Si Kurus dan Burung-burung

Ilutrasi: freepik.com

Pagi ‘tlah datang. Sinarnya menyapa semua yang terbentang. Burung-burung pun menyambut gembira riang. Burung-burung kutilang berkerumun menyantap sarapan pagi sambil bersenda gurau. Pisang uli tertancab di pagar berduri.

Pisang itu terlihat segar. Pisang jenis ini manis rasanya, digoreng atau dikukus. Jarang sekali orang makan pisang ini mentah-mentah.

Tapi bagi burung-burung itu, ia tidak butuh diapa-apakan. Mentahnya saja sudah membuat mereka senang bukan kepalang. Seperti pagi itu, mereka saling berebut memakan pisang yang diletakan di pagar besi berduri itu.

Si kurus pelakunya. Ia meletakan pisang di pagar itu.

Lelaki itu merasa iba dan ikut bersedih ketika pohon-pohon di kota mulai langka. Jangankan pohon-pohon berbuah ranum dan manis, pohon berdaun saja sudah banyak ditebang. Yang ada bangunan bersemen kokoh menjulang. Tentu ia tidak berbuah.

Si kurus itu pun bersedih. Bagaimana burung-burung bisa makan kalau pohon-pohon ditebang. Jangankan untuk mengisi perut, untuk sekedar berpijak saja tak ada ranting yang bisa dipakai.

Belum lagi ancaman orang-orang yang berusaha menjebak dan menangkap mereka. Terkadang mereka ditangkap menggunakan lem. Ah Kejam nian manusia itu. Pikir lelaki itu. Semua itu semakin membuat ia bersedih dan murung.

Ia mulai ceria kembali ketika mendengar nyanyian dan celotehan burung-burung di pagi hari. Ia teringat masa-masa kecil di kampungnya dulu yang jauhnya ratusan kilo meter dari kota metropolitan ini.

Di kampungnya, ia biasa mendengar nyanyian  dan senda gurau burung-burung di ranting pohon. Mereka terlihat ceria dan bahagia. Menyambut pagi sambil mendendangkan nyanyian merdu.

Meski demikian, di masa kecilnya, ia juga suka iseng. Bersama teman-temannya, ia membuat ketepel dari ranting pohon jambu atau pohon asem. Diikatnya karet ban bagian dalam bekas motor atau sepeda. Ia gunting ukuran kecil-kecil. Diujungnya dipasang guntingan kulit bekas sepatu atau bekas gesper. Bersama teman-temannya ia berburu burung di kebun atau kuburan. Ketika melihat burung, apa pun jenisnya, ia isi kulit di ketepel itu dengan batu kerikil dan karetnya ia tarik kencang-kencang, ssst….jeplak….batu itu pun meluncur kencang melesat menuju sasaran yg dituju. Jika kena, burung itu akan terjatuh dan klepek-klepek. “Kejam sekali aku waktu itu.” Begitu kenang lelaki itu.

Ah itu masa lalu yang sudah ia tinggalkan beberapa tahun silam.

Kini ia merasa masa lalunya datang kembali. Ketika burung-burung di depan rumahnya berkicau menghiburnya.

Tapi ia lalu bersedih lagi tiap kali memikirkan nasib burung-burung itu.

Bagaimana mereka bisa makan?

Kalau tidak ada lagi pohon-pohon yang berbuah dan rindang. Ia ingin berbuat sesuatu untuk burung-burung itu. Sebagai penebus dosa masa lalunya.

Ia pun mulai meletakan sebiji pisang uli atau barangan di pagar depan rumahnya. Kadang ia meletakan sekerat pepaya merah manis yang ia juga memakannya.

Sehari dua hari tidak ada burung yang datang menghampiri pisang atau pepaya itu. Yang datang hanya semut-semut hitam berkerumun.

Si kurus itu sedih tapi tidak patah arang. Diletakannya kembali pisang terbaik yang ia punya. Sambil berharap burung-burung itu mau datang.

Tak sia-sia usahanya. Burung-burung itu pun mulai mendekat. Meski mereka belum berani memakan. Tapi itu saja sudah membuat hati lelaki itu berbunga-bunga.

Hari berikutnya burung-burung sudah berani datang dan memakan pisang atau pepaya yang disajikan lelaki itu meskipun dengan gerak-gerik ketakutan. Takut ketahuan orang.

Berikutnya, burung-burung berdatangan bergerombol menyerbu makanan yang tersaji. Si kurus itu pun tersenyum bahagia. Bagai sang pengabdi yang diterima persembahannya.

“Lebih baik lagi kalo dibuatkan rumah-rumahan. Biar burung-burung betah dan tidak basah kalo hujan.” Kata si kumis tebal, temannya, memberi saran suatu hari.

Si kumis pun membuatkan rumah-rumahan yang indah buat burung-burung yang bertandang. Diletakannya rumah-rumahan itu di tempat biasa meletakan pisang dan pepaya.

Si kurus pun dibuai impian akan semakin banyaknya burung-burung yang datang dan memakan buah-buah sesajinya.

“Mereka pasti akan senang dan betah.” Pikir lelaki kerempeng itu.

Namun apa yang terjadi?

Setelah dipasang rumah-rumahan burung yang bagus, tak satu pun burung yang datang. Jangankan datang, mendekat ke area itu pun tak terlihat.

“Burung-burung itu gak bakalan datang. Mereka pasti mengira rumah-rumahan itu perangkap untuk mereka.”

Kata bang Oje, salah seorang tetangga si kurus itu. Tapi lelaki itu masih yakin burung-burung itu akan datang kembali.

Sehari dua hari sampai hari ketiga ditunggunya burung-burung itu. Tapi pisang, pepaya bahkan ditambah beras masih tetap utuh. Di hari keempat, rumah-rumahan burung itu ia pindahkan ke tempat lain.

Ia kembali meletakan pisang atau pepaya di tempat semula. Tanpa rumah-rumahan. Tanpa harus menunggu lama, burung-burung itu berdatangan kembali dan menikmati pisang atau pepaya yang diletakan si kurus itu.

Lelaki itu memandangnya dengan penuh kebahagiaan. Ia tak mau mengganggu pesta burung-burung itu. Mereka terlihat riang, paruhnya yang panjang menancab dengan cepat ke dalam pisang. Dalam sekejap pisang itu compang-camping tak berbentuk.

Si kurus itu pun sangat bahagia. Begitu pun burung-burung itu terlihat ceria. Mereka telah menjadi sahabat.

Ketika pagi datang. Burung-burung itu memanggil-manggil si kurus itu dengan nyanyian merdu dan indah. ***

Balekambang, 8 Mei 2020

Maman Abdurahman
Follow me
0 0 vote
Article Rating

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0

Maman Abdurahman

Magister Psikologi Islam UNIVERSITAS INDONESIA. Sarjana Agama jurusan Aqidah Filsafat IAIN (Sekarang UIN) Jakarta. Meneliti tentang keluarga dan keberagamaan. Menulis persoalan perkawinan, keluarga, cerpen dan puisi.

Maman Abdurahman
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments