Yuk, Kenalkan Anak tentang Seksualitas Sejak Dini!

Ilustrasi: freepik.com

“Polisi mengungkap dua kasus pelecehan seksual terhadap anak di Bekasi. Kedua korban masih di bawah umur, secara spesifik masih duduk di bangku sekolah dasar. Kasus pertama melibatkan pelaku berinisial AR (61). AR (61) diduga telah memperkosa F, seorang siswi SD di Bintara Jaya, Bekasi dua kali dalam enam bulan terakhir. Dia tinggal di sebuah kontrakan dengan halaman cukup luas yang dijadikan lapangan parkir. Di sana, ia melancarkan aksinya pada F yang kerap bermain sore-sore bersama teman seusianya di lapangan itu…” (https://megapolitan.kompas.com 18 September 2019)

Kasus pelecehan seksual di atas mungkin hanya satu contoh yang terungkap, karena bisa jadi ada “F” “F” lain yang menjadi korban, bahkan mungkin sebenarnya terjadi di sekeliling kita, yang tanpa kita sadari mengancam buah hati kita sendiri. Sehingga maraknya kasus pelecehan seksual anak yang terjadi belakangan ini tidak lagi hanya mengancam para anak dan remaja yang sangat rentan terhadap informasi yang salah mengenai seksualitas, namun ternyata ekploitasi seksual anak di bawah umur ini juga sering terjadi dilakukan oleh orang-orang terdekat atau bahkan oleh keluarga si anak sendiri.

Artinya, kasus kekerasan seksual terhadap anak ini tidak hanya dilakukan oleh orang yang tidak kita kenal, melainkan dapat terjadi dari orang terdekat. Banyak kasus yang ditemukan tetangga mencabuli anak tetangganya, kakek mencabuli cucunya, hingga kasus yang paling miris adalah seorang ayah yang berani mencabuli anaknya. Hal ini disebabkan oleh perilaku menyimpang dari pelaku dan diperparah dengan ketidakmampuan anak melawan perlakuan mereka.

Meningkatnya kasus-kasus semacam ini merupakan bukti nyata kurangnya pengetahuan anak mengenai pendidikan seks yang seharusnya sudah mereka terima sejak tahun pertama usianya dari orang tuanya. Hal ini bisa jadi karena kurangnya pengetahuan orang tua terhadap kebutuhan anak, terutama pengetahuan seksual anak dalam menghadapi tuntutan zaman yang semakin rumit saat ini.

Persepsi masyarakat yang masih menganggap tabu berbicara tentang seksualitas juga  menjadikan banyak orang tua merasa canggung jika membicarakan masalah seks dengan anak-anak mereka. (Baca juga artikel Mendobrak Tabu: Membincang Seks dalam Keluarga) Akhirnya banyak orang tua yang apatis dan tidak berperan aktif memberikan pengetahuan tentang pendidikan seks tersebut kepada anak. Bahkan tidak sedikit orang tua yang justru menyerahkan pendidikan seks ini sepenuhnya kepada sekolah. Padahal, pendidikan seks sendiri belum diterapkan secara khusus dalam kurikulum sekolah. Bahkan ketika terjadi kasus pelecehan seksual anak pun hanya dianggap sebagai ‘kenakalan remaja’ dan orang tua cenderung menyalahkan sekolah atas perilaku anak-anak mereka yang asusila tersebut.

Pandangan masyarakat seperti ini terlalu sempit dalam memahami seks yang hanya dianggap sebagai aktivitas mesum hingga ke hal-hal yang sangat intim. Padahal makna seks, seksual, dan seksualitas sendiri memiliki pengertian yang jelas, seperti diungkap dalam Indonesia AIDS Coalition bahwa Seks adalah penamaan fungsi biologis (alat kelamin dan fungsi reproduksi) tanpa ada judgemental atau hubungannya dengan norma. Contoh: penis untuk laki-laki dan vagina untuk perempuan. Adapun Seksual merupakan aktifitas seks yang juga melibatkan organ tubuh lain baik fisik maupun non fisik, sedangkan seksualitas adalah Aspek–aspek terhadap kehidupan manusia terkait faktor biologis, sosial, politik dan budaya, terkait dengan seks dan aktifitas seksual yang mempengaruhi individu dalam masyarakat (iac.or.id), yang semua ini kemudian terangkum dalam pendidikan seks yang bertujuan memberi pengetahuan tentang seks, fungsi biologis kelamin, kehamilan, dan aktifitas seks lainnya dengan tujuan untuk menyadarkan pentingnya kesehatan reproduksi sehingga tindakan pelecehan seksual maupun penyakit menular dapat dicegah.

Oleh karena itulah, pendidikan seks merupakan hal yang sangat penting dikenalkan kepada anak-anak sejak dini, dan guru pertamanya adalah orang tua mereka. Karena perkembangan seksualitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tumbuh kembang anak dan perkembangan kedewasaan anak. Pendidikan seks seharusnya menjadi bentuk kepedulian orang tua terhadap masa depan anak dalam menjaga apa yang telah menjadi kehormatannya. Orang tua harus mendampingi tumbuh kembang anak dan mempersiapkan mereka mengenal pendidikan seks sejak dini. Tepatnya sejak kapan? Sejak Balita. (baca artikel selanjutnya tentang Tips Sederhana Mengenalkan Anak Balita tentang Seks)

Terlebih saat ini orang tua sekarang berhadapan dengan anak generasi digital. Perkembangan era digital ini pengaruhnya sangat luar biasa. Bahkan dalam sejumlah kasus, anak yang menjadi korban kekerasan seksual, pelakunya terinspirasi dari konten pornografi yang ada di medsos, internet, HP, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh dunia digital saat ini memang luar biasa. Oleh karena itu, sebagai orang tua kita harus mulai mengenalkan anak-anak mereka tentang seks dan memiliki cara ampuh nan jitu guna bersaing dengan perkembangan informasi yang maha cepat tersebar di dunia digital, sehingga mereka dapat tumbuh dengan baik dan memiliki sikap dan perilaku yang bertanggung jawab terkait kesehatan organ seksual dan proses reproduksinya, bahkandapat menjadi bekal mereka melawan arus globalisasi yang semakin transparan dalam segala hal, termasuk seksualitas, sehingga terhindar dari penyimpangan dan bahaya pelecehan seksual.

Silvia Rahmah
0 0 vote
Article Rating

Silvia Rahmah

Magister Pendidikan Quran Hadis. Berpengalaman di dalam dunia jurnalistik dan editor di sejumlah penerbit nasional. Ia juga menyukai pengasuhan anak-anak atau parenting.

Silvia Rahmah
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x