Surga yang Terbagi

Ilustrasi: freepik.com

Tiada yang membahagiakan selain berbagi. Kita bisa menikmati hidup dengan sesuatu yang kita peroleh, tapi kita hanya akan memperoleh arti kehidupan dengan sesuatu yang kita berikan. (Norman MacEwan)

Berkali aku membaca kalimat di atas. Memasukkannya ke dalam otakku untuk kemudian mencernanya dalam hati. Sudahkah hidupku berarti? Jika sudah tentulah aku bahagia tidak saja secara lahir, tapi juga secara batin.

Tapi kurasa aku belum berani untuk bahagia. Nyatanya aku masih berpikir seribu kali ketika suamiku–Mas Bram meminta izin untuk menikah lagi.

Aku masih bimbang. Untuk berbagi yang satu ini aku masih harus menghitung bintang.

Pernikahan ibarat surga. Di mana di dalamnya sang penghuni halal meneguk madu bahagia. Lantas haruskah aku rela berbagi surga dengan yang lain? Bukankah untuk mendapatkan surga itu aku telah berjuang mati-matian selayak petarung di medan laga?

Tak ada jalan mulus untuk mencapai sebuah tujuan. Demikian juga dengan perjuanganku untuk meraih cinta Mas Bram. Aku harus menaklukkan hati kedua orang tuanya yang bersikeras menolakku karena suatu sebab. Juga menyingkirkan pesaing-pesaingku.

Mendapatkan Mas Bram adalah suatu berkah. Ia lelaki impian. Mapan, soleh dan penuh kasih sayang. Ia surgaku. Imamku. Di matanya kunikmati keteduhan. Di setiap sentuh jemarinya adalah kasih lembut yang senantiasa kudamba.

Dan desah napasnya adalah asa kehidupanku.

Ah, perempuan. Sedari dulu memang selalu mengandalkan perasaan. 

Tapi aku bukan Tuhan yang dengan kemahapemurahanNya memberikan surga begitu saja tanpa pilih kasih kepada mahluk yang beriman. Aku hanya manusia biasa. Yang tak luput dari kekurangan dan kelemahan.

Sekali lagi, aku hanya seorang perempuan,. Pecundang yang kalah sebelum berperang.

Aku menolak poligami.

“Tak usah pergi. Tetaplah di sini tinggal bersamaku,” Mas Bram menahanku. Tak ada yang berubah. Sikapnya masih tetap lembut. Jika ada yang berubah kemungkinan itu adalah hatiku sendiri.

“Aku tak bisa berbagi,” ujarku tanpa berani membalas pandang matanya.

“Tak harus begitu, Zara. Karena, apapun yang terjadi, aku tetap mencintaimu,” ia berusaha merengkuhku. Hatiku bergetar. Antara cinta dan benci. Antara rindu dan geram.

“Jika kau mencintaiku, tak seharusnya kau minta sesuatu yang tak bisa kulakukan,” air mataku mulai memburai. Mas Bram terdiam.

Perlahan kutinggalkan surga itu. Dengan perasaan hancur berkeping di antara ketidakrelaanku.

Dan mulailah sejak pembicaraan itu kubangun nerakaku sendiri.

Dalam cinta, semakin sedikit kamu melihat dengan matamu, semakin banyak kamu melihat dengan hatimu.

Barangkali itulah yang kini tengah kurasakan. Aku tak bisa lagi melihat Mas Bram, atas kemauanku sendiri. Aku tak merasakan lagi sentuhan lembutnya, tatap teduhnya dan senyum manisnya di kala pagi.

Aku memilih pergi meninggalkannya dan pulang ke rumah Ibu.

Aku menatap wajahku di depan cermin. Guratan wajahku jelas terlihat. Aku tampak lebih tua dari usiaku. Mataku sembab akibat terlalu banyak menangis hingga kantung di bawah mataku menghitam.

“Zara,” Ibu menyentuh pundakku. “Kamu jangan tergesa mengambil keputusan.”

“Kita berbeda, Bu. Sangat berbeda,” aku memberanikan diri menatap Ibu.

“Tidak, Zara. Kita memiliki perasaan yang sama. Setiap perempuan di dunia ini tak ada yang rela suaminya berbagi cinta.”

“Tapi Ibu merestui Ayah menikah lagi. Dan aku tidak suka hal itu. Aku tidak mau itu terjadi pada diriku. Lebih baik kami berpisah,” mataku mulai berkaca-kaca.

“Zara, ibu menghargai keputusanmu.”

“Lalu bagaimana dengan keputusan Ibu?”

“Zara, ibu sadar banyak yang menentang sikap ibu ini. Kita hidup di tempat yang masih sulit menerima poligami. Sekalipun agama kita membolehkan dengan beberapa syarat dan ketentuan.”

“Ketentuan itu tidak berlaku bagiku, Bu. Apa kekuranganku?” suaraku bergetar.

“Zara, ketika ibu memutuskan untuk merelakan Ayahmu menikah lagi dengan perempuan lain, pertanyaan itu juga yang terlintas dalam pikiran ibu. Apa salah dan kekurangan ibu? Tapi kemudian, ketika Ayahmu menyampaikan, mengapa ia harus melakukannya, demi menghindari zina, maka hati ibu mulai belajar untuk memahami.”

Ah, aku sama sekali tidak sependapat dengan Ibu. Apa pun alasannya. Aku tetap menolak poligami.

“Zara, tahukah kamu apa itu bahagia? Bahagia adalah ketika kita bisa sangat berarti bagi orang lain. Ibu sangat mencintai Ayahmu. Ibu tak ingin melihat orang yang ibu cintai melakukan dosa tak terampunkan.”

Aku menatap Ibu melalui pantulan cermin. Ah, mengapa aku melihat cinta yang tulus tersimpan di mata tuanya?

“Zara, ibu tahu jalan pikiranmu. Ibu memang telah bertindak bodoh. Tapi semata-mata apa yang ibu lakukan bukan demi dunia.”

Ibu tersenyum. Menepuk pundakku sekali lagi.

Lalu keheningan menguasai.

Cinta layaknya angin, ia mampu menggerakkan apa saja yang ditiupnya. Juga seperti air yang bisa menghidupkan segalanya. Pun seperti bumi yang dapat menumbuhkan apa saja.

Laras memegang leher gelas di hadapannya. Sesekali ia memutar gelas itu untuk mengusir kegelisahan.

“Sudah kau pikirkan masak-masak keputusanmu?” suara Ajeng, sahabatnya, tak mampu membuatnya bicara. Laras masih sibuk berkutat dengan perasaannya sendiri.

“Kau akan menuai banyak kecaman, Laras. Karena kau telah merebut suami orang,” Ajeng menyipitkan matanya. Laras melempar pandangannya pada isi gelas yang mulai mendingin.

“Aku tidak merebutnya. Kami saling mencintai, Dan kami ingin menghalalkan cinta kami di hadapan Allah, apakah itu sebuah kesalahan fatal? Apakah kau juga akan ikut-ikutan mengecamku?” bisik Laras lirih. Ajeng menyentuh punggung tangan sahabatnya.

“Kau minta jawaban apa dariku? Jujur atau dusta?”

“Jujur.”

“Jika boleh jujur, kukatakan, ya! Aku ikut mengecam keputusanmu.”

Laras mendesah. Tetiba ia merasakan hidupnya begitu rumit sejak ia jatuh cinta pada pada Bram, lelaki yang sudah beristri itu. Tidak semua orang sepaham dengan pemikirannya. Tak juga sahabatnya sendiri.

“Jauh-jauh hari sudah kuperingatkan. Jangan menuruti perasaanmu. Cinta telah membutakanmu, Laras. Mengapa mesti terhadap Bram?”

“Yah, mengapa mesti terhadap Bram,” lirih Laras mengulangi kata-kata Ajeng.

“Masih ada waktu untuk memikirkannya kembali sebelum seluruh perempuan di dunia ini membencimu.”

Ajeng berdiri. Menatap Laras sejenak. Lalu ia meninggalkan sahabatnya itu tanpa menoleh lagi.

Azan magrib menghentikan pikiran kusutnya. Laras meneguk sedikit teh dingin yang sejak tadi dipandanginya. Kemudian diraihnya bungkusan kecil yang tergeletak di atas meja.

Langkahnya terburu menuju suatu tempat. Tekadnya sudah bulat. Ia harus berani mengambil sikap. Entah sikap itu nantinya membuat dirinya dimusuhi banyak orang atau malah akan melukai perasaannya sendiri.

Koridor panjang Rumah Sakit membuatnya terengah. Sejenak ia menghentikan langkah untuk mengamati di mana bangsal tempat Bram dirawat.

Baru saja ia hendak melangkah, seseorang menggamit pundaknya.

“Ibu,” seketika ia meraih tangan orang yang menggamitnya itu. Diciumnya dalam-dalam.

“Bagaiman kabarmu, Laras?”

Alhamdulillah, saya sehat Bu.”

“Kamu akan menjenguk Bram?”

Laras mengangguk. Ia sangat mengenali perempuan di hadapannya itu. Yang tak lain adalah Ibunya Zara.

“Boleh ibu mengantarmu ke bangsal di mana Bram dirawat, Laras?”

Tetiba Laras meragu. Ia terdiam beberapa saat.

“Atau sebaiknya kita mengobrol barang sejenak?”

Entah mengapa kali ini Laras mengangguk.

Kedua perempuan berbeda usia itu kemudian duduk di bangku panjang yang terletak di ujung koridor.

“Dalam cinta, kadang ada hati yang terluka agar kita bisa belajar arti sebuah keikhlasan. Dan untuk meraih keikhlasan itu, butuh perjuangan. Kau paham maksud ibu, kan, Nduk?”

Laras tercenung. Dipandanginya berlama-lama ujung sepatunya.

“Ibu benar. Untuk meraih keikhlasan memang butuh perjuangan.” Perempuan muda itu berdiri.

“Terima kasih, Bu. Saya permisi. Tolong jangan katakan pada Mas Bram bahwa saya nyaris datang menjenguknya. Saya tidak ingin menyakiti hati Zara. Bukankah selayaknya cinta tidak saling menyakiti?” Laras mengurai senyum.

Untuk pertama kalinya perempuan itu mengerti bagaimana semestinya berlaku bahagia.

                                                            ***

Malang, 2017

Dari Kumcer: Perempuan Oh Perempuan by Lilik Fatimah Azzahra

Lilik Fatimah Azzahra
Latest posts by Lilik Fatimah Azzahra (see all)
0 0 vote
Article Rating

Lilik Fatimah Azzahra

Peraih Award The Best in Fiction & People Choice di ajang Kompasianival 2017. Puisi dan cerpennya menjadi langganan headline di Kompasiana.

Lilik Fatimah Azzahra
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x