Ketika Duka dan Rasa Kehilangan Datang

Ilustrasi: freepik.com

Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang hidup bahagia bersama keluarganya. Bersama Istrinya, Siti Khadijah, ia dikaruniai putri-putri yang luar biasa, yaitu Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Kecintaan beliau kepada istri dan putri-putrinya tentu saja membuat ikatan batin yang kuat. Siti Khadijah wafat lebih dulu dari Rasul yaitu pada hari ke-11 bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah ketika ia berusia 65 tahun, saat usia Rasulullah berusia sekitar 50 tahun.

Tentu saja, rasa cinta yang dalam Nabi kepada Siti Khadijah membuat Rasulullah amat terpukul ketika menerima kenyataan bahwa istrinya harus lebih dulu meninggalkannya. Apalagi hari kematian Khadijah tidak berselang lama dari kematian paman kesayangan Nabi, Abu Thalib. Pada saat itu ummat Islam mengenalnya dengan istilah Aamul Huzni, tahun kesedihan. Bagi Rasulullah sendiri, Khadijah adalah istri yang sangat istimewa.Tidak hanya sebagai pendukung utama dakwah Islam, Khadijah juga telah mengorbankan semuanya.

Setelah menyaksikan istrinya wafat, semasa hidupnya Nabi Muhammad juga menyaksikan putri-putrinya wafat. Yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Diriwayatkan Ruqoyyah wafat ketika Nabi Muhammad masih hidup, tepatnya pada bulan Ramadhan tahun 2 H/Maret 624, ketika sedang berlangsungnya Pertempuran Badar, ia sakit, suaminya Utsman bin Affan menetap bersamanya di Madinah untuk menjaganya serta tidak ikut serta dalam pertempuran Badar atas perintah Nabi Muhammad.

Selain itu, Nabi juga menyaksikan putri ke-3nya, Ummu Kultsum yang wafat ketika beliau masih hidup. Ummu Kultsum wafat pada bulan Sya’ban tahun ke-9 H630 Masehi dan dimandikan oleh Asma binti Umays dan Shafiyyah binti Abdil Muthallib dan disaksikan pula Ummu ‘Athiyyah al-Anshariyah, Nabi Muhammad sendiri yang mensalati dan duduk di atas kuburannya sementara air matanya berlinang.

Tentu saja apa yang dialami Nabi Muhammad bisa juga kita alami. Ketika kerabat, saudara, orang tua kita meninggal pastinya yang hadir di diri kita semua adalah rasa duka dan kehilangan. Namun, seperti juga yang Nabi Muhammad contohkan bahwa ia memang bersedih namun tidak seharusnya berlarut larut dalam kesedihan. Segera ia menghibur dirinya dengan berucap ‘Segala puji bagi Allah, telah dimakamkan putri-putri dari perempuan-perempuan yang mulia’.  Allah juga menyatakan dalam Al-quran bahwa duka cita dan kehilangan adalah untuk mengasah kesabaran jiwa bukan untuk terus larut dalam kesedihan.

‘Dan sungguh Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS al-Baqarah ayat 155).

Saya jadi teringat akan ibu dan kakak saya. Beberapa tahun lalu ibu saya kehilangan suaminya, yaitu ayah saya, dan kami anak-anaknya tentu merasa sedih sama dengan dirinya. Namun kami melihat ibu nampak tegar, dia hanya berucap ‘ya, kematian cuma masalah waktu, siapa yang duluan dan siapa yang belakangan’. Sampai di situ ketegaran ibu saya mungkin karena ia memiliki kami. Rasa harus kuat menghadapi semua dengan motivasi untuk tetap kuat di hadapan anak-anaknya bisa jadi adalah modal baginya untuk tetang tegar dan sabar.

Begitupun ketika kakak pertama saya kehilangan suaminya. Kakak saya ini qodarullah tidak dikaruniai anak, jadi ketika ia kehilangan suaminya, harapannya kamilah adik adiknya yang bisa membantunya dan menghiburnya menghadapi masa-masa sendiri tanpa suami.

Tentu saja tidak semua orang mampu mengelola rasa sedih. Hati menangis namun wajah tetap tersenyum. Pasti ada masa kadang-kadang sulit untuk makan, sulit tidur atau bahkan mungkin sentimental sendirian. Inilah yang disebut “Kesedihan adalah mangkuk besar untuk dipegang. Dibutuhkan begitu banyak formasi, begitu banyak tekstur dan warna. Kita tidak pernah tahu bagaimana atau kapan ia akan menarik kepalanya dan memegang kita. Terkadang kita menangis tanpa terduga, beberapa hari kita merasa bersalah karena kita belum menangis, dan di saat-saat lain kita begitu marah atau dipenuhi kecemasan, kita tidak tahu harus berbuat apa. “Kesedihan adalah salah satu emosi yang memiliki kehidupan mereka sendiri. Itu membawa setiap perasaan di dalamnya dan kadang-kadang tidak ada cara untuk melihatnya”. Nah salah satu ajaran Islam adalah tentang ketidakkekalan — bahwa segala sesuatu yang ada akan hilang. Ketidakkekalan inilah yang menjadi acuan bahwa semua yang hidup di dunia ini pasti akan mati.

Ada beberapa hal-hal di bawah ini yang mudah-mudahan bisa menjadi acuan untuk membantu melewati masa-masa sulit seperti itu di atas :

1. Perawatan Diri

Kesedihan berlarut larut akan membuat seseorang kehilangan kesadaran dan lupa merawat diri. Di sinilah pentingnya agar kita tetap tegar dan sabar dan tetap bisa merawat diri agar kita tetap  bisa semangat menatap masa depan.

2. Menerima Keadaan

Dengan menerima bahwa kita tidak lagi memiliki kendali atas apa yang terjadi pada kita, kita menyadari bahwa apa yang dulu kita tahu tidak dapat kita ketahui lagi. Dengan demikian kita bisa lebih kuat. Hal itu membantu kita menghadapi kesulitan hidup dengan lebih berani.

3. Berikan waktu dan ruang.

Saya pernah belajar di kelas psikologi konseling bahwa perlu dua tahun untuk berduka karena kehilangan orang yang dicintai. Ada beberapa tahapan yang harus dilewati salah satunya menyadari bahwa kesedihan membutuhkan waktu dan ruang.

4. Terima bahwa ini juga akan berlalu.

Seperti yang lainnya, semua penderitaan akan berlalu, sampai suatu hari itu datang kembali. Hal terbesar tentang kematian adalah ia membantu kita tumbuh dewasa. Itu membuat kita dewasa. Itu membawa kebijaksanaan. Itu memperkuat tulang kita. Itu mengajarkan kita untuk melepaskan. Kita belajar bahwa kita dapat melewati masa-masa sulit dan dengan sedikit usaha matahari bersinar lagi. Kita bisa melepas sepatu dan menyentuh jari kaki ke pasir dan berlari di pantai, mengetahui bahwa kita berhasil melewatinya. Kebahagiaan kita tidak pernah benar-benar hilang — itu masih ada di dalam diri kita — namun, kita mengingatnya lagi. Segar, berubah, gairah melibatkan kita lagi.

5. Lakukan Kegiatan yang mampu mengalihkan kesedihan.

Banyak mandi, jus organik segar, bermeditasi di pagi hari, berolahraga, membuat jurnal, membaca buku-buku yang menginspirasi, berbicara dengan teman-teman, keluar di bawah sinar matahari, berjalan-jalan, mengakui kelemahan saya, dan belajar memelihara diri. Lakukanlah semua agar mampu memenuhi hal-hal dasar yang dibutuhkan.

6. Do’a dan teruslah mengingat bahwa kita semua akan kembali kepadaNya

Akhirnya seperti yang juga Nabi Ajarkan kepada Ummu Salamah ketika suaminya meninggal yaitu sebuah do’a ‘Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah pahala atas musibah yang menimpaku dan gantikanlah dengan yang lebih baik’. (HR Muslim).

Wallau a’alam

Daan Dini
Latest posts by Daan Dini (see all)
0 0 vote
Article Rating

Daan Dini

Mantan redaktur pelaksana Swara Rahima, founder Aminhayati Educares dan dosen di STAI Haji Agus Salim.

dini khairunida
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x