Namaku Safiye

Ilustrasi: freepik

Namaku Safiye. Lahir dengan segala kesempurnaan yang hampir semua teman ku (baik teman perempuan maupun teman laki laki) mengaguminya.

Sejak kecil tak pernah aku merasakan kesedihan meski aku tak bergelimang harta. Sejak kecil aku selalu merasa anak yang paling cantik karena ayah bundaku selalu memujiku bukan karena paras cantik yang kumiliki, tapi karena cantik akhlakku kata mereka.

Lemah lembut meski tegas, ramah dan supel juga sangat hormat pada siapapun yang lebih tua dariku dan sayang kepada siapapun yang lebih muda dariku.

Kata ayahku, Safiye adalah nama yang diberikannya kepadaku dengan beberapa alasan. Katanya sesungguhnya ejaan namaku adalah Sofia yang artinya bijaksana. Di tengah masyarakat Turki, namaku ditulis dengan ejaan Safiye yang diambil dari bahasa Arab, “Safiyya” yang juga berarti “murni” atau “suci”.

Namaku juga diambil dari salah satu nama istri nabi Muhammad yang ke-11 yaitu Shafiyah binti Huyay (Shafiya/ Shafya/ Safiyya/ Sofiya) yang lahir sekitar 610 M – dan berasal dari suku Bani Nadhir. Istri termuda kedua yang diperistri oleh Nabi Muhammad setelah Aisyah, karena ia dinikahi Rasulullah ketika ia masih berumur 17 tahun. Sofia lah istri yang paling dicemburui oleh Sayyidah Aisyah.

Ayahku menginginkan aku menjadi ilmuwan dan juga hafidzah. Bersyukur tahun ini aku lulus dari ITB juga dengan mengantongi ijazah hafizh qur’an 10 Juz. Doa ayahku dan usahanya selama ini berhasil dan aku sangat mensyukurinya.

Semua yang kudapat hari ini tidak terlepas dari do’a dan juga motivasi dari ayah dan bundaku selama ini. Bundaku adalah perempuan berhati baja yang tidak pernah lelah dan pantang mengeluh mendampingi ayah selama ini.

Sebagai anak satu satunya, bunda sangat menginginkan aku tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Menurutnya perempuan tangguh akan membawa suaminya kelak kepada kesuksesan. Sedangkan ayah, meski ia tak pernah memanjakanku dengan gelimang harta, dia selalu mencukupkan kebutuhan ku, terutama untuk pendidikan dan dia sangat ingin aku bisa lulus perguruan tinggi negeri pun menjadi penghafal alqur’an.

Sederhana alasannya bahwa dengan aku menjadi penghafal qur’an maka Allah akan sempurna menjagaku, sedangkan dia sebagai ayah tak akan mampu menjagaku karena terbatasnya sebagai manusia.

Namaku Safiye, kini aku sedang berada di beranda Rumah Sakit menunggu kabar keadaan ayah yang telah terbaring sakit sejak seminggu lalu. Dari jendela kaca kamar, aku melihat bunda menangis di samping ayah. Aku tak bisa mendekatiya karena peraturan RS yang meminta untuk hanya satu pengunjung saja yang bisa masuk ruang pasien bergantian.

Selepas bunda keluar, ia meminta aku bergantian masuk ke kamar ayah. Bunda bilang ayah hendak menyampaikan sesuatu. Bergegas aku masuk ke ruangan pasien. Masuk membuka pintu perlahan. Kupandangi tubuh ayah yang lemah terbaring. Terbayang dalam pikiranku, betapa lelah sudah badannya selama ini membanting tulang untuk mencari nafkah dan membiayai segala kebutuhanku, hingga aku mengantongi sarjana kini.

Aku dekati ayah, ku usap dahinya yang sedikit berkeringat. Ayah menatapku dan tiba tiba berlinang air mata. Aku tak mengerti mengapa ayah nampak begitu dalam pandangannya kepadaku dan begitu deras air mata mengalir dari matanya.

“Maafin ayah Safiye, Ayah bukan ayah yang bisa kamu banggakan, Ayah bukanlah orang baik, ayah penuh dosa. Ayah hanya ingin kamu tau sebelum ayah tutup usia. Ayah ingin melepas segala sesak rahasia ayah selama ini hingga ayah bisa lega untuk tidak menjadi seorang pembohong bagi anaknya sendiri”.

Aku tidak mengerti. Aku hanya ikut menangis terbawa suasana. Tapi sebelum ayah lebih banyak berkata kata lagi bunda masuk ke ruangan. Bunda mendekati ayah. Ayah memandang kami berdua dan bunda menuntun ayah mengucap syahadatain. Setelah itu aku saksikan seolah ayah terlelap tidur pulas. Lepas. Segala guratan kelelahannya sirna dari wajahnya. Aku hanya bisa menangis sambil terus berdoa mohon ampun untuk nya.

Namaku Safiye, aku diberikan nama itu agar aku menjadi perempuan tegas dan bijaksana. Akupun adalah anak yang suci. Demikian kata ayah. Hari ini orang yang memberi nama itu telah tutup usia.

Hari ini pula aku baru mengetahui segala hal tentang ayah yang tak pernah kuketahui sebelumnya sejak kecil. Ayahku ternyata pernah menjadi Gay. Menurut cerita bunda, Ayah memiliki ketertarikan fisik, seksual dan emosional terhadap lawan dan sesama jenis.

Ia bisa menikahi bunda tapi kenyataannya ia juga bisa jatuh cinta dengan sesama laki laki. Bertahun tahun di awal pernikahan ayah begitu tersiksa dan berupaya menghilangkan segala rasanya kepada sesama laki-laki.

Namun ia tak pernah bisa. Bertahun tahun pula ia jalankan terapi baik itu spiritual, psikologis maupun biologis. Bundapun sesungguhnya hampir menyerah dan ingin berpisah dari ayah. Tetapi nasehat dari pamanku yang membuatnya terus bertahan bahwa dengan terus mendampingi ayah maka di situlah ia punya peluang besar berjihad. Berjuang untuk suami yang memiliki orientasi biseksual tetapi terus mendampinginya agar tidak terus terjebak kepada kegiatan seksualitas yang melampaui batas sesuai ajaran Al qur’an.

Sebuah perjuangan yang sangat tidak mudah. Sangat sulit karena pasti juga berhadapan dengan publik yang sangat sinis kepada sosok yang memiliki orientasi biseksual, sinis kepada seorang Gay. Jelas dalam Alquran disebutkan bahwa mereka yang punya orientasi biseksual, apabila terus melakukan aktivitas homoseksualitasnya termasuk sebagai orang yang melampaui batas.

Namaku Safiye, nama yang berarti bijaksana dan suci. Entah apa yang aku rasakan saat ini. Ayah ternyata benar benar menginginkan aku menjadi pribadi yang bijak, dan ayah memang ingin mengatakan bahwa aku adalah anak yang suci, tidak seperti dirinya yang penuh noda dan dosa.

Aku harus bijaksana meski aku mengetahui bahwa aku adalah anak dari seorang gay. Aku seorang penghafal quran dengan seorang ayah Gay. Tak ada yang bisa kuucapkan saat ini selain do’aku sebagai anak sholehah, sebagai anak yang penghafal quran yang semoga doanya dikabulkan Allah.

Do’a seorang anak untuk ayahnya, untuk orang tuanya agar diampuni dosa dosanya dan dilapangkan kuburnya.

Dari sejarahnya, menurut Bunda, ayah memiliki orientasi biseksual karena beberapa sebab. Kenyataannya secara hormonal ia merasakan begitu saja bahwa ia bisa tertarik terhadap perempuan juga tertarik kepada laki laki. Meski ia berjuang untuk tidak menyukai laki-laki tetapi ia merasakan bahwa ia terberi begitu saja.

Bahkan cerita bunda, Ayah ingin bunuh diri saja mendapati dirinya terjebak di dua rasa itu. Iapun pernah mengatakan bahwa dulu ketika di sekolah pernah menjadi objek dari predator hingga ia merasa bahwa hidupnya terlalu kotor. Ia telah ternoda hingga ia juga terjebak di dunia komunitas gay.

Namaku Safiye, aku adalah perempuan dan anak yang bijaksana. Saat ini aku harus tetap bijaksana meski mengetahui bahwa ayahku ternyata seorang Gay. Ia telah berusaha menjadi ayah yang baik, suami yang baik dan menjadi manusia yang baik.

Takdirnya terlahir dengan kelebihan bisa tertarik kepada sesama jenis dan lawan jenis. Ia telah berusaha keluar dari jebakan rasa dengan berbagai cara, sholat malam tiap malam, wudhu 2 jam sekali, puasa daud dan membatasi diri dengan terus sibuk bekerja siang malam untuk menafkahi keluarga. Mencari uang untuk membiayai aku, anaknya, untuk bisa lulus menjadi sarjana dan juga penghafal Al qur’an.

Namaku Safiye, aku hanya bisa berdo’a dan berdo’a kepada Sang Maha bijaksana bahwa IA lah yang memberi garis hidup ayahku sebagai seorang hetero dan juga sebagai homo. Hanya kepada Nya lah aku kini berdo’a dan berharap bahwa kelak tetap aku dikumpulkan bersama ayah dan bunda di surga karena kasih sayangNya tanpa perlu menghukumi kami karena dosa dosa dan ketidakmampuan kami sebagai hamba yang penuh khilaf dan dosa.

Namaku Safiye, aku perempuan bijaksana dan suci anak dari seorang gay. (daandeka)

Daan Dini
Latest posts by Daan Dini (see all)
4.5 2 votes
Article Rating

Daan Dini

Mantan redaktur pelaksana Swara Rahima, founder Aminhayati Educares dan dosen di STAI Haji Agus Salim.

dini khairunida
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x