daan Dini

Mantan redaktur pelaksana Swara Rahima, founder Aminhayati Educares dan dosen di STAI Haji Agus Salim.

dini khairunida
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments