Sudahkah Ayah dan Bunda Memilih Waktu yang Tepat untuk Menasehati Buah Hati?

Ilustrasi: freepik.com

“Aduh, akhir-akhir ini saya sering kewalahan menghadapi tingkah polah putera saya, Akbar (5 Tahun 10 Bulan). Si Sulung ini sangat aktif dan semakin kritis, dan sangat sering membuat saya kehabisan stok kesabaran” ungkap seorang Ibu mengeluhkan sikap buah hatinya yang sering menolak dan selalu melakukan hal yang berlawanan dengan yang diminta olehnya. Bahkan setiap keinginannya tidak boleh ditolak dan harus segera terwujud. ‘Berulangkali Saya mencoba menasehati bahkan seketika setelah kejadian, terkadang seketika itu berhasil, namun harus melalui proses drama panjang yang menguras energi, namun lebih sering terulang lagi dan seperti menjadi kebiasaan dan watak Akbar. Apa yang salah dari yang saya lakukan?”

Ilustrasi ungkapan di atas bisa sangat real terjadi pada Akbar-Akbar di sekitar kita, malahan  bisa jadi Akbar itu adalah buah hati kita sendiri. Apakah yang ada salah dengan metode yang saya lakukan selama ini? Atau apakah waktu yang saya pilih untuk menasehati, meluruskan dan mengarahkan dia kurang tepat? Sehingga menjadi tidak efektif bagi kamu berdua. Bagaimana dan kapan?

Ya bunda, pemilihan waktu yang tepat untuk menasehati anak mempunyai peran yang sangat signifikan guna mencapai hasil terbaik sesuai dengan yang diimpikan banyak orang tua. Memberikan nasehat pada waktu yang tepat bahkan mempunyai pengaruh besar tidak hanya bagi sang buah hati akan tetapi bagi kita sebagai orang tuanya, karena akan berkesan dan tepat sasaran. Oleh karena itu, sebagai orang tua, kita wajib mengetahui dan pandai memilih waktu yang tepat untuk mengajak anak bicara, mengajarinya dan menasehati mereka.

Setiap orang tua pasti mendambakan memiliki anak yang baik, sholeh dan sholehah. Namun mendidik dan memberikan teladan yang baik untuk sang buah hati tentunya tidaklah mudah, gampang-gampang susah. Ada banyak hal yang tak terduga yang menjadi penghalang dan tantangan sehingga orang tua harus menggunakan berbagai macam cara agar sang buah hati bisa patuh dan senantiasa berperilaku baik. Namun kenyataannya, hal tersebut justru membuat orang tua menghabiskan waktu dengan sia-sia dan harapan yang diinginkan justru tak tercapai, anak semakin susah diatur.

Oleh karena itulah, orang tua sangat perlu mengetahui pendekatan dan waktu yang tepat agar bisa dengan mudah menasehati tanpa membuat Anak merasa terkekang. Karena ketika orang tua mampu memilih waktu yang tepat dan mengesankan bagi anak, maka akan mempermudah orang tua menemukan jalan/solusi dan tentunya menghemat tenaga dalam proses pendidikan dan perkembangan mental sang buah hati.

Dalam hal ini, Rasulullah saw. merupakan contoh teladan yang sangat memperhatikan hal ini. Beliau sangat cermat dalam memilih dan memanfaatkan waktu dan tempat yang tepat untuk mengajari anak, baik pemikiran maupun perilakunya, sehingga mampu membangun perilaku yang lurus dan benar, terlebih saat meluruskan perilaku anak yang salah. Rasyid Dimas mengungkapkan bahwa ada tiga waktu utama yang diajarkan Rasulullah saw. ketika hendak mendidik dan mengarahkan buah hati kita, waktu-waktu tersebut adalah:

1. Saat Makan

Pada saat makan, seorang anak akan memperlihatkan watak aslinya. Seringkali mereka berperilaku buruk dan melakukan hal yang merusak tata krama. Jika orang tua tidak duduk bersama menemani mereka makan dan meluruskan kekeliruan-kekeliruan yang mereka lakukan, maka mereka akan membawa bibit-bibit kebiasaan buruk dalam kehidupannya.

Oleh karena itu, waktu makan bersama keluarga adalah momen kebahagiaan yang harus senantiasa tercipta dalam keluarga. Anak-anak akan sangat senang jika mereka makan bersama orang tua dan saudara-saudaranya. Pada saat seperti ini, suasana hati buah hati kita sedang terbuka sehingga akan tercipta guratan yang baik untuk menasehati dan mengarahkan hal-hal yang baik kepada mereka.

Pada saat makan ini pula lah sejumlah adab bisa orang tua ajarkan, misalnya tata cara makan yang baik sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah saw. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, diriwayatkan dari Umar bi Salamah ra. Mengatakan “dulu aku adalah anak kecil yang biasa berada di kamar Rasulullah saw. Ketika tanganku mau menyuapkan makanan, beliau bersabda, ‘Nak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang dekat denganmu.’”

Selain kebiasaan-kebiasaan berdoa sebelum makan, menggunakan tangan kanan, dan memakan makanan terdekat, ketika makan juga buah hati kita akan belajar adab selainnya yang sangat banyak dan berbagai ilmu yang bermanfaat untuk kehidupannya. Sehingga secara tidak langsung membangun kepribadian yang baik sedikit demi sedikit sampai ia dewasa. 

2.Saat Rekreasi atau dalam Perjalanan

Nasehat itu tidak selalu hanya dilakukan di ruangan yang terbatas saja, melainkan akan sangat baik dilakukan di ruang terbuka. Oleh karena itu, sewaktu-waktu ajaklah buah hati jalan-jalan bersama. Tidak harus selalu perjalanan jauh, berjalan-jalan di sekitar rumah dengan berjalan kaki bersama pun dapat dilakukan.

Atau orang tua mengajak sang buah hati berekreasi, mengajak bermain bersama. Rekreasi ini pun tidak mesti ke tempat-tempat yang jauh dan mahal, bermain bersama di halaman rumah dan orang tua juga ikut bermain bersama-sama anak tidak hanya sekedar mengawasi anak bermain pun bisa dikategorikan rekreasi mengajak bermain bersama.

Saat-saat rekreasi dan bermain bersama ini, orang tua bisa mengajarkan dan menasehati sang buah hati tentang banyak hal. Tentunya dengan suasana yang menyenangkan dan kata-kata yang bermanfaat, karena ucapan adalah sebuah doa.

Dalam waktu-waktu seperti ini, hati dan jiwa buah hati kita sedang terasa segar dan bahagia, sehingga kita sebagai orang tua dapat memberikan nasehat dan arahan kepada mereka yang mampu meresap dalam jiwa dan hati mereka. Saat rekreasi dan dalam perjalanan seperti ini dapat dijadikan kesempatan untuk menanamkan aqidah/tauhid dan akhlak yang baik, seperti dengan meluruskan kesalahan-kesalahan yang dilakukan anak dalam kehidupan sehari-hari mereka.  Mendidiknya agar tetap optimis dan berani dalam menghadapi kehidupan. Sehingga ia akan menjadi orang yang berguna bagi dirinya serta bagi lingkungannya.

3. Ketika Buah Hati Sakit

Saat kondisi Sakit, akan melunakkan hati orang dewasa yang keras sekalipun apalagi hati anak-anak yang memang masih penuh kelembutan. Dalam waktu sakit atau kurang sehat, segala sesuatu yang dibutuhkan seseorang terlebih seorang anak adalah curahan kasih sayang dan perhatian dari orang tua dan orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, pada saat sakit seperti ini, sebagai orang tua bisa kita bisa mulai mengambil kesempatan untuk menasehati sang buah hati dengan lembut dan bijaksana.

Karena pada saat seseorang sakit, pada hakikatnya mempunyai dua sifat besar sekaligus menjadi bekal untuk meluruskan kesalahan-kesalahan perilaku maupun pemikirannya. Sifat pertama adalah fitrah masa kanak-kanak mereka, dan kedua adalah sifat kelembutan hati  dan jiwa anak ketika  sakit.

Ayah..Bunda.. sudahkah kita menasehati buah hati kita pada waktu yang tepat dan mengesankan?

Silvia Rahmah
0 0 vote
Article Rating

Silvia Rahmah

Magister Pendidikan Quran Hadis. Berpengalaman di dalam dunia jurnalistik dan editor di sejumlah penerbit nasional. Ia juga menyukai pengasuhan anak-anak atau parenting.

Silvia Rahmah
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x